Waspada Luapan Sungai, Warga Bandung Manfaatkan Pengeras Suara Masjid

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2020 13:15 WIB
Tiga tanggul di aliran Sungai Cicadas Baru, Kota Bandung jebol. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung kini membangun tanggul sementara.
Ilustrasi sungai di Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung -

Luapan Sungai Citepus dan anak sungainya kerap membuat warga Citepus, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung khawatir. Terlebih saat musim penghujan. Air tak hanya masuk ke dalam rumah warga di kawasan padat penduduk itu, tetapi juga menghantui warga dengan potensi bencana longsor di sekitaran bantaran sungai.

"Kalau air lagi tinggi, yang terdampak bisa sekitar 100 rumah. Rata-rata 100 rumah dari tiga RT yaitu RT 2,4 dan 5. Belum di RW yang lainnya, di RW 7. Air kadang melimpas masuk ke rumah dan menggenangi areal pemakaman," ujar Ketua RW 5 Kelurahan Pajajaran Untung Mulyono saat ditemui detikcom, Sabtu (24/10/2020).

Bencana terakhir, terjadi pada Jumat (23/10). Kala itu kamar mandi dan dapur kontrakan milik Asep Juhanda ambruk karena tanah penahannya tergerus aliran Sungai Cilimus (anak Sungai Citepus). Pascakejadian itu, 23 jiwa diungsikan karena dikhawatirkan terjadinya longsor susulan.

Untung mengatakan, sejauh ini belum ada korban jiwa akibat luapan Sungai Citepus di Kelurahan Pajajaran. Namun, frekuensi bencana rumah yang longsor di kawasan penduduk ini terus meningkat. Dalam lima bulan terakhir terjadi lima kejadian.

"Istilah orang Bandung itu memang banjirnya cileuncang ya, atau air yang hanya lewat saja. Dalam satu atau dua jam surut kembali, tapi dampaknya itu barang-barang elektronik di rumah rusak. Karena kadang kita tak sempat berbenah, enggak sempat mengungsikan barang-barang sehingga terendam," tutur Untung.

Untuk memberitahu peringatan dini akan luapan sungai, warga biasanya memanfaatkan pengeras suara di masjid agar warga bersiaga. "Warga segera waspada, karena banjir. Air mulai naik," tiru Untung.

Pengumuman via pengeras suara itu dilakukan dari beberapa masjid, biasanya yang membuat pengumuman berasal dari pengurus masjid atau pun pengurus RT setempat. "Kalau air meninggi ada warning seperti itu. Karena memang sejak 10 tahun terakhir ya, di sini jadi sering banjir seiring dengan beralihnya lahan dari yang dulu kebun tempat resapan, sekarang menjadi perumahan baru," ucap Untung.

La Nina Merambah ke Bandung

Pemerintah Kota Bandung terus melakukan langkah antisipasi demi mencegah dampak buruk terjadinya bencana alam. Apalagi saat ini telah memasuki musim hujan.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota Bandung Yana Mulyana menyatakan Kota Bandung memiliki sejumlah potensi bencana yang harus diwaspadai. Seperti banjir, longsor hingga pohon tumbang bisa terjadi kapan saja.

"Diprediksi oleh BMKG cuaca seperti saat ini bisa berlangsung sampai Maret 2021. Sehingga Kota Bandung sebagai daerah cekungan tentunya harus mewaspadai beberapa hal yang kemungkinan bisa terjadi seperti longsor, banjir termasuk pohon tumbang," kata Yana kepada Wartawan, Jumat (23/10).

Dalam apel itu, seluruh elemen terlibat dari mulai TNI, Polri, dinas terkait hingga elemen masyarakat. Kolaborasi ini, kata dia, penting karena pemerintah tidak bisa mengatasi ancaman bencana sendiri.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat melaporkan saat ini anomali iklim La Nina baru merambah di wilayah selatan Jawa Barat, seperti wilayah Garut, Sukabumi, Bogor, Tasikmalaya dan Pangandaran.

Fenomena alam yang terjadi secara periodik dua sampai tujuh tahun ini diprediksi akan mulai bergeser ke wilayah tengah Jawa Barat seperti Ciamis, Bandung dan mulai merambah ke Jabar bagian utara pada Desember mendatang. "Januari-Februari bisa merata ke seluruh wilayah di Jawa Barat," ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Jabar Dani Ramdan saat ditemui, Selasa (20/10).

Dani mengatakan, ada beberapa langkah yang tengah dilakukan BPBD untuk meminimalisasi dampak bencana hidrometerologi yang dipicu oleh tingginya curah hujan yang tinggi. "Kami sedang meningkatkan kesiapsiagaan dengan seluruh BPBD di kabupaten/kota, dan ada juga rapat koordinasi di tingkat provinsi dan kota/kabupaten dengan melibatkan Dinas PU, Dinkes, Dinsos, dan unsur relawan untuk merumuskan rencana kontigensi dan rencana aksi," tutur Dani.

(yum/bbn)