Jabar Sepekan: Markas PDIP Dibom Molotov dan 40 Pegawai Gedung Sate Positif Corona

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 01 Agu 2020 10:04 WIB
Rumah pengurus DPC PDIP Kabupaten Bogor dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal. Garis polisi pun dipasang di area rumah tersebut.
Rumah pengurus DPC PDIP Kabupaten Bogor dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal. Garis polisi pun dipasang di area rumah tersebut. (Foto: M Solihin/detikcom)
Bandung -

Uji klinis vaksin COVID-19 dari perusahaan asal Tiongkok, Sinovac akan diujicoba pada awal Agustus ini. Topik ini hangat diperbincangkan karena uji klinis vaksin ini diizinkan oleh Komite Etik Unpad dan kini tengah masa perekrutan.

Pada pekan ini, dua markas PAC PDI Perjuangan (PDIP) di Bogor dilempari bom molotov orang tak dikenal. Saat ini polisi masih memburu pelaku.

Sementara itu, di akhir pekan ini berita cukup mengejutkan datang dari Gedung Sate. Pusat pengendalian COVID-19 di Jabar itu diserang virus Corona, alhasil 40 pegawai dinyatakan terkonfirmasi COVID-19.

Apa saja berita populer di Jabar pekan ini? Berikut ulasannya:

Efek Samping Vaksin Sinovac

Uji klinis fase tiga Vaksin Corona buatan Sinovac, China akan segera dilaksanakan pada awal Agustus mendatang di enam lokasi di Bandung. Sama seperti vaksin lainnya, vaksin ini memiliki efek samping pada kondisi tubuh manusia.

Tim Peneliti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Kusnandi Rusmil mengatakan, dalam pemberian vaksin kemungkinan terdapat dua efek samping di antaranya efek lokal dan sistemik.

"Efek sampingnya dua, reaksi lokal dan sistemik. Reaksi lokal di tempat suntikan ada merah, bengkak, nyeri dalam 48 jam sudah hilang lagi," kata Kusnandi di Balai Kota Bandung, Senin (27/7/2020).

Lebih lanjut, efek samping lokal ini biasanya terjadi sebanyak 30 persen dari jumlah subjek penelitian (relawan). Dia mengatakan, efek samping lainnya yaitu sistemik di mana kondisi relawan mengalami demam di 30 menit pertama pemberian vaksin.

Jika dalam 30 menit pertama ditemukan relawan atau subjek yang mengalami efek samping maka akan dilakukan tindakan penanganan oleh pengawas dan dokter terkait. Dia mengatakan, reaksi tersebut akan terjadi jika relawan memiliki alergi tertentu.

"Penting 30 menit pertama kita lihat ada tidak yang lemas, itu yang harus dijaga pertama, orang itu tidak boleh pulang dan dijaga betul oleh dokter. Nah kita belum tau ada yang reaksi alergi atau tidak. Tapi apapun reaksi suntikan vaksin akan begitu alergi ada, juga yang tidak," jelasnya.

Manajer Lapangan Uji Klinis Vaksin COVID-19 Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Eddy Fadlyana menambahkan, efek samping pemberian vaksin relatif lebih rendah dengan persentase efek lokal sebanyak 30 persen dan efek sistemik kurang dari 5 persen.

"Pada efek sistemik seperti demam ringan yang hanya dalam dua hari saja sudah sembuh. Kemudian ada sakit diare yang tidak ada hubungan dengan imunisasi. Jadi risikonya kemungkinan ada nyeri lokal dan sistemik," kata Eddy.

Persentase tersebut terjadi pada penelitian fase satu vaksin Sinovac. "Dari penelitian fase 1, 30 persen efek lokal dan 3 persen sistemik," ujarnya.

Meskipun relawan mengalami efek samping, pihaknya akan melakukan penanganan sebagaimana mestinya. Relawan akan mendapat asuransi kesehatan selama masa uji klinis, terutama jika terjadi keluhan setelah penyuntikan vaksin Sinovac.

"Masa mengikuti penanganan ini relawan akan terlindungi. Misalnya selama periode sempat sakit demam tifoid atau sakit apa, sampai periode subjek selesai, satu subjek waktu enam bulan relawan tersebut akan mendapatkan asuransi kesehatan," ujar Eddy.

Tonton video 'Kronologi Pelemparan Bom Molotov di Rumah Pengurus-Markas PDIP Bogor':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4