Spotlight

Tenggelamnya Desa Para Miliarder

Warga desa yang dulu mampu menghasilkan puluhan juta rupiah tiap bulan kini hidup merana. Bukan hanya mata pencarian yang hilang, lahan dan rumah pun turut tenggelam.

Foto : Potret salah satu rumah di Pantai Bahagia yang sudah ditinggal pemiliknya karena sering dihantam abrasi, Rabu (12/7/2023). Chelsea Olivia Daffa/detikcom

Senin, 17 Juli 2023

Gembur dan berair. Tanah di sekitar rumah warga itu dominan seperti agar-agar. Akses ke Kampung Beting, Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, itu lumpuh. Begitu juga perekonomian warganya. Kini warga di tempat itu tak lagi sebahagia namanya.

Di depan teras, mata Aryas yang kekuningan dan sayu tampak menerawang jauh. Sekeliling rumahnya penuh lumpur dan genangan air laut. Rumah Aryas, yang terbuat dari batu bata dan beton, itu berdiri canggung di tengah-tengah lingkungan rawa.

Dulu, sebelum air laut merangsek, jarak bibir pantai dari rumahnya sekitar 4 kilometer. Kini pekarangan belakang rumahnya adalah Laut Jawa.

Daerah tempat Arya tinggal itu dulu pernah mencapai era kejayaannya dengan julukan Kampung Dolar. Para penduduk dulu adalah para pemilik tambak udang dan bandeng dengan penghasilan puluhan juta rupiah tiap bulan.


“Sekarang bukan dolar. Udah hancur," keluh Aryas sambil mengembuskan asap rokoknya saat berbincang dengan reporter detikX.

Puluhan juta rupiah (penghasilan warga tiap bulan), bisa membangun masjid itu karena dapat dolar dari (usaha) empang. Kalau mau nyari kepiting jauh banget sekarang. Dulu di sini-sini ada."

Pria berusia 61 tahun itu datang dan menetap di Pantai Bahagia sejak 1985. Di sana ia mendapat izin untuk menempati dan menggarap lahan yang ia sebut milik Perhutani. Ia mengelola petak-petak tambak yang cukup luas untuk menampung dan membiakkan udang serta ikan bandeng. Selain itu, ia rutin menebar perangkap udang di sekitar muara dan rawa-rawa.

Pada masa-masa kejayaan itu, dalam sehari Aryas mampu memperoleh 30-40 kilogram udang. Jumlah itu ia dapat dari tambak maupun perangkap yang ia pasang. Hasil yang lebih banyak bisa Aryas peroleh jika panen dilakukan satu atau dua minggu sekali. Selama sebulan, ia mampu memperoleh pendapatan Rp 20-30 juta.

Salimi, ketua remaja masjid setempat, mengatakan dulu, untuk membangun dua masjid besar di sana, hanya dibutuhkan patungan biaya oleh tiga warga. Hal itu mudah terlaksana karena pendapatan warga yang tinggi. 

"Puluhan juta rupiah (penghasilan warga tiap bulan), bisa membangun masjid itu karena dapat dolar dari (usaha) empang. Kalau mau nyari kepiting jauh banget sekarang. Dulu di sini-sini ada," kata Salimi kepada reporter detikX.

Saat tim detikX datang, salah satu masjid di Desa Pantai Bahagia sedang direnovasi. Perbaikan itu bertujuan untuk meninggikan lantai masjid. Maklum, sebagian halaman masjid tergenang air. Selain itu, dinding masjid retak-retak karena turunnya permukaan tanah tiap tahun.

Salimi mengatakan, sejak abrasi, masjid telah beberapa kali direnovasi dan ditinggikan. Dana yang dibutuhkan jika ditotal mencapai lebih dari Rp 100 juta. Dana itu diperoleh dari patungan warga sebesar Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu tiap keluarga.

"Seminggu sekali bayarnya, nggak sekaligus, tapi nyicil ya. Mulai Rp 5.000, Rp 10 ribu, nyicil terus. Harus sabar gitu untuk minta-mintain-nya. Memang kondisi semenjak abrasi kan usaha susah di sini," tuturnya.

Selain masjid, warga sedang mengumpulkan iuran untuk meninggikan tanah di pemakaman desa. Makam itu terletak persis di sebelah masjid. Saat tim detikX datang, sebagian besar makam itu telah tertutup lumpur rawa dan digenangi air. Nisan banyak yang tak tampak. Sebagai gantinya, warga meletakkan tiang bambu sebagai penanda.

Menurut warga sekitar, saat mencari kerang dan kepiting di dekat makam, warga kerap mencium bau busuk yang berasal dari makam yang sudah dilubangi kepiting. Karena itu, menurut Salimi, makam desa harus segera diuruk dan ditinggikan. Namun saat ini dana yang dibutuhkan belum terkumpul.

"Kami gali setengah meter sudah air laut semua. Ya kita terpaksa masukkan langsung bercampur air (proses pemakaman jenazah)," ujarnya.

Tenggelamnya Profesi Petambak

Masa keemasan Desa Pantai Bahagia hanya tinggal kisahnya. Kini desa tersebut tidak lagi memancarkan kebahagiaan seperti namanya. Semenjak 2010, air laut masuk hingga ke permukiman warga.

Saat ini, mulai rumah, sekolah, hingga jalan utama tergenang air, dan hanya sedikit kering saat air surut di siang hari. Bahkan berhektare-hektare tambak milik warga juga turut menyatu dengan lautan. Dengan kondisi itu, warga desa kehilangan mata pencarian utamanya.

Melubernya air laut yang menelan daratan membuat Aryas kesulitan mencari udang dan ikan. Dulu melimpah di perairan dekat pantai, kini makin langka. Perangkap yang sebelumnya ia andalkan kini tidak lagi efektif karena air yang makin tinggi.

Sialnya, selama bertahun-tahun Aryas tidak memiliki pengalaman sebagai nelayan lepas pantai. Perahu yang ia miliki juga kecil, tak mampu berlayar jauh ke tengah-tengah laut. Alhasil, dalam satu hari, ia hanya bisa memperoleh 3-4 kilogram ikan atau kerang. Dengan hasil itu, uang yang ia peroleh hanya berkisar Rp 45 ribu dalam sehari. Uang itu adalah pendapatan kotor yang harus dipotong biaya bahan bakar perahu dan perbekalan.

Pemakaman umum di Pantai Bahagia yang kerap terendam air, Rabu (12/7/2023). 
Foto : Chelsea Olivia Daffa/detikcom

Hasil tangkapannya juga tak menentu. Semuanya tergantung pada musim dan kondisi laut. Sejak pertengahan tahun lalu hingga sekarang, Aryas hanya mampu menangkap sedikit ikan. Mayoritas hasil tangkapannya malah kerang batik.

"Kalau nyari kerang, sehari ya Rp 30 ribu, ya Rp 40 ribu, kali satu bulan, kurang dari Rp 1 juta. Kalau dapat Rp 2 juta aja (sebulan), udah bagusudah jago," terangnya.

Sementara itu, menurut Aryas, tiap tahun rumahnya mengalami penurunan setidaknya 2 sentimeter. Air laut pada malam hari mengalir dan menggenangi rumahnya sampai setinggi betis hingga paha orang dewasa. Kondisi itu membuatnya harus terus meninggikan rumah dan membangun tembok di sekitar teras jika tidak ingin rumahnya tenggelam sepenuhnya. Namun upaya itu juga membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk biaya renovasi rumah, Aryas selama ini mengandalkan putri ketiganya, yang terpaksa bekerja sebagai buruh migran atau TKI di luar negeri.

Aryas mengaku ingin pindah ke tempat yang lebih layak, tapi ia tak mampu membeli tanah atau rumah di luar daerah tersebut. Ia berharap pemerintah menyediakan tempat relokasi yang layak bagi para warga. Sayangnya, hingga hari ini, tawaran itu belum pernah ia dengar.

Rustam, tetangga Aryas, juga merasakan nasib senada. Saat datang pertama kali ke Pantai Bahagia pada 1980-an, ia masih berusia 35 tahun. Sejak saat itu hingga sebelum 2010, udang melimpah dan sangat mudah didapat maupun dipanen.

"Banyak udang, subur. Ya itu (sebelum) tahun 2010 itu," tutur Rustam kepada reporter detikX.

Selain mencari udang, Rustam dulu memiliki sejumlah petak tambak. Dalam sehari, ia bisa mengantongi hingga Rp 500 ribu dari menjual udang. Jumlah itu belum termasuk udang dan ikan yang ia panen dari tambak. Jumlah permintaan udang kala itu tinggi dan sebagian besar diekspor ke luar negeri.

Kini Rustam bahkan harus berbagi perahu dengan nelayan lain jika ingin melaut. Ia tak mampu membeli perahu secara mandiri. Harga perahu motor kecil setidaknya Rp 7 juta. Dalam satu hari, perahu-perahu itu menghabiskan sekitar 2 liter solar seharga Rp 30 ribu. Agar lebih hemat, dalam satu perahu terdapat dua hingga empat pencari kerang. Jika hanya berdua, Rustam terpaksa mengeluarkan modal sebesar Rp 15 ribu, padahal penghasilannya dalam sehari hanya Rp 40 ribu.

Malang juga menimpa Ujang, Ketua RW 002 Desa Pantai Bahagia. Warga sekitar menyebut Ujang sebagai salah satu juragan tambak dahulunya. Kini Ujang juga turut kehilangan banyak petak tambak karena abrasi. 

Warga desanya, terang Ujang, dulu memiliki dan mengelola sekitar 30 hektare tambak. Komoditas yang dikembangbiakkan adalah udang windu dan ikan bandeng. Selain itu, warga memburu cekrek, sejenis lobster. Cekrek, menurut Ujang, dapat dijual dengan harga Rp 100 ribu per ekornya. Namun, sejak air laut menenggelamkan Desa Pantai Bahagia, cekrek sangat sulit ditemukan.

Dari 700-an warganya, hanya sekitar sepuluh orang yang masih memiliki tambak. Namun tambak-tambak itu terhitung tidak produktif karena sering terendam. Sementara itu, mayoritas tambak di desa itu telah dibeli oleh pengusaha dari daerah lain, seperti Jakarta. Para pengusaha dari kota membeli tambak dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per meter persegi.

Tambak yang telah dibeli kemudian dibangun tanggul di sekitarnya. Sesuatu yang mustahil dilakukan warga Desa Pantai Bahagia karena membutuhkan modal yang besar. Ironisnya, para pengusaha dari luar daerah tidak mengelola tambak tersebut. Tambak-tambak itu justru kembali disewakan kepada warga dengan harga Rp 500 ribu per tahun untuk tambak seluas 1 hektare. Namun usaha tambak tak lagi menjanjikan. Setinggi apa pun tanggul dibangun, air tetap masuk dan mengurangi produktivitas tambak. 

Menurut Ujang, tren menjual tambak mulai terjadi saat abrasi mulai menggerus daratan Muara Gembong pada 2010.

Kondisi jalanan yang mengepung rumah warga Pantai Bahagia, Rabu (12/7/2023). 
Foto : Chelsea Olivia Daffa/detikcom

"Sekarang kebanyakan warga mencari ikan. Dulu nggak ada istilah nelayan di sini (tidak ada yang mencari ikan sampai ke tengah laut dan mayoritas petambak)," kata Ujang kepada reporter detikX.

Untuk makan sehari-hari, lanjut Ujang, warganya tidak terlalu kesulitan karena ada lauk yang didapat dari laut. Sedangkan untuk nasi dan sayuran, warga membeli melalui pedagang yang biasanya masuk ke desa. 

Sementara itu, Siti Maunah, pengajar di PAUD Pantai Bahagia, dan beberapa warga merintis usaha pembuatan dodol dan jus buah bakau. Selain itu, ia membuat kerupuk ikan dan keripik daun beluntas. Dalam sebulan, dodol yang bisa diproduksi mencapai 60 kilogram. Adapun jus yang dihasilkan sekitar 300 botol. Adapun keripik beluntas dan kerupuk ikan dapat dihasilkan 20-30 kilogram. Semua produk itu dijual ke kota dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu per kemasannya.

Sebelumnya, Siti dan warga hanya mengandalkan mencari kerang batik. “Kalau nggak ada kerang batik, nangis sih, ini Ibu puasa, makan yang nggak ada," ucapnya kepada detikX.

Sedangkan salah seorang pemandu ojek perahu, Samsul, mengatakan dulu di Pantai Bahagia memang sempat ada pantai dan gundukan pasir yang menjorok ke laut. Orang-orang dari luar daerah biasanya berwisata ke lokasi tersebut, sampai akhirnya pantai menghilang ditelan laut. Hingga 2016, pengunjung tercatat 30-40 orang tiap harinya. Samsul, yang menjajakan jasa perahu, kerap mendapat untung dari kunjungan wisatawan tersebut. Ia mematok harga Rp 25 ribu untuk mengantar pengunjung ke area pesisir pantai melalui muara. Namun, pada 2023 ini, tidak ada satu pun pengunjung pantai, mengingat gundukan pasir pantai telah ditelan laut.

"(Dulu) kalau weekend bisa sampai 100 orang, belum termasuk anak-anak," ucapnya kepada reporter detikX.

Sisa-sisa kejayaan Kampung Dolar dapat dilihat dari rumah-rumah gedong yang dibangun cukup megah di ujung kampung. Rumah-rumah itu kini banyak terbengkalai dan tampak terendam sebagian oleh air laut. Menurut Ujang, di wilayah itu setidaknya ada satu RT yang telah hilang dicaplok lautan. Para warga yang mendiami RT tersebut sebagian kembali ke kampung halaman masing-masing. Namun tak sedikit yang akhirnya hanya pindah ke RT sebelah yang belum terendam air.


Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE