Spotlight
Nestapa di Selatan Jakarta:
Indonesia dilanda kemarau kering dampak El Nino. Salah satunya Desa Ciomas, Kabupaten Bogor, yang berstatus tanggap darurat. Warganya merana mesti mengantre untuk menciduk air yang tak lebih tinggi dari mata kaki. Pasir menjadi pengganti air yang teramat berharga untuk menyiram hajat sendiri.
Foto : Warga Kampung Banar Desa Ciomas sedang mengantri air di Sumur Kulon untuk minum dan memasak, Kamis (12/10/2023). (Chelsea Olivia Daffa/detikcom)
Senin, 16 Oktober 2023Tujuh bulan lamanya, Sri, 28 tahun, warga Kampung Banar, Desa Ciomas, Kabupaten Bogor, mesti mengurungkan niatnya menggunakan air untuk buang hajat di toilet rumahnya. Kecuali tengah malam, Sri lebih memilih berjalan menuju pinggir hutan, ke sebuah cekungan tanah kering. Ini salah satu daerah yang terdampak bencana kekeringan dengan status tanggap darurat.
“Mandi saja ngirit, masa (air bersihnya) buat BAB? Jadinya, ya mendingan, maaf ya, mending BAB di darat gitu. Tinggal mikirin ceboknya,” ungkap Sri sedikit malu-malu kepada reporter detikX ketika ditemui di rumahnya pada Kamis, (12/10/2023).
Sri bukannya pelit atawa malas menggunakan air. Begitupun dengan beberapa warga lainnya yang sebenarnya juga sudah memiliki WC masing-masing di kediamannya. Namun penggunaan air mesti sejalan dengan ketersediaannya, yang kini malah kian sukar di kampungnya.
Keputusan buang hajat di darat menjadi satu-satunya pilihan. Sebab, mereka cuma perlu menyediakan air untuk membersihkan diri seusai buang hajat.
Sri bercerita, keadaan paling fatal terjadi selama tiga bulan belakangan. Dua sumur umum di dekat hutan yang biasa digunakan untuk mengakses air bersih di desanya kini mengenaskan.

Ayu (12, baju biru) sedang mengambil air di Sumur Kulon sedalam tiga meter untuk mandi sore, gotong royong bersama teman sebayanya, Kamis (12/10/2023).
Foto : Chelsea Olivia Daffa/detikcom
Mulai dari Subuh ya (ambil air), kalau Subuh dari jam empat, terus sambungnya ke jam enam. Terus nanti nyambung lagi nanti ke jam sepuluh, terus nyambung lagi ke jam satu, nyambung lagi ke jam tiga sore. Abis itu nyambung lagi ke malam hari habis Magrib.”
Sumur sedalam 3 meter, yang biasanya tumpah ruah terutama pada musim hujan, sekarang airnya sering tak lebih tinggi dari telunjuk orang dewasa. Padahal kebutuhan konsumsi air minum, memasak, mandi, hingga mencuci piring bergantung pada sumber mata air tersebut.
Itu pun warga mesti mengantre mendapatkannya. Air tak selalu tersedia menggenang dan mudah diambil, apalagi jika diciduk terus-menerus. Setiap dua jam sekali warga mesti bersabar menunggu untuk mendapatkan seember kecil air.
“Mulai dari Subuh ya (ambil air), kalau Subuh dari jam empat, terus sambungnya ke jam enam. Terus nanti nyambung lagi nanti ke jam sepuluh, terus nyambung lagi ke jam satu, nyambung lagi ke jam tiga sore. Abis itu nyambung lagi ke malam hari habis Magrib,” cerita Sri, yang kini sudah mulai terbiasa menandai waktu-waktu ramai tetangga mengambil air.
Sayangnya, perjuangan mengakses air yang layak nyatanya tak semudah itu. Air yang dihasilkan masih sangat keruh, berwarna cokelat tercampur dengan tanah. Apabila air tersebut digunakan untuk minum, umumnya warga akan mendiamkannya dulu sekitar 24 jam, sebelum nanti dimasak untuk dikonsumsi.
“Kan keruh, takutnya kan sakit perut. Kan kotorannya kebawa,” jelas Sri.
Apabila digunakan untuk mandi, waktu pendiaman air hanya sekitar dua jam. Namun untuk memperoleh air yang cukup untuk mandi satu keluarga, dibutuhkan waktu tunggu lama agar air timbul menggenang kembali untuk bisa diambil.
Sebelum berangkat sekolah selama kemarau panjang, anak-anak mesti mengambil air sendiri untuk mandi dan masuk ke dalam sumur. Kendati tampak berisiko, terlihat beberapa anak memang sudah terbiasa untuk saling membantu mengambil air. Lagi-lagi air yang diambil masih cukup keruh.
Sumur-sumur pribadi warga telah mengering. Beberapa warga, termasuk Sri, menyiasati antrean dengan membeli air galon isi ulang untuk konsumsi minum. “Kalau musim kemarau itu, semuanya sama-sama pengin punya air. Kadang-kadang kan ada cekcoknya juga sama orang, ini yang mau kebagian, ini juga nggak kebagian, ya sama-sama nunggu, jadi bingung,” jelas Sri sembari mengusap peluhnya di tengah panasnya udara musim kemarau.
Soal menghemat air, Sri juga tak kehabisan akal. Untuk menghemat cucian piring, ia terkadang menggunakan daun atau kertas nasi untuk alas makan. Di sisi lain, apabila menggunakan air untuk mencuci piring, ia tak buru-buru membuangnya begitu saja. Air tersebut terkadang ia manfaatkan untuk mencuci pembalut ataupun membersihkan lantai kamar mandi.
Sedangkan perempuan lainnya, Nurwati, 31 tahun, cukup kewalahan untuk bolak-balik mengambil air ke sumur. Jarak rumahnya ke sumur sebenarnya hanya 200 meter, tetapi ia harus mencurahkan tenaga untuk lebih dari 15 kali berjalan mengambil dua ember air untuk dibawa pulang.
Hal tersebut dikarenakan ia memiliki dua anak balita yang salah satunya masih berusia 11 bulan. Tentunya air wajib selalu tersedia jika anak membutuhkannya.
Padahal tak mudah bagi Nurwati untuk terus-menerus kembali ke sumur. Ia harus mencuri waktu pada kala anaknya sedang terlelap ataupun setelah pekerjaan domestik rampung dikerjakan.
Baca Juga : Tidur Berdiri di Tengah Banjir Rob Bekasi

Ida (38) mencuci di atas jembatan bambu yang disiapkan khusus untuk mencuci baju di Sungai Cai Kiara yang keruh, Kamis (12/10/2023).
Foto : Chelsea Olivia Daffa/detikcom
“Tangan pada sakit-sakit. Badan pegel-pegel karena bolak-balik. Kalau banyak air, nyuci baju sama piring ke sumur langsung. Kalau kemarau kan percuma ke situ, airnya nggak ada. Jadi harus nyimpen dulu (mengendapkan dulu),” kata Nurwati sembari menghela napas bersiap mengangkut air di jalan yang menanjak.
Namun setidaknya Nurwati bersyukur, menjelang malam, para laki-lakilah yang bergantian mengambil air. Sebab, lokasi di pinggir hutan dan minimnya penerangan, menurutnya, cukup menakutkan.
Nurwati, Sri, dan perempuan lainnya kini juga harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mencuci baju. Sungai yang agak layak untuk mencuci baju terletak sejauh 1 kilometer dari rumah warga. Namanya Sungai Cai Kiara. Hampir seluruh warga kampung mencuci di sana.
Air sungai Cai Kiara nyatanya tak bisa diharapkan. Meski demikian, inilah sungai terdekat yang bisa dimanfaatkan. Begitu surut, sungai yang kedalamannya mencapai 1,5 meter itu kini hanya terlihat seperti kubangan air semata kaki orang dewasa.
Kondisi sungai pun tampak tak layak. Warnanya hijau kehitaman, bercampur sampah serta berlumpur. Namun desa telah kering, tak ada pilihan lain.
Sekretaris Desa Ciomas Sodikin membenarkan keadaan Kampung Banar yang mengalami dampak kekeringan yang terbilang parah dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya.
“Beberapa tahun ini, baru tahun sekarang ya yang parah seperti ini. Kalau kemarin-kemarin sumber resapan air kan masih ada gitu ya, jadi nggak terlalu parah. Khususnya Desa Ciomas, Kampung Banar, itu tidak ada mata air yang bisa dimanfaatkan,” tuturnya melalui sambungan telepon.
Menurut keterangan Sodikin, pada September lalu sebenarnya Desa Ciomas telah menerima bantuan untuk pengeboran sumur dari Kementerian PUPR. Sayangnya, proyek tersebut mesti terhenti karena hingga kedalaman 150 meter tidak ditemukan sumber air yang cukup.
Harapannya, sumur bor tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan air ke rumah-rumah warga. Sebab, selama ini hanya ada dua desa di Kecamatan Tenjo, yaitu Desa Tenjo dan Desa Singabraja, yang terjamah PDAM. Desa yang tersisa lainnya tak pernah teraliri air hingga ke rumah-rumah dan mesti mengambil dari sumur sekitar.
Sedangkan untuk mengatasi krisis air bersih di Desa Ciomas, Dikin mengungkapkan secara bergilir desa sudah menerima bantuan air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor.
Adapun Kasi Logistik BPBD Kabupaten Bogor Cecep Dais menyatakan, sesuai permohonan yang dikirimkan, BPBD mengirimkan 1.000-1.500 liter ke setiap desa setiap harinya.
Baca Juga : Tenggelamnya Desa Para Miliarder

Nurwati (31) berjalan pulang membawa dua ember air penuh untuk kebutuhan rumah tangga, Kamis (12/10/2023).
Foto : Chelsea Olivia Daffa/detikcom
“Sejak tanggap darurat kekeringan ini, permohonan sehari sekitar 20-30 (lokasi). Bahkan pernah beberapa kali lebih dari 30 permohonan (lokasi) dalam sehari,” tulis Cecep kepada reporter detikX.
Kabupaten Bogor menjadi salah satu daerah yang cukup parah di Provinsi Jawa Barat yang dilanda kekeringan selama musim kemarau panjang tahun ini. Menurut BPBD, tercatat 39 dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor yang terdampak krisis air bersih imbas bencana kekeringan.
“Kabupaten Bogor yang banyak terdampak wilayah timur dan wilayah barat. Yang ditangani BPBD itu sudah 39 dari 40 kecamatan, tersisa Kecamatan Tajurhalang,” terang Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor Muhammad Adam Hamdani kepada reporter detikX.
Sejumlah daerah di Indonesia, terutama di Jawa, memang tengah mengalami kekeringan yang berujung krisis air bersih, seperti di Kabupaten Bogor. Menurut Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, ada tiga penyebab yang menimbulkan bencana kekeringan tersebut.
“Jadi ini terjadi adalah karena kombinasi variasi musim, kedua ada kontribusi secara gradual dari perubahan iklim, yang ketiga karena El Nino,” jelas Ardhasena kepada reporter detikX.
Ardhasena mengakui, meski indeks El Nino masih di level moderat, dampaknya cukup signifikan. Dampaknya, kekeringan panjang terjadi di wilayah Indonesia selatan khatulistiwa. Meski demikian, ia menambahkan, bencana kekeringan diprediksi tak akan berkepanjangan bagi beberapa daerah karena bakal disambut hujan pada akhir Oktober.
“Wilayah yang sekarang mengalami kekeringan, nanti November-Desember diprediksi hujannya sudah mulai signifikan. Akhir Oktober diprediksi mulai masuk musim hujan, dan dimulai dari arah barat Indonesia,” tandas Ardhasena.
Reporter: Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban