SPOTLIGHT

Flu Singapura Merajalela

Mobilisasi tinggi saat mudik Lebaran dikhawatirkan menyebabkan meluasnya penularan flu Singapura. Anak-anak menjadi yang paling rentan terkena.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 3 April 2024

Musim mudik Lebaran kian dekat, mobilisasi masyarakat yang tinggi tak terhindarkan. Terkait hal tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Dokter Siti Nadia Tarmizi mengimbau untuk menjaga kebersihan dan imun tubuh. Pasalnya, kondisi tersebut memungkinkan meningkatnya penularan flu Singapura akibat tingginya kontak antarmanusia.

“Itu (pergerakan mudik Lebaran) bisa menyebabkan lebih cepat penularan (flu Singapura). Karena salah satu yang menyebabkan menjadi kasusnya banyak itu adalah mobilisasi orang, pergerakan orang,” ungkap Siti Nadia kepada detikX.

Per 31 Maret 2024, kasus flu Singapura atau menyentuh angka 6.192. Dari data tersebut, belum tercatat adanya kematian akibat flu Singapura. Menurut Nadia, dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama (year-on-year), tak ada peningkatan signifikan kasus penularan flu Singapura. Namun ia mengakui beberapa daerah dengan angka penyebaran yang tinggi memang agak berbeda dibanding pada 2023.

“Tapi ada juga, kalau kita lihat sekarang, Kalimantan Barat itu lebih tinggi pada 2024 dibanding 2023. Tapi misalnya di Jawa Timur, Itu 2023 itu masih lebih banyak dibandingkan 2024. Jadi, kalau kita lihat sih, sebenarnya masih dalam tahap yang kurang lebih sama ya (jumlah kasusnya) dibandingkan tahun 2023,” kata Nadia melalui sambungan telepon.

Penyebaran flu Singapura di berbagai kota tersebut, kata Nadia, tidak memiliki pola tertentu. Sebab, cara penularannya melalui kontak langsung dengan pasien maupun barang yang terkena droplet.

Flu Singapura sebenarnya memiliki nama medis hand, foot, mouth disease (HFMD) atau penyakit tangan, kaki, dan mulut (PTKM). Nadia mengatakan, meski istilah populernya merupakan flu, HFMD tidak tergolong flu karena virus penyebabnya tidak masuk dalam kategori virus influenza, seperti pada kasus flu babi maupun flu burung.

Ilustrasi bintik merah di kaki bayi sebagai gejala flu Singapura.
Foto : iStockphoto

Meski dikenal dengan nama flu Singapura, penyakit ini tidak berasal dari negara Singapura. Mengutip dari laman resmi Kemenkes, HFMD ditemukan pertama kali pada 1957 di New Zealand. Namun, pada 2000 dan 2006, merebaknya kasus HFMD di Singapura hingga menyebabkan kasus kematian memunculkan sebutan ‘flu Singapura’ di kalangan masyarakat Indonesia.

HFMD disebabkan oleh virus genus Enterovirus, umumnya golongan Coxsackievirus dan Human Enterovirus 71 (HEV 71). Virus ini bisa menyebar melalui kontak kulit manusia penderita, cairan dari lesi yang terbuka, droplet ketika batuk maupun pilek, tinja, makanan, serta barang-barang yang disentuh oleh pasien. Enterovirus juga bisa bertahan di permukaan air selama beberapa jam hingga beberapa hari.

“Gejalanya itu ada demam tinggi, lebih dari 38 derajat Celsius. Kemudian yang khas itu adalah ruam merah di kaki dan tangan setelah 3 sampai 5 hari. Terus mulutnya itu melepuh, kadang-kadang seperti sariawan,” jelas Nadia.

Gejala lainnya adalah batuk, pilek, nyeri perut, hilang nafsu makan. Beberapa pasien masih bisa menularkannya meski gejala sudah hilang atau sembuh selama beberapa hari maupun beberapa minggu. “Sebelum muncul gejala, sudah pasti menular. Sesudahnya, dia juga bisa menularkan, melalui pupnya, melalui ingusnya, cairan hidung, melalui cairan rumah mulut, seperti dahak dan sebagainya,”

Meski hingga saat ini tidak ditemukan pasien yang mengalami gejala berat maupun komplikasi, penularan yang cepat dan mudah bisa menyebabkan penyebarannya kiln luas. Oleh sebab itu, Nadia mengingatkan cara mencegah penyebarannya adalah penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun sebelum makan atau setelah BAB. Tidak berbagi alat makan dengan orang lain, menutup hidung dan mulut dengan memakai masker saat batuk dan pilek, serta beristirahat di rumah ketika merasakan adanya gejala flu Singapura.


Sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk flu Singapura. Pengobatan yang bisa dilakukan sejauh ini yaitu pengobatan yang sifatnya meredakan gejala. “Demamnya kan bisa sampai 38 derajat. Oleh sebab itu, penting untuk dibawa ke rumah sakit. Ada juga sepsis, infeksi di dalam tubuhnya. Kemudian juga dehidrasi, jadi penting untuk diperiksakan ke rumah sakit,” tutur Nadia.

Nadia menambahkan, anak-anak, terutama yang di bawah 10 tahun, lebih rentan tertular HFMD dibandingkan orang dewasa karena sistem imun tubuh mereka yang belum terbentuk sempurna. Di sisi lain, anak-anak lebih banyak melakukan kegiatan bermain di ruang publik yang terkadang tidak dibersamai dengan PHBS.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melalui anggota Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular, Dokter Erlina Burhan, menilai, meski kasus flu Singapura di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, penting untuk mewaspadai penularannya yang mudah dan cepat terjadi.

“Menurut saya, mestinya sih penularan semakin tinggi, terutama kalau sanitasinya buruk. Karena itu tadi, kontaminasi akan sangat mudah dan kemudian jadi infeksi,” jelas Erlina kepada detikX.

Adapun sebenarnya komplikasi berbahaya jika tak segera memperoleh perawatan yang mendukung. Virusnya, kata Erlina, bisa menyebar melalui pembuluh darah. “Kalau sudah masuk pembuluh darah, bisa mengenai organ-organ yang lain, seperti paru, bisa ke jantung, bisa ke sistem sarang pusat. Tapi kan ini memang kita belum ada laporannya. At least yang saya baca, belum ada nih ada seperti nephrolitis atau meningitis, atau pneumonia, karena mungkin memang banyak yang nggak periksa,” tutur Erlina.

Masih banyak orang yang belum memahami gejala flu Singapura. Inilah, menurut Erlina, yang mungkin menyebabkan banyak kasus tidak terlaporkan karena orang tua anak tidak membawa anak ke rumah sakit.

Ilustrasi bintik merah di tangan bayi sebagai gejala flu Singapura.
Foto : iStockphoto

Dosen senior kesehatan masyarakat University of Derby, Inggris, Dono Widiatmoko, menyebut penanganan di ranah kebijakan yang bisa diterapkan bisa diawali dengan mendisiplinkan pencatatan kasus di berbagai daerah.

“Di daerah mana yang kasusnya sudah banyak dilaporkan, daerah mana yang belum atau tidak ada. Ada dua kemungkinan (daerah yang tidak ada). Pertama, karena belum ada penyakitnya di sana, kedua, belum ada awareness bahwa penyakit ini harus dilaporkan. Jadi harus tetap waspada,” ucap Dono.

Dono juga memperingatkan kemungkinan penularan secara besar di Indonesia. “Karena penularannya ini kan itu tadi, langsung dari orang ke orang dan, saat ini pasca-COVID, transportasi sudah kembali seperti normal ya. Banyak terjadi pergerakan, pertemuan antar-individu sudah normal, pergerakan manusia antarkota sudah terjadi,” ujarnya.

Senada, menurut epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, meski hingga saat ini angka fatalitas kasus flu Singapura sangat kecil, pemerintah dan masyarakat tetap harus mewaspadainya karena jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar. Terutama mobilisasi yang besar di musim libur dapat meningkatkan penularan tinggi di kalangan anak-anak.

“Case fatalities rate 1,1 persen tetap harus diwaspadai karena jumlah anak di bawah 10 tahun Indonesia bisa setara jumlah penduduk di Singapura,” tandas Dicky Budiman. 


Reporter: Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE