INVESTIGASI

Jejak Buram Corona Inggris di Indonesia

Penyintas Corona B117 tak tahu bahwa dirinya menderita COVID-19, apalagi varian Corona asal Inggris itu. Pemeriksaan genom oleh Kemenkes masih belum jelas.

Ilustrasi : Luthfy Syahban

Senin, 08 Maret 2021

Di Brebes, Jawa Tengah, sebuah pesta kecil digelar pada Kamis, 25 Februari 2021. Itu adalah pesta pernikahan anak A, seorang perempuan asal daerah setempat. Dengan rona wajah yang berbinar-binar, A menyambut sejumlah tamu yang hadir. Perkawinan anaknya itu adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh A. Demi acara tersebut, ia pun pulang dari tempatnya merantau sebagai pekerja migran Indonesia di Arab Saudi.

Di tempat berbeda, sebuah laboratorium penelitian genom diisi oleh kesibukan para peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Mereka tengah meneliti genom Coronavirus Disease (COVID-19). Salah satu genom yang diteliti itu adalah milik A, yang dinyatakan positif COVID-19 sehari setelah kepulangan dari Arab Saudi pada akhir Januari silam.

Bahkan, dari penelitian genom virus Corona milik A tersebut, diketahui ia mengidap Corona varian baru, yaitu B117. Inilah pertama kali mutasi virus Corona yang terjadi di Inggris itu menyebar di Tanah Air. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono merilis terjadinya penyebaran corona B117 di Indonesia pekan lalu. “Ini fresh from the oven. Baru tadi malam ditemukan dua kasus,” kata Dante, 2 Maret 2021. Selain pada A, Corona varian baru itu juga ditemukan pada M, pekerja migran yang juga baru pulang dari Arab Saudi.

Baik A maupun M bertempat tinggal di Karawang, Jawa Barat. Menurut A, wanita berusia 45 tahun tersebut, ia tidak diberi informasi apa pun bahwa genomnya diambil untuk dilakukan penelitian oleh Balitbangkes dan hasilnya ia ternyata merupakan penyintas Corona Inggris. Itulah kenapa ia dan keluarganya kaget bukan kepalang ketika rombongan Satgas Penanganan COVID-19 datang ke rumahnya di Karawang pekan lalu.

Wamenkes Dante Saksono Harbuwono
Foto : Ayunda Septiani/detikcom

A, yang belum kembali dari Brebes, mendengar kabar itu dari suaminya, yang menghubungi sesaat setelah rombongan Kemenkes mengunjungi rumah sederhana mereka. Sang suami bilang bahwa dirinya terkonfirmasi positif COVID-19 varian baru dari Inggris, B117. “Itu kenapa baru sekarang dikasih tahunya? Seharusnya kan seminggu kemudian atau lima hari kemudian. Ini mah sudah lewat sebulan. Jadi, ya, otomatis keluarga saya pada panik,” tutur A kepada detikX melalui sambungan telepon, Kamis, 4 Maret 2021.

Karena kalau KBRI selalu melakukan pengecekan (PCR) setidaknya 72 jam sebelum kepulangan TKI. Tapi yang mandiri tidak tahu prosedurnya karena banyak sekali, kan."

Cerita yang dialami A memang sedikit rumit. Jadi begini, A pulang dari Arab Saudi bersama sekitar 20 pekerja migran lainnya dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia. Dia berangkat pada Sabtu, 30 Januari 2021, dari King Abdul Aziz International Airport, Jeddah. Di pesawat itu, A tidak duduk sendiri. Dia duduk bersama dua orang rekannya yang juga bekerja di bawah naungan sebuah perusahaan penyalur pekerja migran di Abha. Tanpa transit di bandara mana pun, mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Minggu, 31 Januari 2021.

Dari situ, petugas kesehatan bandara langsung membawa A beserta rombongan ke sebuah hotel di kawasan Jakarta Utara. Di sana, mereka semua dites polymerase chain reaction (PCR). Mereka beristirahat dua malam sembari menunggu hasil tesnya keluar. Saat beristirahat, A tidur bersama seorang rekan wanita di satu kamar yang disediakan pihak hotel.

Tiga hari setelahnya atau Rabu, 3 Februari 2021, A dinyatakan positif COVID-19. Dia lantas dirujuk ke Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet, Kemayoran, untuk perawatan intensif. Di sana, A dirawat sekamar dengan satu orang penyintas COVID-19 lainnya. Selama masa perawatan, A mengaku tak merasakan gejala apa pun. Hanya sedikit lelah lantaran perjalanan jauh yang dia tempuh dari Arab Saudi ke Indonesia. “Saya nggak ada keluhan sakit, sedikit pun nggak ada. Puyeng, pilek, dan batuk sedikit pun nggak ada. Mungkin kalau kecapaian, kemungkinan ya,” imbuhnya.

Suasana di lorong Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet
Foto : Pradita Utama/detikcom

Sebelas hari kemudian, A dinyatakan sembuh dari COVID-19. Pada Minggu, 4 Februari 2021, ia dijemput adiknya dari Wisma Atlet untuk pulang ke rumahnya di Karawang. Dia singgah beberapa jenak untuk bertemu dengan suami dan ibu mertuanya. Kira-kira lima menit, kata A, ia lantas melanjutkan perjalanan menuju Brebes.

Pada Kamis, 4 Maret 2021, Satgas COVID-19 Jawa Tengah berkunjung ke rumah A di Brebes untuk mengambil sampel darah dia dan keluarganya di Brebes untuk penjajakan ulang. Hal yang sama dilakukan Tim Satgas COVID-19 kepada keluarga A di Karawang. Tetapi, kata A, dia sekarang sudah sehat. “Alhamdulillah sampai sekarang juga nggak (sakit). Makan doyan, demam nggak, panas nggak,” pungkas A.

Cerita M, salah satu penyintas Corona B117 lainnya, beda lagi. Sementara dua hari sebelum pulang ke Indonesia A sempat dites PCR, M tidak sama sekali. M mengaku terakhir kali tes PCR pada Desember 2020 di Arab Saudi. Sedangkan kepulangannya ke Indonesia baru terjadwal pada Rabu, 27 Januari 2021. Menurut Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia Riyadh, Suriyan, mestinya hasil tes PCR M itu sudah tidak berlaku. Di Saudi ada aturan bahwa pelaku perjalanan antarnegara mesti memiliki hasil tes PCR minimal tiga hari sebelum perjalanan.

Lalu mengapa M bisa pulang ke Indonesia jika hasil tes PCR-nya kedaluwarsa? Suriyan menduga M pulang dengan fasilitas perusahaan penyalur yang menaunginya, bukan melalui fasilitas KBRI Riyadh. “Karena kalau KBRI selalu melakukan pengecekan (PCR) setidaknya 72 jam sebelum kepulangan TKI. Tapi yang mandiri tidak tahu prosedurnya karena banyak sekali, kan,” ungkap Suriyan kepada detikX, melalui telepon video, Kamis, 4 Maret 2021.

Ilustrasi Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi pintu khusus kedatangan pekerja migran Indonesia.
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

M memang pulang dengan fasilitas perusahaan penyalur imigran Almawarid Manpower Solutions Company. Perusahaan ini sempat memintanya tes PCR. Tapi tes itu dilakukan lebih dari empat pekan sebelum jadwal kepulangan M. Sedangkan saat menunggu jadwal kepulangan itu, M menetap sementara di sebuah asrama yang disediakan perusahaan. Karena itu, sampai pada hari-H kepulangan, M tak bisa menunjukkan hasil tes PCR-nya sebagai syarat wajib perjalanan internasional dari Kerajaan Arab Saudi. Tetapi toh dia tetap bisa pulang ke Indonesia dengan pesawat Qatar Airways.

Aku dibilangnya bukan COVID-19, cuma demam biasa saja."

Pesawat M terbang dari Bandara King Abdul Aziz pada Rabu, 27 Januari 2021. Dia pulang bersama 27 orang pekerja migran Indonesia lainnya yang berada dalam naungan Almawarid. Di pesawat, M duduk di bersama dua pekerja migran lainnya. Sampai kemudian pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis, 28 Januari 2021. Di situ, dia sempat dimintai hasil tes PCR oleh petugas kesehatan bandara, tapi M tak bisa menunjukkan karena memang tak ada. Walhasil, M bersama rombongan pun dibawa petugas ke sebuah hotel di Jakarta Utara. Lagi-lagi, di hotel ini, mereka dites usap dan diminta beristirahat sampai hasilnya keluar. Sehari menginap di hotel, M bersama 16 rekan lainnya dipindah ke Wisma Atlet Pademangan.

Koordinator Dokter Umum Rumah Sakit Darurat COVID-19 Tommy Antariksa menjelaskan Wisma Atlet Pademangan diperuntukkan sebagai tempat repatriasi para pekerja migran yang baru pulang dari luar negeri. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Kemenkes Nomor 8 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi. Dalam SE ini tertulis bahwa semua pekerja migran yang baru pulang dari luar negeri wajib melakukan karantina setidaknya lima hari sebelum dibolehkan pulang ke rumah. “Kalau misal positif (COVID-19), berarti langsung dioper ke Wisma Atlet Kemayoran atau tetap di Pademangan. Itu menyesuaikan dengan kondisi klinisnya,” jelas Tommy kepada detikX.

Tommy Antariksa, Koordinator Dokter Umum Rumah Sakit Darurat COVID-19
Foto: Dok Pribadi.

Tetapi M, tanpa informasi dari petugas kesehatan, mengaku sama sekali tak mengerti bahwa Wisma Atlet Pademangan adalah tempat karantina. Petugas kesehatan Wisma Atlet Pademangan hanya bilang M butuh istirahat karena demam. “Aku dibilangnya bukan COVID-19, cuma demam biasa saja,” jelasnya saat detikX berkunjung ke rumahnya di Karawang, Kamis, 4 Maret 2021. Namun, hal itu dibantah oleh Subkoordinator Karantina Kesehatan dan Pos Lintas Barat Kemenkes Made Yosi Purbadi Wirantena. “Sudah diinfokan positif (COVID-19),” tulis Yosi melalui pesan singkat kepada detikX.

Terlepas dari itu, selama dikarantina, M mengaku sangat rindu kampung halaman. Apalagi ibunya berulang kali mengadu sembari menangis kepada pihak sponsor yang membawa M ke Arab Saudi agar dia segera dipulangkan. Ibunya kini lumpuh dan hanya tinggal berdua bersama anak M di rumah. Sampai-sampai pada hari kedelapan di Wisma Pademangan, M ogah makan karena teringat ibunya itu. Karena itulah diduga yang jadi penyebab kondisi kesehatan M mulai menurun. Pada hari ke-10, dia terserang demam, batuk, dan sesak napas. Dia pun dirujuk ke RSUD Tugu Koja, Kamis, 11 Februari 2021.

Hasil pemeriksaan radiologi M menyebutkan dia terdiagnosis pneumonia. Namun, sampai hari itu juga, M masih tidak tahu bahwa dia terpapar COVID-19. Hasil tes PCR yang menyatakan bahwa dia positif COVID-19 tak pernah ditunjukkan kepada M. Menurutnya, dokter RSUD Tugu Koja hanya bilang M butuh istirahat tambahan. Selama 10 hari dirawat di rumah sakit tersebut, dia sempat dipasangi ventilator sebagai alat bantu pernapasan dan dirawat intensif sampai kondisinya benar-benar membaik. Pada Minggu, 21 Februari 2021, M diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.

Sehelai dokumen kesehatan dari RSUD Tugu Koja menyatakan, selama masa perawatan, M tak mengalami gejala dan keluhan terkait COVID-19. Namun, berdasarkan dokumen hasil rekam radiologi M yang didapatkan detikX, saat dipulangkan, M masih memiliki masalah infiltrasi paru dan dinyatakan suspek pneumonia. Tetapi, apa boleh dikata, pihak RSUD Tugu Koja sudah memperbolehkan M pulang. M pun menelepon sponsornya untuk menyediakan mobil dan menjemputnya pulang. Dari situ, M kemudian dijemput pulang oleh kakaknya dan seorang penyalur pekerja migran berinisial UA ke Karawang.

Sampai kemudian pada Rabu, 3 Maret 2021, Tim Satgas COVID-19 Karawang berkunjung ke rumahnya untuk melakukan pelacakan ulang. Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Karawang, Fithra Hergyana, mengatakan pelacakan dilakukan terhadap seluruh kontak erat M. “Balitbang Kemenkes ke Karawang nanti ambil sampel dari kontak terdekatnya, dilaksanakan nanti whole genome sequencing (WGS) dari yang kontak erat,” kata Fithra kepada detikX pekan lalu.

Hasil diagnosa pasien M di RSUD Tugu Koja
Foto : Istimewa. Dipublikasikan sesuai izin pemiliknya.

Namun bagaimana kronologi pengecekan genom M, dan sebelumnya A, yang terdeteksi Corona B117, tetap masih buram. Bersamaan dengan rilis yang dilakukan Wamenkes Dante, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio mengatakan dua kasus itu sudah ditemukan beberapa pekan sebelumnya. “Datangnya bukan tadi malam. Datangnya beberapa minggu yang lalu,” ungkap Amin.

Di luar itu, soal pelacakan ulang terhadap dua kasus ini juga tidak jelas arahnya. Dari informasi yang dikumpulkan detikX, Satgas COVID-19 dan Kemenkes hanya melakukan pelacakan ulang B117 kepada keluarga dan kontak erat A dan M setelah keduanya pulang dari Wisma Atlet dan RSUD Tugu Koja. Belum diketahui pengecekan ulang juga dilakukan kepada sekitar 46 pekerja migran lainnya yang pulang bersama A dan M dari Saudi.

Padahal Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Karawang dr Nanik Djojana sempat menyebut, selain kedua suspek itu, ada empat positif COVID-19 lainnya dari rombongan kepulangan pekerja migran yang pulang bersama A dan M. “Itu ada tujuh yang positif. Yang tiga itu (pulang dengan Qatar Airways) positif dari Karawang. Dari tiga positif Karawang itu, satu yang mengandung B117. Terus yang dari Garuda Indonesia itu ada empat positif. Dua dari Karawang, yang satu B117,” ujar Nanik pekan lalu.

detikX sudah menghubungi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Dr dr Vivi Setiawaty untuk mengetahui bagaimana alur WGS yang dilakukan Balitbangkes. Namun, hingga artikel ini diterbitkan, Vivi belum mengiyakan permintaan wawancara. Kemenkes sudah dua kali menyebar undangan konferensi pers untuk menjelaskan soal B117. Namun dua kali pula konferensi pers itu dibatalkan.

“Mohon dapat dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Agenda presscon (press conference) sore ini kembali ditunda. Bukan PHP (pemberi harapan palsu), namun memang betul-betul tidak dapat dilaksanakan hari ini,” begitu isi pesan pembatalan konferensi pers Kemenkes pada Kamis, 4 Maret 2021.

Penulis: Fajar Y Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE