Ini Daerah Rawan Bencana Alam di Jabar Versi BMKG

Siti Fatimah - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 14:59 WIB
Tim pemadam kebakaran dan sianga bencana. Agung Pambudhy/ilustrasi/Detikcom.
Ilustrasi bencana (Foto: agung pambudhy)
Bandung -

BPBD Jawa Barat mencatat angka kejadian bencana di Jawa Barat relatif tinggi, dalam setahun angka kebencanaan berjumlah 1.500-2.000 kasus. Bila dibagi dalam setahun atau 365 hari, rata-rata kejadian kasus bencana di Jabar berjumlah 2 sampai 3 kasus per hari.

Prakirawan Cuaca BMKG Bandung Yan Firdaus Permadhi mengatakan, beberapa daerah di Jabar memiliki potensi bencana banjir dan longsor menjelang perubahan cuaca ke musim hujan. Sementara itu puncak musim hujan di Jawa Barat diprediksi terjadi pada Januari-Februari 2021.

"Sejauh ini untuk wilayah Jawa Barat, yang paling rentan terkena bencana hidrometeorologi (akibat fenomena La Nina) adalah daerah Jabodetabek juga wilayah yang terlewati oleh DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum memiliki kerentanan yang tinggi," kata Yan kepada wartawan, Kamis (15/10/2020).

Lebih lanjut, beberapa daerah seperti Bogor Barat dan Timur, Sukabumi Utara, dan Cianjur Utara secara alami memiliki curah hujan lebih tinggi dari daerah lain di Jawa Barat. Sehingga, kata dia, berpotensi alami kenaikan curah hujan dampak La Nina dan IOD negatif yang bisa mencapai lebih dari 150 milimiter.

Dia mengatakan, wilayah Indramayu, Subang, dan Cirebon juga menjadi daerah yang rentan terkena bencana banjir rob dan angin kencang. "Namun tidak berarti daerah lainya tidak rentan, masyarakat Jawa Barat pada umumnya harus selalu waspada terhadap bencana alam terutama dalam menghadapi musim hujan ini," ujarnya.

Kejadian bencana banjir bandang dan longsor di Tasikmalaya dan Garut menimbulkan kekhawatiran masyarakat yang tinggal di daerah dengan potensi bencana tinggi. Dalam hal ini BMKG mendorong agar pemerintah segera bersiap melakukan mitigasi.

"Perlunya kewaspadaan dan penyiapan secara lebih dini dan optimal untuk upaya mitigasi oleh para pemangku kepentingan dan Pemerintah Daerah yang wilayahnya diprakirakan akan mengalami musim hujan lebih maju atau lebih basah. Mitigasi tersebut dengan melakukan pengelolaan tata air yang terintegrasi dari hulu hingga hilir," ujarnya.

Kemudian, masyarakat juga diharapkan dapat lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim hujan. "Seperti menjaga kesehatan dan lingkungan tempat tinggal masing-masing sehingga mengurangi tingkat kerawanan bencana hidrometeorologis," kata Yan.

Dia mengatakan, masyarakat juga penting untuk tidak panik dan mencari informasi peringatan dini cuaca. "Jangan panik dan mudah termakan berita hoax dengan selalu memantau informasi yang dikeluarkan oleh BMKG terutama terkait dengan peringatan dini cuaca dan tinggi gelombang," pungkasnya.

(mud/mud)