Ilustrasi: Edi Wahyono
Senin, 08 April 2024Tingkat stres yang tinggi di Jakarta menjadi salah satu pemicu timbulnya masalah kesehatan jiwa. Sepanjang 2024, penderita skizofrenia paling banyak diopname di DKI Jakarta. Dari data Dinas Kesehatan Jakarta itu tercatat, jumlahnya lebih banyak dari pasien pneumonia, diare, diabetes, hingga DBD. Tahun lalu ada 11.555 orang dengan skizofrenia (ODS) yang dirawat inap di berbagai rumah sakit umum serta 55.253 ODS yang rawat jalan.
Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang mempengaruhi bagaimana penderitanya melihat kenyataan. Ketidakseimbangan neurotransmitter atau senyawa kimia di otak, di antaranya kelebihan dopamin, membuat ODS kesulitan membedakan mana nyata dan tidak nyata. Umumnya ODS mendengar suara, bisikan, atau punya keyakinan yang keliru tentang dirinya. Apabila tidak ditangani dengan tepat dan segera, disabilitas psikososial ini dapat menurunkan fungsi-fungsi dan kualitas hidup seseorang.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Jakarta Erita Istriana mengatakan penyebab skizofrenia multifaktor dan tidak berdiri sendiri. Di antaranya faktor biologis, seperti genetik. Kemudian faktor psikologis seperti pola asuh, kepribadian, dan manajemen stres individu. Hingga faktor sosial, seperti kondisi lingkungan tempat tinggal, trauma, kedukaan, KDRT, dan bullying.
“Misalnya kehidupan dalam keluarga yang kurang harmonis, adanya trauma dalam fase kehidupan yang tidak terselesaikan dengan baik, kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat, tuntutan dalam pergaulan, kegagalan mencapai cita-cita, serta persaingan dalam dunia pendidikan dan pekerjaan,” jelas psikiater yang berpraktik di RS Mayapada Lebak Bulus dan RS Hermina Daan Mogot itu kepada detikX pada Sabtu, 6 April 2024.
Jakarta berada di peringkat sembilan kota paling bikin stres di dunia berdasarkan laporan The Least and Most Stressful Cities Index 2021. Indikator yang diukur antara lain kestabilan sosial politik, kesetaraan gender dan minoritas, kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, polusi suara, tekanan sosial, dan tekanan finansial.
Baca Juga : Tertatih dan Tumbuh Bersama Skizofrenia

Foto Ilustrasi para pekerja di Jakarta berangkat ke kantor. Beban hidup di Jakarta yang tinggi membuat warga mudah menderita stres.
Foto: Pradita Utama/detikcom
Terkait angka skizofrenia yang tinggi, Erita melihatnya dari dua sisi. Hal itu bisa berarti bertambahnya beban dan tekanan yang berkembang di masyarakat, sedangkan edukasi tentang kiat menghadapi stressor sehari-hari dan menjaga kesehatan jiwa belum optimal. Namun dapat juga dibaca sebagai meningkatnya kesadaran masyarakat untuk membawa ODS ke fasilitas kesehatan.
“Artinya ODS tidak dipasung atau diabaikan begitu saja oleh keluarga atau lingkungan sekitarnya, tapi segera diupayakan untuk mendapat perawatan dan pengobatan di rumah sakit atau puskesmas,” ujar Erita.
Studi berjudul ‘Prevalensi Skizofrenia di Jakarta Selatan’ yang terbit di Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Unsri edisi Maret 2019 mencatat proporsi skizofrenia terbesar ada di kelompok umur 26-45 tahun di Kecamatan Cilandak. Atik Ruli Winarti, sebagai penelitinya, menilai Puskesmas Cilandak menangani lebih banyak kasus skizofrenia karena program deteksi dini gangguan jiwanya lebih bagus daripada wilayah lain.
ODS harus rutin minum obat supaya gejalanya tidak muncul. Harus punya support system yang rajin mengingatkan minum obat."
Associate professor di Departemen Keperawatan Jiwa Universitas Indonesia Herni Susanti mengatakan 57 persen ODS berpotensi kambuh. Kekambuhan ini biasanya karena ketidakpatuhan minum obat. Jika gejala seperti halusinasi dan delusi kambuh, sebagian pasien bisa menjadi agresif hingga masuk IGD.
Sedangkan angka rawat jalan sewajarnya tinggi karena ODS harus rutin kontrol untuk dipantau perkembangannya dan mendapatkan obat. Apabila fase akut atau 1-3 minggu pertama dari munculnya gejala segera ditangani, pasien bisa bebas gejala dalam dua atau lima tahun. Seandainya gejala masih dapat muncul, kemungkinan untuk ia pulih dan hidup berdaya dengan skizofrenia lebih besar. Semakin telat deteksi dan penanganannya atau jika tidak rutin minum obat, pengobatan bisa terjadi seumur hidup.
Dokter Erita mengatakan ODS dan keluarganya menunda datang ke tenaga profesional karena malu, sehingga telat mendapatkan perawatan. “Lebih dari 50 persen ODS datang ke ‘orang pintar’ saat mulai mengalami gejala akibat stigma dan kurangnya pemahaman tentang penyakit ini,” ujarnya.
Hal ini dibenarkan oleh Osse Kiki, mental health program specialist di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), yang berkantor di Jalan Buluh Nomor 84, Condet, Jakarta Timur. “Masyarakat kita kental budaya mistis dan agamanya. Ada yang masih membawa ODS ke dukun, dimasukkan ke pesantren, disuruh ikut retret. Atau kalau tinggal di permukiman padat yang belum aware, bisa ada omongan, ‘Eh itu bininya gila’. Lantas merasa, kalau berobat, mengiyakan ‘gila’ dan dianggap aib. Kalau ke kiai kan asumsinya butuh dibimbing saja. Padahal waktu berjalan dan kerusakan di otak semakin berat,” terangnya.
Baca Juga : Flu Singapura Merajalela

Dua orang caregiver skizofrenia, Mira (67) dan Mahdaniar (64), membungkus kacang goreng di sekretariat KPSI. Mira sehari-hari memasak lodeh untuk warung, sedangkan Mahdaniar menemani anaknya, Budi Rinoso (34), ODS yang bekerja sebagai operator pengiriman barang.
Foto: Alya Nurbaiti/detikcom
Ia juga menyebut kasus pembunuhan anak oleh ibu di Bekasi yang, setelah diperiksa polisi, terindikasi skizofrenia. Padahal, sebelumnya, sudah ada gelagat yang diketahui suaminya, yaitu si ibu merasa mendapat bisikan harus ke Makkah dan pergi ke bandara. Menurut Kiki, hal nahas itu dapat dicegah jika keluarganya memahami indikasi gangguan jiwa. Adanya kasus pembunuhan oleh ODS, termasuk pembunuhan orang asing di Mal Central Park, Jakarta Barat, pada September 2023, menambah stigma terhadap ODS. Seakan ODS kejam, padahal itu hanya segelintir dari kasus skizofrenia yang tak tertangani.
Kiki pada 2008 didiagnosis skizoafektif (skizofrenia dengan gangguan suasana hati). Kini ia sudah sintas dan aktif di KPSI sebagai penyusun program, edukator, fasilitator, dan pembicara. Perjalanan pulih pria berusia 46 itu amat panjang, ia bisa memahami rumitnya proses pemulihan.
“Ada efek samping obat yang dialami sebagian orang, seperti mengantuk, tangan tremor, peningkatan berat badan. Itu kan bikin orang malas minum obat, meskipun obat generasi kedua, seperti risperidone, clozapine, aripiprazole, sudah lebih baik dan minim efek samping. Soal kepatuhan minum obat masih jadi topik yang sering dibahas dalam kegiatan peer support KPSI. Ada yang jenuh minum obat, ada yang baru sebulan minum obat sudah enakan jadi tidak dilanjutkan, ada yang takut ketergantungan,” jelas Kiki saat ditemui detikX di Sekretariat KPSI pada Rabu lalu.
“Padahal antipsikotik bukan narkoba,” imbuhnya. “ODS harus rutin minum obat supaya gejalanya tidak muncul. Harus punya support system yang rajin mengingatkan minum obat. Selain itu, pemilihan obat cocok-cocokan. Walaupun sama-sama ODS, tiap orang punya ciri khas dan kebutuhan masing-masing. Kalau sekali dua kali belum berhasil, jangan menyerah, harus coba terus sampai ketemu obat yang cocok.”
Menurut Kiki, kemiskinan struktural juga menambah kompleksitas proses pengobatan gangguan jiwa. “Walaupun berobat sudah ditanggung BPJS, coba dihitung, datang ke rumah sakit keluar ongkos transportasi berapa, waktu (untuk bekerja) yang terbuang berapa. Belum lagi soal ketersediaan obat. Kalau di RS tipe A, obat lengkap dan ada terus. Tapi kalau tipe B dan C, kadang kosong, itu nanti pasiennya disuruh nebus sendiri di luar. Lah, kalau harganya mahal?” jelasnya.
Selain perkara obat, ketidakcocokan psikiater juga jadi faktor penghambat. Padahal rasio psikiater di Indonesia 1:200.000 penduduk, jauh dari standar WHO, yakni satu psikiater melayani 30 ribu penduduk. Sudah begitu, masih ada lagi problem, seperti nakes yang dirasa menghakimi, penjelasannya kurang memadai, atau panjangnya antrean pasien BPJS berimbas waktu konsultasi yang minim sehingga dokter kurang dapat menggali permasalahan.
Baca Juga : Darurat Wabah Demam Berdarah
Nadezhda misalnya. Perempuan 25 tahun pengidap skizoafektif ini sudah empat kali ganti psikiater dan pindah rumah sakit dari Jakarta Barat hingga Jakarta Pusat. Baru di tempat terakhir, di RS Dr Cipto Mangunkusumo atau RSCM, yang menurutnya psikiaternya perhatian dan memberikan porsi cukup besar untuk konseling dan cognitive behavioral therapy. “Jadi nggak sekadar ngasih obat,” aku pasien BPJS ini kepada detikX.
Pemulihan Kolektif
Baik Dokter Erita, Herni, Kiki, maupun Nadezhda sepakat kunci pemulihan ODS ada pada upaya pemulihan kolektif. Erita menyebutnya pelayanan jiwa berbasis komunitas dan continuum of care. Kemenkes diharapkan dapat menyuplai obat-obatan psikofarmakologi bermutu di tingkat puskesmas. Obat adalah modalitas utama, tapi bukan satu-satunya. Pelibatan komunitas penting untuk psikoedukasi dan penciptaan kegiatan bermakna untuk ODS.
“Penting untuk memperluas dan mempercepat transfer layanan dari institusi kesehatan jiwa (RS/RSJ) ke masyarakat. ODS akan lebih cepat pulih jika berbaur di masyarakat, didukung, dipercaya, dan tidak terisolasi,” kata Erita.
Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia dalam hal ini telah menjadi contoh. Komunitas ini tak hanya rutin mengadakan kegiatan peer support untuk para ODS dan caregiver setiap bulan, tapi juga berjejaring dengan apotek dan puskesmas. Mereka juga bermitra dengan radio untuk siaran rutin informasi yang benar tentang skizofrenia, bahkan membuat unit usaha, seperti warung makan, jasa pengiriman barang atau ekspedisi, toko merchandise daring, serta toko barang bekas dan barang donasi yang mempekerjakan ODS dan caregiver.
“Bahkan Pak Bagus Utomo (ketua dan pendiri KPSI) itu membuatkan kolam ikan tilapia di halaman belakang, menanam banyak tumbuhan, supaya ada kegiatan untuk ODS yang main ke sini. Ngasih makan ikan, nyiramin tanaman. Kalau lelah, juga bisa istirahat di lantai dua. ODS itu kan mudah lelah,” tutur Kiki.
Reporter: Alya Nurbaiti
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Dieqy Hasbi Widhana