SPOTLIGHT

Tidur Berdiri di Tengah Banjir Rob Bekasi

Warga Pantai Bahagia hidup dikepung bencana dan tanpa fasilitas kesehatan. Anak-anak bersekolah naik perahu, digendong, dan menggigil kedinginan di dalam kelas.

Foto : Naenih, seorang warga Kampung Beting melihat hamparan Laut Jawa yang berbatasan dengan rumahnya, Rabu (12/7/2023). Chelsea Olivia Daffa/detikcom

Selasa, 18 Juli 2023

Naenih karib dengan bencana. Begitu juga warga Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, lainnya. Hampir setiap bulan banjir datang merendam jalanan dan masuk rumah warga. 

Menjelang petang, Naenih duduk di bale bambu melihat pemandangan depan rumahnya berupa hamparan segara Jawa. Dia mengenang, 30 tahun yang lalu, yang terlihat dari depan rumahnya hanyalah puluhan permukiman warga. Kini rumah-rumah itu hilang ditelan lautan. Garis pantai pun semakin mendekat dan kini tepat berada di pelataran rumahnya. 

“Tadinya ini rumahnya tinggi, panggungnya tinggi (sekitar setengah meter). Ini tinggal sejengkal, udah mepet bale,” kata perempuan yang akrab disapa Mak Eni tersebut kepada reporter detikX, Rabu (12/7/2023). Memang, saat detikX berbincang dengannya, air laut hanya sejengkal di bawah pelataran rumah Mak Eni.

Di depan rumah Mak Eni, bukan motor atau mobil yang terparkir, melainkan perahu. Yang sering datang bertamu pun bukan manusia, melainkan air pasang laut. Akhir tahun lalu termasuk yang terparah, air laut berombak datang tanpa permisi dan menyisakan endapan pasir yang tebal di dalam rumahnya.

Rumah yang kini ditempati Naenih sebenarnya tempat tinggal ketujuh yang ia bangun. Dia berpindah-pindah rumah untuk menjauhi bibir pantai. Namun hidupnya tetap tak berhenti seperti dikejar-kejar serbuan air laut, yang kini bibir pantainya tepat di depan rumahnya. Dia hanya bisa mencoba tegar menghadapinya.

“Kalo lagi air pasang begini, ibu ngajakin bapak pindah aja, cuma belum tepat, gimana pindahnya. Pengen, cuman kan tempatnya belum punya, duitnya. Kan kudu beli tempatnya,” tuturnya.

Nasib senada dialami Karwati. Ia mulai tinggal di Kampung Beting pada 1980-an. Rumah yang ia bangun tingginya 30 sentimeter dari permukaan tanah. Meski begitu, rumahnya kerap kemasukan air. Ditambah lagi tanahnya berubah menjadi lumpur dan berair, padahal dulunya kering.

Jarak rumahnya dari bibir pantai, kata Karwati, dulu sekitar 3 kilometer. Namun kini hanya tinggal sekitar satu kilometer.


Karwati menuturkan pernah suatu kali air pasang laut datang mendobrak dan masuk rumahnya. Air menggenangi rumahnya setinggi lutut. Karwati dan keluarganya mesti berjaga, tidak tidur semalaman dalam posisi berdiri.

“Ya berdiri aja. Subhanallah, kasihan banget anak saya. Nggak bisa tidur. Nungguin air surut, baru (bisa) tidur. Kaki pegal. Anak bayi digendong aja sampai pegel mi (saya). Kuncinya apa? Sabar. Asal kita jangan palid aja. Tahu palid? Hanyut,” kenang Karwati kepada reporter detikX.

Kini semua barang elektronik beserta tempat tidurnya dibuatkan meja penyangga dari bambu agar terselamatkan kala banjir. Selain itu, tak lupa Karwati mematikan listrik agar tak terjadi korsleting. Setiap banjir datang, Karwati dan keluarganya tak pernah tidur sampai air benar-benar surut.

Baru-baru ini pun keluarga Karwati menanam pohon api-api di sekitar rumah. Tujuannya, jika pasang tinggi, hantaman air terpecah dan tidak serta-merta menerjang rumah. Selain itu, rumah juga terlindungi dari angin laut pantai.

Beberapa rumah di Kampung Beting banyak yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Salah satunya milik kakak Rahmat. Alasannya, ia sudah tidak memiliki biaya untuk meninggikan lantai lagi. Karena itu, kakaknya memilih tinggal bersama Rahmat agar pembangunan rumah yang harus dilakukan terus-menerus di daerah bencana bisa lebih murah karena patungan.

“Kalau (meninggikan) rumah itu (habis) pasir 24 perahu. Harga satu perahu pasir itu Rp 500 ribu,” jelas Rahmat yang merupakan warga Kampung Beting.

Rahmat melanjutkan, meninggikan rumah mesti dilakukan tiga hingga empat tahun sekali. Penyebabnya adalah kondisi tanah yang semakin turun dan air yang semakin naik ke daratan.

Heri Andreas, ahli geodesi yang juga dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, menuturkan, penurunan muka tanah di pesisir Pantai Utara Jawa memang tampak cukup masif jika diukur dengan menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR).

Rumah semi permanen dan moda transportasi warga di Kampung Beting, Rabu (12/7/2023). 
Foto : Chelsea Olivia Daffa/detikcom

“Ternyata ditemukan di banyak tempat (pesisir Pantai Utara Jawa), termasuk Jakarta, yang penurunan tanahnya lumayan besar, mulai beberapa sentimeter per tahun hingga ada yang lebih dari 10 sentimeter, bisa sampai 20 kali lipat dari sea level rise,” terang Heri kepada reporter detikX.

Menurut Heri, abrasi bukanlah faktor utama dan dominan langganan banjir pasang air laut di Muara Gembong. Banjir tersebut disebabkan oleh inundasi, yakni penurunan muka tanah.

“Kalau air laut masuk (ke daratan) itu kan gara-gara tanahnya turun, kemudian lebih rendah dari laut, kemudian tumpah (air lautnya). Tentunya, ketika ada angin barat di akhir tahun, proses abrasi juga ada. Jadi kombinasi abrasi dan inundasi,” terangnya. 

Minim Mitigasi
Di antara bencana yang tak pernah istirahat, Pantai Bahagia tak memiliki satu pun fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, di sana tak ada puskesmas, rumah sakit, rumah sakit bersalin, poliklinik, hingga apotek.

BPS memasukkan daerah tersebut sebagai wilayah dengan kriteria paling ‘sulit’ mengakses fasilitas kesehatan dibandingkan seluruh desa di Muara Gembong. Daerah ini bahkan tak memiliki sistem peringatan dini bencana alam dan jalur evakuasi.

Untuk mengakses fasilitas kesehatan, warga mesti menyewa perahu dan turun di area kantor kecamatan karena terlalu lama jika berkendara melalui daratan. Akses jalan berlumpur dan tidak rata.

“Kalau nyewa perahu dari sini ya Rp 100 ribu,” ujar Salimi, Ketua Remaja Masjid di Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, kepada reporter detikX pekan lalu.

Salimi bercerita perbaikan jalan sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan, tapi tanah yang mudah amblas membuat jalanan kembali rusak. Tak mengherankan jika menempuh wilayah pusat kecamatan menggunakan perahu menjadi pilihan karena bakal lebih cepat sampainya.

Di sisi lain, kehidupan di Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, semakin tampak terpinggirkan karena sinyal telepon seluler tergolong paling lemah di antara seluruh desa lainnya di Muara Gembong berdasarkan data BPS. Sebab, tak ada satu pun menara BTS yang berdiri di sana. Tak ada pula Kantor Pos maupun jasa ekspedisi lainnya.

Bersekolah Pakai Perahu dan Digendong
Siti Maunah, pengajar di PAUD Pantai Bahagia, mengatakan orang tua tak jarang harus menggendong anaknya saat kegiatan belajar-mengajar. Bahkan hal tersebut pernah dialami Siti sendiri. Sembari mengajar, ia mesti menggendong salah satu muridnya agar tidak terkena air pasang.

Bukan hanya itu, anak-anak terkadang juga bersiasat berangkat dengan baju bebas. Setelah tiba di sekolah, mereka berganti dengan seragam. Sayangnya, tak semua upaya yang dilakukan berjalan mulus. Terkadang peralatan belajar terjatuh tak bisa diselamatkan, di antaranya buku-buku pelajaran.

“Ya, pada basah buku-bukunya. Tapi mereka tetap semangat,” kata Siti saat berbincang dengan reporter detikX.

Rustam, yang menyekolahkan anaknya di SDN Pantai Bahagia 04, mengatakan proses belajar-mengajar kerap tak diliburkan ketika banjir air pasang. Dia harus selalu siaga mengantarkan anaknya meski bencana tengah menerjang.

“Kadang-kadang saya anterin pakai perahu kalau pasang, kadang saya gendong berangkat ke sekolah, jalan kaki,” ujar Rustam pekan lalu.

Siang yang terik di depan SDN Pantai Bahagia 04 tak serta-merta membuat halamannya menjadi bersahabat. Tampak tanah berlumpur dan tergenang air. Kala surut, pergi ke sekolah bukannya tak ada hambatan sama sekali. Tanah yang berlumpur dan tergenang air membuat para siswa membutuhkan sepatu khusus untuk berangkat ke sekolah.

“Kalau pakai sepatu biasa, nggak mungkin kan, harusnya pakai sepatu boot. Saya beli itu untuk anak sendiri,” ujarnya.

Seorang warga Kampung Beting dan anaknya tengah beraktivitas di jalan kecil yang tak beraspal di antara tanah gembur dan tambak, Rabu (12/7/2023). 
Foto : Chelsea Olivia Daffa/detikcom

Berjarak 1 kilometer lebih jauh dari SDN Pantai Bahagia 4, terdapat sekolah swasta gratis MI Mansya'ul Huda. Murid di sekolah tersebut berjumlah 70 orang. Mayoritas anak ujung Kampung Beting menempuh pendidikan di sana dan mengandalkan perahu sebagai transportasi sehari-hari.

“Kendalanya, kadang nggak ada orang tua yang bisa antar karena semuanya (bapak) berangkat melaut, sedangkan ibu-ibu yang bisa mengemudi perahu tidak ada,” ungkap Yulinur, seorang guru relawan yang sudah satu tahun mengajar di sekolah setara SD tersebut.

Bahkan, jika cuaca sedang ekstrem, seperti hujan deras dan angin kencang, nasib para murid lebih mengenaskan lagi. Meski sudah memakai jas hujan, tiba di sekolah anak-anak tersebut mesti belajar sambal menggigil kedinginan karena baju basah kuyup.

“Pernah rekor di kelas, cuma ada empat sampai tiga belas siswa yang masuk,” tandas Yulinur.

Sebaliknya, jika musim kemarau dan air sedikit surut, anak-anak mesti berjalan kaki karena perahu tidak bisa digunakan. Persoalannya, medan yang mereka tempuh tidaklah mudah. Mereka mesti melewati jembatan bambu yang rapuh. Tak jarang mereka terperosok ke tanah berlumpur, yang membuat kaki terluka dan harus absen sekolah.


Reporter: Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE