Puncak La Nina Terjadi Akhir Tahun, 12 Daerah di Jabar Rawan Banjir dan Longsor

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 13 Okt 2020 18:58 WIB
Ratusan rumah di Tasikmalaya terendam banjir hampir satu meter
Banjir di Tasikmalaya rendam ratusan rumah/Foto: Deden Rahadian
Bandung -

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan anomali iklim La Nina mencapai puncaknya pada Desember. Bersamaan dengan itu, puncak musim hujan di Indonesia juga diprediksi terjadi pada Januari dan Februari 2021.

Menangkap sinyal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat akan memberikan atensi lebih kepada sejumlah daerah yang rawan terjadi pergerakan tanah dan banjir. Pasalnya, dengan adanya La Nina potensi kebencanaan akan lebih tinggi dengan meningkatnya intensitas hujan.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jabar Dani Ramdan mengatakan, kesiapan logistik dan mitigasi bencana disiapkan untuk menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. "Semoga dengan kewaspadaan yang meningkat ini, sisi dampak bisa kita kurangi karena kan sebenarnya dampak dari suatu bencana itu bukan hanya potensi, tetapi yang paling penting adalah kesiapan menghadapi bencana," ujar Dani saat dihubungi wartawan, Selasa (13/10/2020).

BPBD pun mewaspadai 12 daerah yang rawan bencana hidrometerologi seperti Sukabumi, Bogor, Cianjur selatan, Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Pangandaran, Karawang, Subang, Bekasi kemudian wilayah Bandung Raya, seperti Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung dan Kota Bandung.

"Kalau logistik sudah kita rutin ya dalam setahun itu dua sampai tiga kali kita perkuat kota kabupaten. Kemarin menjelang kekeringan kemudian menjelang musim hujan kita dorong. Jadi logistik kita itu provinsi 80% nya ada di kota kabupaten di 27 didistribusikan. Nah 20% mana ada kabupaten yang ternyata habis, kita berikan dukungan lagi ke sana," ujarnya.

Pemprov Jabar pun membuat konsep provinsi berbudaya tangguh bencana atau West Java Resilience Culture Province (JRCP). "Blue print ini untuk menjawab kondisi kebencanaan Jabar yang memang sedemikian rupa di utara, selatan dan di tengah. Artinya sebenarnya prinsip dari JRCP itu tanggu bencana, yang pertama masyarakat yang memahami, mengetahui dan menyadari risiko bencana," kata Dani.

(yum/ern)