INTERMESO

Banyak Rupa Obama dan Saudaranya

“Kami memang bukan keluarga biasa. Mengumpulkan kami sebagai satu keluarga yang normal jelas akan sulit.”

Mark Okoth Obama Ndesandjo bersama saudara tirinya Barack-Obama pada 2008
Foto: Mark Okoth Obama Ndesandjo

Jumat, 30 Juni 2017

Ini lah keluarga besar Barack Obama. Ada satu ayah, empat ibu, dan delapan anak. Di antara delapan Obama bersaudara, ada Barack Obama yang dua kali menjabat Presiden Amerika, ada pula adiknya, Mark Obama yang seorang Yahudi, ada lagi Abango Malik Obama yang seorang muslim, dan si bungsu, George Obama.

Sama-sama tak tumbuh besar bersama ayah mereka, Barack Obama Senior, hidup George beda bak langit dan bumi dengan Barack Obama. Barack mungkin tak kaya raya, tapi siapa tak kenal dia? Tapi siapa kenal George Obama?

George lahir 21 tahun setelah Barack, buah hubungan Obama Senior dengan istri keempatnya, Jael Otieno. George belum berumur setahun saat ayahnya meninggal akibat kecelakaan gara-gara mengemudi dalam kondisi mabuk berat. Tanpa ayah dan tumbuh besar di lingkungan miskin di Kenya, negara di bagian timur benua Afrika, hidup George benar-benar keras dan “penuh warna”.

George menuliskan kisah hidupnya dalam Homeland, terbit dua tahun setelah kakak tirinya, Barack Obama, terpilih sebagai Presiden Amerika. Ditinggal mati ayah kandungnya, dan ditinggal pergi ibu dan ayah tirinya, George tumbuh jadi pemberontak. “Aku marah dan merasa diabaikan,” dia menulis. Di kampung Haruma, dia merintis “karir” sebagai penjahat kecil-kecilan. “Aku lumayan jago dengan tinjuku, aku tahu bagaimana caranya menghajar orang…..Aku ingin menjadi anggota gang yang paling keras.”

Dia pernah dipenjara gara-gara punya narkoba, dan pernah pula dibui lantaran terlibat perampokan bersenjata. “Waktu di penjara berjalan jauh lebih cepat…..Kamu seolah-olah telah melampaui sembilan tahun, meski hanya dipenjara sembilan bulan,” George menuturkan kepada Guardian, beberapa tahun lalu.

George Obama, saudara tiri Barack Obama
Foto : PRI

Waktu di penjara berjalan jauh lebih cepat…..Kamu seolah-olah telah melampaui sembilan tahun, meski hanya dipenjara sembilan bulan”

George Obama, adik tiri Barack Obama

Sekarang George tinggal di Haruma, perkampungan kumuh di pinggir Nairobi, ibukota Kenya, sebagai aktivis sosial. “Aku sudah melakukan banyak hal buruk dalam hidupku dan aku menyesalinya….Aku sudah pernah hidup baik, hidup dengan cara buruk, dan sekarang kembali ke kehidupan yang baik.” Di kampung itu, lewat Yayasan Obama Brother, George bersama beberapa temannya, melatih anak-anak miskin bermain sepakbola dan beladiri, serta mendidik mereka dan menjauhkannya dari pengaruh buruk.

Seumur-umur, George, kini berusia 35 tahun, baru dua kali bertemu dengan kakak tirinya yang namanya mendunia itu. Dalam memoarnya, Dreams From My Father, Barack Obama menuliskan kesannya saat bertemu George ketika dia berkunjung ke Kenya pertama kali pada 1988. “Dia bocah yang ganteng, dengan kepala bulat dan tatapan yang waspada.”

Ketika Barack Obama mengumumkan pencalonan sebagai Presiden Amerika pada 2007, majalah Vanity Fair, menelusuri jejak George di Haruma. Majalah itu menggambarkan bagaimana George hidup di gubuk dengan penghasilan kurang dari satu dolar Amerika per hari. George memang hidup pas-pasan di Haruma, tapi dia kesal bukan kepalang membaca tulisan majalah itu.

“Hidupku baik-baik saja….Majalah itu sengaja melebih-lebihkan semuanya,” kata George kepada CNN. Tapi seorang tetangganya punya pendapat lain. Emelda Negei berharap Barack Obama mau membantu George. “Paling tidak dia mengunjungi adiknya dan melihat sendiri bagaimana hidupnya.”

George hidup susah, tapi sepertinya dia enggan dikasihani. Dia juga tak mau terus menerus dikaitkan dengan kakak tirinya, Barack Obama. “Aku tak mengenal dia dengan baik. Tapi dia orang baik, orang yang inspiratif,” kata George diplomatis. Saat wartawan Guardian bertanya bagaimana perasaannya menjadi saudara Barack Obama, dia berkelit. “Aku tak mau berkomentar soal itu……Kalian tahu alamatnya dan bisa bertanya sendiri kepada dia….hahaha.”

* * *

Mark Okoth Obama Ndesandjo meluncurkan buku memoar
Foto: Mark Okoth Obama Ndesandjo


Di antara delapan Obama bersaudara, jika ada yang mirip dengan Barack, maka dia adalah Mark Okoth Obama Ndesandjo, kini 52 tahun.

Mark empat tahun lebih muda dari Barack. Dia lahir dari buah perkawinan Barack Obama Senior dengan istri ketiganya, Ruth Beatrice Baker. Sama seperti Barack, ibu Mark juga keturunan kulit putih. Jika keluarga Barack Obama merupakan jemaah Gereja Methodist, maka Mark, seperti ibunya, seorang Yahudi.

Serupa pula dengan Barack yang kuliah di kampus-kampus top Amerika, Mark juga lulus dari universitas kondang, Brown University dan Stanford University. Dia juga punya gelar MBA dari Emory University. Sudah belasan tahun Mark tinggal di pinggiran kota Shenzhen, Tiongkok, dan menikah dengan warga Negeri Tirai Bambu, Liu Zuehua. “Dulu aku menyangka aku lah anak Obama yang paling pintar,” kata Mark, kepada Times of Israel.

Sejak kecil, ayah mereka, Barack Obama Senior, dikenal sebagai anak yang pintar dan percaya diri. Lulus dari SMA, dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Amerika. Obama Senior lulus dari University of Hawaii dan Harvard University. Bakat itu menurun kepada beberapa anaknya, Barack, Mark dan Auma Obama, anak perempuan satu-satunya.

Obama Senior memang pintar di sekolah, tapi tidak dalam urusan rumah tangga. Anak-anaknya tercerai berai dan tak saling mengenal hingga mereka dewasa. “Kami memang bukan keluarga biasa,” kata Mark. Dia mengibaratkan dia dan saudara-saudara tirinya sebagai sekawanan kucing. “Mengumpulkan kami sebagai satu keluarga yang normal jelas akan sulit.”

Barack Obama bisa dibilang tak kenal sama sekali ayahnya lantaran Obama Senior meninggalkan dia dan ibunya sejak dia masih bayi. Tapi adik tirinya, Mark, lumayan kenal seperti apa tabiat ayah mereka. Ibunya, Ruth Baker, berpisah dengan Obama Senior saat Mark sudah berumur delapan tahun. “Aku masih ingat bagaimana ayah memukuli ibu dan aku….Aku punya masa kecil yang sulit,” kata Mark kepada harian South China Morning Post. Sebelum menggugat cerai, Ruth bersama Mark sempat kabur dari Kenya dan pulang ke Amerika untuk menghindari perilaku buruk Obama Senior.

Mark Okoth Obama Ndesandjo digendong ibunya, Ruth Baker
Foto : Mark Okoth Obama Ndesandjo

Mark bertemu kakaknya Barack pertama kali pada 1988. Suatu hari di siang bolong yang terik, mendadak ada seorang pemuda dan seorang gadis nongol depan rumahnya. Pemuda itu, Barack Obama, datang dari jauh, bersama Auma Obama, adik tirinya. “Ibuku membuka pintu dan gemetaran. Dia bilang, ”Kakakmu datang dari Amerika dan ingin bertemu denganmu,” Mark menuturkan. “Dia sangat mirip denganku dan kami sama-sama kuliah di Ivy League, kampus top Amerika.”

Barack Obama datang ke kampung halaman ayahnya untuk mencari “akar” keluarganya yang hilang. ”Dia ingin tahu banyak soal ayah kami dan mencecarku dengan banyak pertanyaan,” Mark mengisahkan pertemuan dua saudara yang puluhan tahun tak pernah bertemu. Tapi Mark tak menikmati pertemuan pertama dengan kakak tirinya itu. “Aku merasa dia seperti membuka luka-luka lama.”

Bagi Mark, kenangannya bersama ayah mereka sama sekali bukan memori yang ingin terus dia simpan. Namun Barack terus mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan. Menurut Mark, Barack sangat terkejut saat dia berterus terang menjelaskan seperti apa ayah mereka. “Aku bilang,” Ayah kita seorang pemabuk dan suka memukuli perempuan.”

Keluarga Obama memang tak lahir dari “orang biasa”. Hasilnya juga bukan keluarga yang biasa-biasa saja. Tujuh anak Barack Obama Senior itu (dari delapan bersaudara, satu orang yakni David Obama, meninggal akibat kecelakaan), menempuh jalan hidup masing-masing dan sangat jarang berkomunikasi. Seperti kata Mark, mereka adalah sekawanan kucing yang sulit hidup bersama.


Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE