Ilustrasi : Edi Wahyono
Rabu, 20 Maret 2024Sejak awal tahun ini hingga 11 Maret lalu, terdapat 27.852 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Dari data Kementerian Kesehatan itu, tercatat sebanyak 250 korban di antaranya meninggal dunia. Jumlah itu meningkat jika dibandingkan dengan data tahun lalu pada periode yang sama (year-on-year). Awal 2023 hingga 9 Maret 2023, terdapat 12.090 kasus demam berdarah dengan korban meninggal berjumlah 84 jiwa.
Dokter Siti Nadia Tarmizi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, menjelaskan ada pergeseran persebaran kasus DBD. Tahun ini paling banyak ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Di Jabar kasus positif banyak ditemukan di Bandung dan sekitarnya.
"Kalau kita lihat ya kurang lebih jumlah kasus yang tertinggi itu cenderung sama ya, seperti Bandung, Bogor, Sumedang, itu ya. Kalau dulu (2023) di NTT pernah terjadi kejadian luar biasa, kalau sampai sekarang NTT belum melaporkan dan berbicara kasus dan kematian," kata Nadia kepada detikX pada Rabu, 18 Maret 2024.
Pola sebaran demam berdarah memang dinamis. Daerah yang sebelumnya terdapat kasus dengan jumlah banyak cenderung terpacu melakukan pencegahan secara masif. Hal itu menjelaskan mengapa daerah yang terpapar banyak DBD tahun lalu, seperti NTT, pada tahun ini relatif terkendali.
Peningkatan kasus DBD tidak terjadi begitu saja. Nadia mengakui sulit mengendalikan peredaran nyamuk Aedes aegypti pada musim hujan. Banyaknya genangan air menjadi tempat berkembang biak yang sempurna bagi inang virus dengue. Kondisi itu tidak diiringi oleh tindakan pencegahan yang masif dan ketat, seperti menggalakkan gerakan 3M.
"Begitu ada orang yang ada sakit DBD, berarti kan di dalam darahnya ada virus demam berdarah. Nah, ini yang kemudian terbawa oleh si nyamuk dan kemudian, saat nyamuk menggigit orang lain, itu bisa menimbulkan penyakit DBD pada orang lain," ucapnya.
Nadia mengatakan naiknya angka kematian di beberapa daerah juga disebabkan membeludaknya pasien di fasilitas kesehatan. Kondisi itu membuat para tenaga kesehatan kewalahan menangani semua pasien secara maksimal. Selain itu, masih banyak pasien DBD yang telat dibawa ke rumah sakit.
"Sering kali kan orang tua (lega) setelah tiga hari badan anaknya terasa dingin, (padahal) badan terasa dingin ini kan bisa tanda-tanda bahwa badan terjadi syok gitu, kemudian aliran darah itu tidak lagi mengalir di pembuluh darah, tapi keluar di pembuluh darah," ucapnya.
Salah satu daerah di DKI Jakarta dengan kasus DBD tinggi adalah Jakarta Barat. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DKI Jakarta Lies Dwi Oktavia membenarkan sedang terjadi lonjakan jumlah kasus DBD di wilayahnya. Menurut data Dinkes DKI per 18 Maret 2024, tercatat 1.052 kasus DBD. Namun data itu hanya mencatat pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit, dan berbeda dengan Kemenkes.
"Sampai saat ini angka insiden yang paling tinggi itu di daerah Jakarta Barat. Risiko sakitnya itu di Jakarta Barat 21,7 per 100 ribu orang," kata Lies kepada detikX pada Selasa, 19 Maret 2024.
Kelompok usia paling berisiko, terang Lies, adalah anak usia 5-18 tahun. Untuk itu, perlu kewaspadaan tinggi terhadap anak-anak usia sekolah. Ia mengimbau agar pasien tidak terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan. Para pasien harus segera mendapat perawatan intensif dan diberi infus untuk memenuhi kebutuhan cairan.
"Jadi prinsipnya, kalau DBD itu, kita tidak boleh sampai terlambat dalam memenuhi kebutuhan cairan sebenarnya. Jadi DBD itu biasanya dia demam tinggi, yang tiba-tiba nanti pada hari sekitar hari kelima, demamnya kesannya akan turun, tapi di situ biasanya justru saat orang bisa mengalami kondisi syok karena cairan yang tidak tercukupi," jelasnya.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Erizon Safari mengatakan, dalam dua bulan belakangan, angka DBD naik secara signifikan. Per 14 Maret, tercatat 438 kasus demam berdarah di Jakarta Barat. Jumlah itu lebih besar dari yang dilaporkan Dinkes DKI Jakarta dan Kemenkes. Kondisi itu membuat tingkat keterisian rumah sakit meningkat.
"Rata-rata di atas 80 persen untuk bed occupation rate (BOR) hampir semua rumah sakit daerah," kata Erizon kepada detikX pada Senin, 18 Maret 2024.
Tingginya kasus DBD dan tingginya BOR rumah sakit membuat para pasien dan keluarganya kebingungan. Salah satunya adalah Asad, yang pada 12 Maret lalu sibuk mondar-mandir ke tiga rumah sakit ternama demi kesembuhan anaknya. Anak Asad mengalami gejala demam, lalu sehari setelahnya demam turun, namun kembali naik dan memburuk pada hari berikutnya.
Asad langsung membawa buah hatinya menuju Rumah Sakit Pondok Indah. Tak disangka RSPI ramai dan penuh pasien. Setelah antre kurang lebih enam jam, akhirnya ia memutuskan pulang dan berniat melakukan tes darah keesokan harinya.
"Selasa akhirnya kita bawa ke RSPI, waktu itu situasinya masih long weekend dan waktu kita sampai ke RSPI, itu sudah kayak mal RSPI," ujar Asad kepada detikX.
Baca Juga : Luka Tak Kunjung Sembuh Korban Keracunan Obat

Pasien demam berdarah dengue (DBD) menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (8/3/2024).
Foto : Yusuf Nugroho/Detikcom
Keesokan harinya, baru diketahui anaknya positif demam berdarah. Saat akan dirawat di RSPI, dokter mengatakan seluruh ruangan penuh, termasuk ruang perawatan gawat darurat. Setelah itu, ia ke Rumah Sakit Mayapada. Seperti sebelumnya, semua ruangan juga telah penuh oleh pasien lain, termasuk ruang perawatan gawat darurat. Akhirnya ia baru mendapatkan ruangan untuk rawat Inap di rumah sakit ketiga, meski kondisi di rumah sakit ini juga terpantau ramai oleh para pasien.
"Anak sudah lemes banget kondisinya. Katanya, sama kayak di RSPI dan Mayapada, mereka (pihak rumah sakit bilang) bilang kayak sekitar 3 minggu terakhir ini tuh selalu full, jadi nggak yang selalu setiap hari full, tapi pas itu tingkat okupansinya tuh hampir full terus setiap hari. Jadi nggak pernah kayak 70 persen, paling ada 90 persen," ucapnya.
Menurut Asad, berdasarkan informasi dari para tenaga kesehatan di beberapa rumah sakit, rata-rata pasien masuk tiap harinya sekitar 15 orang. Adapun di sekitar kompleks tempat tinggalnya sudah lebih dari tiga anak terpapar DBD.
Tidak Hanya di Jakarta
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam mengatakan tingkat BOR rumah sakit di wilayah kerjanya meningkat hingga 95 persen. Peningkatan ini berkaitan dengan naiknya angka pasien DBD. Sejauh ini banyak kasus ditemukan di daerah Pedurungan, Banyumanik, dan Tembalang. Per 18 Maret total kasus demam dengue di Semarang mencapai 1.453 kasus, sedangkan yang mencapai level DBD 77 kasus.
Dinkes Semarang mengimbau masyarakat memantau area-area yang berpotensi genangan. Pemeriksaan dan pembersihan genangan dilakukan setidaknya dua kali dalam seminggu. Hal itu untuk mencegah telur dan larva nyamuk berkembang sampai dewasa.
"Kemarin penelitian yang kita lakukan pada 2021 di sekolahan bahkan ya, itu mulai dari telur nyamuk sampai kemudian jadi jentik, dia bisa terbang waktunya 3-4 hari, dia bisa terbang," kata Hakam kepada detikX.
Sementara itu, seorang dokter di daerah Jombang, Jawa Timur, yang detikX hubungi mengaku sudah kewalahan menangani pasien demam berdarah yang terus berdatangan. Kenaikan jumlah pasien demam berdarah sudah dirasakan sejak dua bulan lalu. Rata-rata tiap hari di puskesmas terdapat 3-4 pasien demam berdarah. Adapun di tingkat rumah sakit, angkanya bisa 5-6 pasien tiap hari.
Menurutnya, rata-rata pasien adalah anak-anak usia di bawah 12 tahun. Gejala paling umum saat dibawa ke fasilitas kesehatan adalah demam dan beberapa kasus disertai dehidrasi.

Petugas Jumantik menggelar operasi jentik nyamuk di permukiman kumuh Sunter Agung, Jakarta, Jumat (15/03/2024).
Foto : Pradita Utama/detikcom
"Nakes sangat kewalahan. Pasien numpuk di IGD dan banyak yang nggak dapat kamar. Akhirnya rawat jalan atau pindah RS. Yang kasihan ya RSUD karena nggak boleh nolak pasien. Akhirnya numpuk di IGD karena nggak kunjung bisa pindah kamar," ucap dokter yang nggak disebutkan identitasnya itu kepada detikX pada Selasa, 19 Maret 2024.
Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman mengatakan tren meningkatnya penyebaran virus dengue terjadi di seluruh dunia akibat naiknya rata-rata suhu di bumi.
"Kalau iklim bumi makin hangat, nyamuk itu lebih cepat produksinya, atau siklus reproduksinya lebih singkat, akhirnya jumlahnya lebih banyak. Kemudian lebih menyebar karena dia tertahan sebetulnya oleh suhu. Jadi nyamuk, khususnya Aedes aegypti, dia dibatasi dengan suhu ya, katakanlah tropis-lah, dia hanya bisa di suhu yang hangat," kata Dicky kepada detikX pada Selasa, 19 Maret 2024.
Menurut Dicky, kondisi saat ini berbeda dengan 10-20 tahun lalu. Dahulu nyamuk Aedes aegypti mungkin hanya mengisap dua jam setelah matahari terbit, dan tidak lebih dari tengah hari.
"Nah, masalahnya sekarang, kota-kota kita ini tidak terlalu berbeda antara siang dan malam, malam pun terang. Jadi riset membuktikan terjadi perubahan perilaku nyamuk Aedes aegypti, yang dulu mengisap pagi hari, sekarang almost ya tidak bisa saya katakan 24 jam sih, tapi malam pun mengisap karena terang," ucapnya.
Pengendalian penyakit, ujar Dicky, harus merujuk trias epidemiologi, yaitu host atau inang, yaitu manusia; kedua ada agent, dalam hal ini adalah nyamuk yang terinfeksi; dan lingkungan. Ketiga entitas ini harus mendapatkan intervensi secara menyeluruh.
Masyarakat harus mendapat edukasi yang cukup untuk dapat menghindari gigitan nyamuk, seperti memasang jaring di jendela atau memakai kelambu. Selain itu, perlu dilakukan pengendalian terhadap nyamuk pembawa virus. Pengendalian dapat dicoba dilakukan dengan penyebaran nyamuk yang telah diberi bakteri Wolbachia misalnya.
"Intinya, kalau nyamuk tidak bisa menggigit manusia, dia tidak bisa mematangkan telurnya. Nah, kita harus memastikan tadi, lindungi daerah yang rawan digigit tadi itu, jauhkan dari gigitan nyamuk dengan perlindungan kelambu, obat nyamuk, dan sebagainya," ucap Dicky.
Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila, Devandra Abi Prasetyo
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban