Sejumlah layanan klinik dan rumah sakit di Kota Sukabumi mematok biaya rapid test dengan harga bervariatif, bahkan dengan paket tertentu. Sekadar diketahui, tarif rapid test sesuai Surat Edaran (SE) Kementerian Kesehatan yaitu Rp 150 ribu.
Di RSUD Al-Mulk misalnya, mereka mematok tarif Rp 150 ribu untuk pemeriksaan rapid test saja dengan hasil reaktif dan non-reaktif. Harga itu akan bertambah lagi ketika ada surat keterangan dan pemeriksaan dari dokter.
"Kalau rapid test saja mengikuti SE dari Kemenkes, Rp 150 ribu. Untuk harga sebesar itu hanya rapid test saja, nanti ada paketnya juga untuk mandiri hanya rapid test-nya saja. Kemudian ada plus surat pengantar perjalanan pemeriksaan dokter, 200 ribu," kata Lisna Agustia, Humas RSUD Al-Mulk saat dihubungi detikcom Selasa (14/7/2020).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk paling tinggi, RS milik Pemkot Sukabumi itu mematok tarif Rp 360 ribu karena plus dengan pemeriksaan laboratorium lainnya.
"Ada yang plus surat keterangan sehat 210 ribu, kemudian yang paling lengkap karena ada MCU sederhananya ada radiologi, kimia klinik, harga nya kalau enggak salah Rp 360 ribu," ucap Lisna.
Menurut dia, harga sebelum keluarnya SE untuk pemeriksaan dasar sebesar Rp 300 ribu. Setelah menerima SE Kemenkes, harga kemudian berubah jauh lebih terjangkau. Harga itu menyesuaikan dengan harga yang dikeluarkan oleh penyedia alat rapid.
"Sebelum ada edaran harga distributornya tinggi, setelah ada SE baru (harganya) turun. Sebetulnya SE mengenai batasan tarif tertinggi untuk pemeriksaan rapid test saya share ke penyedia harusnya mereka (penyedia) yang lebih dulu mengetahui hal itu , kalau kami di pasar segitu ya harganya segitu. Kami efektif per tanggal 11 Juli mengikuti SE," tutur Lisna.
Harga berbeda dipatok RS Islam Asyifa Kota Sukabumi. Mereka mematok harga hingga Rp 450 ribu untuk pemeriksaan rapid test. Sewaktu dikonfirmasi melalui nomor WhatsApp, humas RSI Asyifa belum merespons saat ditanya soal harga rapid test.
detikcom kemudian mencoba menanyakan langsung dengan menghubungi nomor rumah sakit tersebut melalui nomor extension dan diterima oleh operator.
"Rapid test ya, kurang lebih 450 (Rp 450 ribu)," kata operatornya. Saat ditanya untuk paket tersebut apa saja yang didapat, ia mengaku tidak mengetahui.
"Untuk test apa sajanya saya kurang hapal, nanti ke petugasnya langsung. Tapi nanti ada surat keterangan surat perjalanan bisanya begitu. Kalau misalnya dibutuhin surat keterangan sehatnya itu malah nambah lagi jadi Rp 470 ribu," ujarnya.
Terkait variasi tarif tersebut, Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Sukabumi Wahyu Handriana mengaku tidak bisa mengatur biaya soal rapid test, kecuali kepada rumah sakit atau klinik di bawah naungan Dinas Kesehatan.
"Kita tidak bisa mengatur berapa biaya mereka soal tarif rapid test, karena kita tidak tahu mereka punya modalnya berapa di awal (pembelian alat rapid). Tiba-tiba kemenkes mengadakan acuan Rp 150 ribu, padahal mereka misalkan sudah beli Rp 200 ribu misalkan," tutur Wahyu.
Wahyu mengatakan soal tarif rapid test itu dikembalikan kepada mekanisme pasar. "Akhirnya dikembalikan ke mekanisme pasar, siapa yang jual Rp 150 ribu, siapa yang jual Rp 200 ribu, siapa yang Rp 300 ribu, siapa yang jual Rp 400 ribu. Silahkan pasar yang memilih," tuturnya.
"Sekarang enggak mungkin misalkan salah satu klinik (menyebut nama), beli awal (alat rapid) Rp 225 ribu kan enggak mungkin dijual Rp 150 ribu rugi, pasti dia jual Rp 250 ribu atau 300, Rp 350 ribu. Tapi misalkan beli Rp 100 ribu kemudian dia jual Rp 150 ribu ya silahkan," Wahyu menambahkan.
Ia menegaskan Dinas Kesehatan tidak bisa mengintervensi soal biaya, kecuali bagi layanan di bawah kewenangan mereka. "Dinas Kesehatan tidak bisa mengintervensi masalah biaya, kecuali di bawah Dinkes. Seperti misalnya pemeriksaan laboratorium gula, kalau di Dinkes ada Perda-nya Rp 10 ribu, kalau di RS Swasta misalkan Rp 15 ribu, atau yang lain Rp 25 ribu, silahkan. Jadi Dinkes nggak bisa minta mereka menjual sekian, enggak bisa. Karena mereka juga menghitung komponen biayanya dan segala macamnya, kita enggak tahu," ujar Wahyu.