Balada Emperan Pustaka, Gerakan Literasi 'Ngemper' Ala Pemuda Jatibarang

Sudirman Wamad - detikNews
Sabtu, 19 Des 2020 10:11 WIB
Pegiat Literasi di Cirebon
Balada Emperan Pustaka juga memiliki kegiatan rutin 40 harian. Kegiatan ini mengundang sejumlah pegiat literasi, seni dan budaya yang dibalut dengan acara diskusi dan pentas seni. (Foto: dok. Balada Emperan Pustaka)
Cirebon -

Pemuda Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memiliki cara tersendiri dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Tikar dan buku menjadi senjata pemuda Jatibarang.

Mereka berhimpun dan membentuk Balada Emperan Pustaka. Gerakan literasi ini getol berkeliling sejumlah tempat di Jatibarang, Kabupaten Indramayu, untuk menggelar lapak baca buku gratis. Sudut-sudut di Jatibarang dan sekitarnya sudah dijajaki komunitas ini.

Muhammad Machfudh (28), selaku pendiri, menceritakan perjuangannya mendirikan Balada Emperan Pustaka. Minimnya minat membaca dan di tengah perkembangan teknologi saat ini, lebih banyak anak-anak yang memilih gawai dibandingkan buku. Gawai mampu menarik minat anak-anak karena menawarkan banyak permainan dan hiburan. Kondisi demikian membuat Muhammad Machfudh mendirikan gerakan literasi.

Pria yang akrab disapa Afud ini berusaha masuk ke ruang bermain anak-anak dengan menawarkan buku bacaan. Selain konsep membaca, menulis dan berhitung (calistung), Afud juga menyediakan buku mewarnai. Tujuannya untuk menarik perhatian anak-anak.

"Kita buka lapak bacaan di tempat-tempat bermain, ruang terbuka hijau, taman, alun-alun dan lainnya. Ada saja yang merapat," kata Afud saat berbincang dengan detikcom di sekretariat Balada Pustaka Emperan, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (19/12/2020).

Pegiat Literasi di CirebonGerakan literasi ini getol berkeliling sejumlah tempat di Jatibarang, Kabupaten Indramayu, untuk menggelar lapak baca buku gratis. (Foto: dok. Balada Emperan Pustaka)

Sudah empat tahun lebih Balada Emperan Pustaka berjuang meningkatkan minat baca. Komunitas ini memiliki lebih dari 300 buku bacaan. Mayoritas buku anak-anak. Sisanya, ada buku tentang sosial, budaya, agama, pendidikan, novel dan lainnya.

"2016 kita berdiri. Prihatin dengan minat baca yang rendah. Ya awalnya kita gelar tikar saja sama buku-buku. Dari situ kita namakan Balada Pustaka Emperan," kata pria lulusan Universitas Terbuka itu.