INTERMESO

Maaf Saya Tak Bisa Bahasa Mandarin

Lo Chindo (keturunan China-Indonesia), tapi, kok, nggak bisa Bahasa Mandarin?”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 21 Januari 2023

Walaupun terlahir dengan mata sipit, kulit putih, dan menyandang nama marga Lee, pemilik nama lengkap Andrew Lee ini tidak bisa cas cis cus dalam berbahasa Mandarin. Warga negara Indonesia keturunan etnis Tionghoa ini malahan paling takut jika tiba-tiba ada orang asing mengajaknya bicara menggunakan bahasa nenek moyangnya.

Pernah suatu kali Andrew jalan-jalan ke Sydney, Australia. Seorang ibu-ibu keturunan China terlihat sedang kebingungan dan hendak menanyakan Andew sesuatu. Dari penampilan fisiknya, wajar saja jika ibu itu mengira Andrew juga berasal dari dataran China. Tapi jangankan menjawab pertanyaan si ibu, Andrew sama sekali tak mengerti apa yang dia ucapkan.

Sorry, I don’t speak Chinese.” Andrew buru-buru menangkis pertanyaan ibu itu yang kemudian direspon dengan ocehan. “Pas dia ngomel-ngomel pun sebenarnya gue nggak ngerti dia ngoceh apa,” kata laki-laki berusia 29 tahun ini sembari tertawa.

Di Bali, entah sudah berapa kali Andrew dikira fasih berbahasa Mandarin. Biasanya petugas loket tiket di tempat wisata sudah mengambil ancang-ancang untuk mengarahkan Andrew dan keluarganya ke loket turis asing. “Begitu tahu gue ngomongnya pakai Bahasa Indonesia, mereka jadi malu sendiri,” ucapnya.

Dari kedua orang tuanya, Andrew sering mendengar kisah heroik kakek dan nenek buyutnya berlayar dari China bagian selatan, tepatnya di Provinsi Guangdong, untuk bermigrasi ke Indonesia. Bahasa Khek atau Hakka merupakan bahasa daerah yang digunakan warga di Provinsi Guangdong.

Ketika keluarga Andrew berkumpul, seperti di momen Imlek, misalnya, mereka lebih sering ngobrol menggunakan Bahasa Khek ketimbang Bahasa Mandarin. Bukan hanya keluarga Andrew saja, di Pontianak atau daerah Kalimantan Barat secara umum juga fasih berbicara Bahasa Khek atau Hakka.

Ilustrasi keluarga warga negara Indonesia keturunan China
Foto: Getty Images 

Bahasa Khek sama halnya dengan kota-kota di Indonesia yang memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Sementara Bahasa Mandarin yang berbasis dialek China bagian Timur atau Utara dijadikan sebagai bahasa yang mempersatukan seluruh Tiongkok.

“Di rumah kalau lagi pada ngumpul, gue ngerasa terkucilkan sendiri. karena Bahasa Khek nggak lancar, Bahasa Mandarin juga nggak bisa,” katanya.

Kedua orang tua Andrew sempat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar berbasis Bahasa Mandarin. Namun rezim otoriter Orde Baru di bawah Presiden Suharto mengeluarkan kebijakan untuk menutup sekolah berbahasa Mandarin, termasuk sekolah kedua orang tuanya. Akibatnya mereka jadi tidak lancar berbahasa Mandarin. Andrew pun sempat mengambil kursus Bahasa Mandarin di luar jam pelajaran sekolah, tapi hal itu tidak serta merta membuat Andrew memahami bahasa nenek moyangnya.

“Orang tua gue masih bisa pakai Bahasa Mandarin untuk penggunaan sehari-hari. Kalau gue ngertinya cuma xie xie (Terima kasih) sama wo ai ni (aku mencintaimu) doang,” canda Andrew.

Lelah rasanya setiap kali Andrew harus meladeni kerabat atau teman yang mempertanyakan kefasihannya berbahasa Mandarin. “Banyak banget yang suka tanya ke gue ‘Lo bisa Bahasa Mandarin nggak, sih? Lo Chindo (keturunan China-Indonesia), tapi kok, nggak bisa Bahasa Mandarin? Setiap ngeladenin pertanyaan kayak gini, gue jadi ngerasa krisis identitas.”

***

Saking lancarnya berbicara Bahasa Mandarin, Minche Tanamal malah dikira bukan WNI oleh para subscriber-nya dii akun YouTube @Chenminzi_Xiaomin. Melalui akun itu, Minche atau perempuan yang akrab disapa Xiao Min ini berbagi informasi tentang Bahasa Mandarin dan budaya China. Akun yang ia buat sejak pandemi COVID-19 kini sudah diikuti 18,3 ribu pengikut.

Audience aku punya minat belajar Bahasa Mandarin karena pengin punya prospek karir yang lebih besar dan mau kerja di luar negeri. Ada juga yang suka sama kebudayaan Tionghoa,” ucap penggemar Jay Chou ini.

Xiao Min lahir dari Keluarga Medan ‘totok’, namun ia tumbuh besar di Bandung, Jawa Barat. Di rumah, Xiao Min berinteraksi dengan keluarganya menggunakan Bahasa Hokkian. Namun, Ketika bergaul dengan temannya, Xiao Min memakai Bahasa Sunda. “Karena aku besarnya di Bandung, Bahasa Hokkian aku nggak bagus. Tapi teman-teman juga suka bilang Bahasa Sunda sama Bahasa Indonesia aku logatnya aneh,” katanya.

Minche Panama atau Xiaomin
Foto:  Dok Pribadi

Saat masih kecil, perempuan kelahiran tahun 1993 ini sempat didaftarkan kursus Bahasa Mandarin oleh orang tuanya. Saat itu, Xiao Min merasa Bahasa Mandarin adalah Bahasa yang sulit dipelajari. Namun, rasa cintanya terhadap Bahasa Mandarin malah muncul saat ia duduk di bangku SMA.

“Bahasa Mandarin itu terasa sulit karena kita dari dulu belajarnya teoritis dan linguistik. Pas aku SMA ketemu guru Bahasa Mandarin yang kebetulan bisa nyanyi dan main alat musik. Dia kasih tahu konsep belajar di mana saat ngomong Mandarin, kan, ada nadanya. Sama aja kayak kita lagi nyanyi,” kata Xiao Min yang kebetulan menyukai lagu berbahasa China.

Sejak lulus SMA, Xiao Min semakin menggeluti Bahasa Mandarin. Ia memperdalam bahasa itu dengan mengambil jurusan Sastra China di Universitas Kristen Maranatha Bandung. “Kalau buat aku pribadi dengan bisa Bahasa Mandarin ada pride-nya sendiri. Kayak lebih ada jati dirinya, 'oh, iya, aku Chindo," katanya

Setelah lulus sarjana pun Xiao Min mendapat beasiswa dari pemerintah China dan melanjutkan pendidikan pascasarjana di Wuhan University pada tahun 2015. Ia mengambil jurusan komunikasi dan jurnalisme. Selain membuat konten di media sosialnya, kini Xiao Min bekerja sebagai freelance di sebuah platform online novel. Xiao Min bertugas sebagai penerjemah Bahasa China.

“Dengan belajar di negaranya langsung dan ketemu banyak orang jadi ngebuka wawasan aku. Ternyata Bahasa Mandarin nggak sesulit dan semenyeramkan itu,” ungkapnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE