Dinkes Sumedang Ungkap Ada 610 Warga Terjangkit TBC

Muhamad Rizal - detikNews
Rabu, 09 Sep 2020 18:19 WIB
Ilustrasi pasien di rumah sakit
Foto:Ilustrasi (iStock).
Sumedangs -

Dinas Kesehatan Sumedang mencatat dari Januari hingga Juni 2020 ada sebanyak 610 warga terjangkit penyakit Tuberculosis (TBC) dengan kategori TB Resisten Obat (TBRO) dan TB Sensitif Obat (TBSO). Dinkes mewaspadai penyebaran penyakit TBC karena hingga triwulan kedua tahun 2020 sudah ditemukan ratusan kasus penyakit menular tersebut.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Dinkes Kabupaten Sumedang Aep Dadang Hamdan mengatakan data kasus TBC itu berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap orang yang suspect atau diduga mengidap TBC.

"Terduga pengidap TBC itu diperiksa di Puskesmas melalui pemeriksaan dahak dengan cara dilihat gejala awal, apakah positif atau tidak," kata Dadang saat ditemui di kantor Dinas Kesehatan Sumedang, Jalan Kutamaya, Rabu (9/9/2020).

Dadang mengungkapkan biasanya pasien yang positif terjangkit TBC itu memiliki gejala seperti batuk dan demam yang berkepanjangan dengan kurun waktu dari dua pekan.
"Cara lain kalau tidak diperiksa dahak, biasanya dilakukan pemeriksaan melalui rontgen," katanya.

Pihaknya sudah melakukan penanganan dengan memberikan obat kepada para penderita TBC secara terus menerus dengan kurun waktu 6 sampai 9 bulan tergantung tingkat penyakit yang dideritanya.

"Pengobatan biasanya tergantung kategorinya. Jadi, kalau kategori satu biasanya 6 bulan, kategori dua selama 9 bulan tergantung hasil pemeriksaan," katanya.

Guna mencegah penularan penyakit TBC, saat ini pihaknya terus melakukan screening sejak Juli 2020 hingga saat ini. Namun belum semua terdata.

Selai itu, saat ini pihaknya juga terus melakukan case finding atau penemuan kasus penyakit dengan cara melakukan penulusuran melalui setiap Puskesmas.

"Upaya case finding sebanyak-banyaknya bisa memutus mata rantai TBC karena kalau kasusnya sudah ditemukan langsung diobati hingga tuntas," ucap Dadang.

Dengan cara seperti itu, kata Aep, penularan penyakit TBC bisa diminimalisir. Hanya saja, jika case finding terus dilakukan, konsekuensinya jumlah kasus juga akan makin bertambah.

"Tapi upaya itu efektif untuk memutus mata rantai TBC, karena tidak ada lagi yang akan menularkan. Tapi dengan case finding bukan tidak mungkin juga angkanya akan bertambah," ucapnya.

Menurutnya, jika melihat data pada tahun 2019 dan tahun 2020, tren kasusnya terlihat menurun. Namun, dengan case finding tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah.

"Karena sekarang kan belum sampai ke akhir tahun. Jadi kemungkinannya bisa turun bisa naik, tergantung penemuan kasusnya," ujarnya.

(mso/mso)