INTERMESO

Imlek Tanpa Kue Lapis Nenek

Di Indonesia, ini adalah kali pertama Imlek digelar di masa pandemi COVID-19. Temu virtual menjadi pilihan bagi yang merayakan Imlek tahun ini.

Foto: Potret perayaan Imlek 2021 (Antara FOTO)

Sabtu, 13 Februari 2021

Masih terbayang di benak Shinta Utami kelezatan kue lapis legit prunes yang dibuat khusus oleh sang nenek. Meski sudah berusia 72 tahun, neneknya masih begitu telaten dan cekatan membuat kue. Tak heran ia mampu menyelesaikan kue yang waktu pembuatannya bisa memakan waktu berjam-jam. Di keluarga perempuan asal Pontianak ini, kue lapis menjadi salah satu menu wajib pada hari perayaan tahun baru Imlek. Di kalangan etnis Tionghoa, kue lapis legit dipercaya sebagai simbol rezeki yang berlapis-lapis.

Sudah hampir setahun Shinta kembali merantau di Jakarta, wajar saja jika ia begitu kangen dengan sang nenek dan tentu saja kue lapis prunes buatannya. Shinta sudah menanti hari Imlek di tahun 2021 ini, tapi berita yang berseliweran mengenai perkembangan pandemi COVID-19 membuat dirinya harap-harap cemas. Dan benar saja, kekhawatiran karyawan swasta di sebuah bank ini menjadi kenyataan. Shinta harus memendam hasratnya untuk pulang kampung dan merayakan Imlek bersama keluarga.

“Tahun lalu aku pikir nggak mungkin lah COVID-19 masih ada sampai Imlek tahun ini, ternyata sampai sekarang belum tuntas juga. Ya, aku nggak berani pulang, lah. Aku nggak mau egois dan ambil resiko. Padahal tahun sebelumnya jauh hari aku sudah beli tiket pesawat untuk pulang,” tutur Shinta.

Merayakan Imlek di tengah pandemi COVID-19
Foto : Dedy Isyanto/detikcom

Penanggulangan dampak pandemi COVID-19 di Indonesia baru mulai gencar setelah kasus pertama terungkap pada Maret 2020. Sebelum pandemi, Shinta biasa pulang dua hari sebelumnya agar bisa merayakan malam Imlek bersama. Selain beribadah di klenteng terdekat, keluarga besar Shinta berkumpul dan menggelar acara makan bersama dengan sanak saudara. Salah satu makanan khas yang selalu dihidangkan saat tahun baru adalah Yu Sheng. Yu Sheng adalah Salad yang dibuat dengan irisan atau untaian sayuran berwarna-warni, irisan ikan salmon mentah segar, bumbu, dan saus plum.

Kita tetap bagi-bagi angpao, tapi ya paling ditransfer. Soalnya kondisi juga gini kan.'

“Yu Sheng dianggap sebagai salah satu makanan yang menguntungkan dan mewakili kemakmuran. Biasanya disajiin di piring besar, semua anggota keluarga pegang sumpit sambil sama-sama mengaduk makanan dan mengangkat setinggi-tingginya sambil mengucapkan "Lao Qi" atau "Lao Hei",” kata Shinta. Namun, karena kini ia hanya merantau seorang diri di Jakarta, ia cukup senang bisa merayakan malam Imlek dengan makan malam virtual dengan keluarganya di Pontianak.

* * *

Ratusan orang mengantre untuk masuk ke Vihara Dharma Bakti, Jakarta Barat, Jumat pagi. Mereka berdiri di atas garis merah yang sudah dipasang petugas Vihara yang berada di wilayah Glodok, Kecamatan Taman Sari tersebut. Setiap garis berjarak satu meter, dengan maksud sebagai bagian dari protokol kesehatan pencegahan penularan virus corona (COVID-19).

Steven Wijaya salah satu berdiri di tengah antrean itu bersama sang istri dan seorang anak perempuannya yang berusia 10 tahun. Mengunjungi Vihara untuk sembahyang Imlek sudah menjadi tradisi di keluarga Steven. Pada perayaan imlek tahun ini, Steven merasakan perbedaan yang sangat kentara. "Imlek sekarang jelas jauh berbeda. Dulu begitu datang sudah penuh sesak, kita sembahyang nggak harus ngantre seperti ini,” jelasnya.

Tradisi bagi-bagi angpao pada saat perayaan Imlek
Foto : Getty Images/Chee Gin Tan

Selain itu, setiap Imlek Vihara Dharma Bakti penuh dengan warga yang ingin melihat berbagai pertunjukan khas Imlek. Biasanya ada berbagai macam acara yang digelar untuk meramaikan perayaan imlek, tak terkecuali pertunjukan barongsai.

Usai pulang dari vihara, Steven dan keluarga langsung melanjutkan perayaan Imlek di rumah. Padahal, biasanya ia dan keluarga merayakan imlek dengan mengunjungi rumah sanak saudaranya yang terpencar di Jakarta dan Bekasi. Meski hanya di rumah dan melakukan pertemuan virtual, Steven tetap menjalankan tradisi lama dengan cara yang baru. Salah satunya yaitu tradisi bagi-bagi angpao. Angpao biasanya hadiah uang yang dimasukkan ke amplop di kala imlek.

"Kita tetap bagi-bagi angpao, tapi ya paling ditransfer. Soalnya kondisi juga gini kan," ucapnya. Tahun-tahun sebelumnya, Steven juga kerap memberikan angpao digital kepada keluarga besarnya di Bangka, Pangkal Pinang. "Selain di Jakarta ada juga saudara yang tinggal di Bangka. Kalau dulu saat imlek beberapa kali ke sana, tapi kalau nggak punya lewat transfer saja jadinya," tutur Steven.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE