INTERMESO

Menaklukkan Bahasa Mandarin

“Kalau nadanya dikoreksi berkali-kali, semangatnya langsung turun. Tekad buat belajarnya kurang kuat.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 22 Januari 2023

Rasanya Merry Renatta ingin menyerah saja. Sudah dua bulan ia mengikuti kursus online Bahasa Mandarin secara intensif, tapi bahasa dari dataran China ini masih saja sulit ia kuasai. Ditambah lagi Merry harus mengikuti kursus di sela-sela kesibukannya bekerja. Sesi kursus selama dua jam itu diadakan sebanyak dua kali dalam seminggu.

“Aku belajar karena tuntutan pekerjaan, sih. Soalnya aku kerja di bidang ekspor-impor barang dari China. Aku sering berhubungan dengan orang-orang sana. Bos minta kita belajar supaya komunikasinya lebih lancar,” ungkap Merry.

Semua orang yang pernah belajar Bahasa Mandarin pasti pernah merasakan susahnya memahami pelafalan dan penulisan askara Tiongkok ini. Jika melakukan pencarian di Google dengan kata kunci bahasa tersulit di dunia, misalnya, bahasa resmi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Taiwan itu hampir selalu berada di urutan lima teratas.

Sebuah lembaga bernama The Foreign Service Institute (FSI) pernah membuat daftar bahasa yang sulit dipelajari orang berbahasa Inggris. Lembaga milik pemerintah Amerika Serikat ini bertanggung jawab melakukan training bahasa buat pegawai pemerintahnya yang bertugas di luar negeri. Hasilnya, bahasa China berada di urutan paling sulit bersama dengan bahasa lain seperti Arab, Jepang, dan Korea.

Di antara murid yang mendaftar kelas online Bahasa Mandarin milik Tjhen Wandra, banyak juga di antara mereka yang akhirnya menyerah di tengah jalan. Di sosial media seperti YouTube, Instagram dan TikTok, laki-laki yang akrab disapa Tjhen ini dikenal rajin membuat konten edukasi belajar Bahasa Mandarin. Ia juga memiliki sebuah lembaga kursus Bahasa China yang berdomisili di Bali.

“Misalkan yang daftar 21 orang, yang keluar bisa 20 orang. Bisa dibilang hampir imbang, lah,” kata laki-laki berusia 36 tahun ini.

Ilustrasi Bahasa Mandarin
Foto: Golero 

Selain mempelajari ribuan karakter dan menghafal goresan-goresan hanzi, pelafalannya juga sangat sulit. Tjhen mengakui, muridnya paling sulit menguasai nada Bahasa Mandarin. Bahasa yang berasal dari dataran China ini terdiri dari empat nada dasar ditambah nada kelima netral. Jika salah intonasi atau nada saja, arti katanya bisa berbeda. Misalnya, tāng dengan nada tinggi berarti sup dan táng dengan nada naikberarti gula.

“Menulis Mandarin itu seperti menggambar, butuh ketelian. Jangan sampai kurang goresan, karena bisa beda arti atau malah nggak punya makna. Pelafalan beda nada, beda arti, harus mikir pakai nada berapa,” tutur Tjhen yang sudah membuka kursus online sejak tahun 2019.

“Kebanyakan murid saya orang Indonesia nulisnya pintar, tapi buat ngomong agak kurang. Kalau nadanya dikoreksi berkali-kali, semangatnya langsung turun. Tekad buat belajarnya kurang kuat.”

Tjhen cukup beruntung karena lahir dari keluarga asal Singkawang, Kalimantan Barat, yang masih kental kebudayaan China-nya. Sehari-hari, keluarganya dan kebanyakan orang keturunan China di sana menggunakan bahasa Hakka, sebuah dialek China yang berasal dari Provinsi Guangdong di China.

“Bahasa Mandarin beda sama Bahasa Hakka sebetulnya. Bahasa Hakka seperti bahasa daerah. Tapi grammar-nya bisa dibilang 50% hampir miriplah sama Bahasa Mandarin. Jadi saya lumayan terbantu lebih cepat menguasai Bahasa Mandarin,” ucap Tjhen yang sudah menerbitkan buku berjudul ‘30 Menit Belajar Bahasa Mandarin bersama Tjhen Wandra.’ Saking fasihnya Tjhen dengan Bahasa Hakka, ia terpaksa vakum sekolah selama satu tahun demi mempelajari Bahasa Indonesia.

Ketika masih sekolah, Tjhen pelan-pelan mengasah kemampuan Bahasa Mandarin dengan mengikuti kursus. Selepas lulus SMA, ia tak begitu kesulitan saat harus mengenyam Pendidikan sarjanan di University of International Business and Economics (UIBE) di Beijing, China. Sebelum masuk kuliah, ia terlebih dahulu mendalami Bahasa Mandarin di Beijing Language and Culture University (BLCU) selama satu semester.

Kini Tjhen memilih berkarir sebagai tenaga pengajar Bahasa Mandarin secara mandiri. “Murid saya sekarang malah 60% non Tionghoa, 40% keturunan Tionghoa. Malah yang non Tionghoa Bahasa Mandarin-nya lebih bagus dari murid Tionghoa. Salah satu faktornya karena mereka sudah belajar lebih lama dan dan sering latihan, sering praktik bicara,” ucap pemilik akun YouTube @TjhenWandra yang sudah diikuti lebih dari 219 ribu subscriber ini.

Ilustrasi ucapan imlek
Foto: Kin Cheung/AP

***

Setelah dua tahun menempuh pendidikan pascasarjana di Wuhan University, Minche Tanamal alias Xiao Min menepati janji kepada orang tuanya untuk pulang ke Indonesia. Namun, sejak kembali ke tanah air, Xiao Min yang sudah fasih berbahasa Mandarin ini merasa sulit menemukan lawan bicara berbahasa Mandarin di Indonesia.

Sejago apapun kita menguasai sebuah bahasa, pengetahuan akan bahasa itu bakalan terkikis juga kalau nggak pernah di-up grade atau nggak pernah dipakai lagi,” kata perempuan yang dibesarkan di lingkungan keluarga Medan ini.

Kendala serupa juga Xiao Min temukan kepada orang-orang yang sedang mulai belajar Bahasa Mandarin. Para subscriber di akun YouTube miliknya, @Chenminzi_Xiaomin, juga kesulitan mencari teman berbicara dalam Bahasa Mandarin. Melalui akun itu, Xiao Min kerap berbagi informasi seputar Bahasa Mandarin dan budaya China. Akun yang ia buat sejak pandemi COVID-19 kini sudah diikuti 18,3 ribu pengikut.

Perempuan yang tak ingin dipanggil dengan sebutan Lao Shi alias guru ini membuat percobaan dengan mendirikan sebuah speaking club berbayar. Dalam forum itu, peserta yang jumlahnya dibatasi hanya 18 orang ini dapat saling berkomunikasi melalui fitur video call dalam Bahasa Mandarin. Untuk mengakomodir speaking club ini, Xiao Min tidak sendiri. Ia dibantu oleh seorang teman asal Nigeria yang sangat fasih berbahasa Mandarin. Temannya ini pernah menempuh pendidikan sarjana di Beijing dan mengambil jurusan pendidikan guru bahasa Tiongkok.

Speaking club ini aku dedikasikan buat orang yang ingin meningkatkan skill Bahasa Mandarin terutama untuk speaking. Karena banyak teman yang sudah belajar Mandarin sampai level mumpuni, tapi untuk berinteraksi masih nggak percaya diri,” katanya. “Aku pengin mereka merasa seolah-olah kita sedang ngobrol sama teman di China. Kita bikin grup Whatsapp-nya juga.”


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE