×
Ad

Kolom

PISA: Ketika Energi Belajar Belum Menjadi Kecakapan

Deni Hadiana - detikNews
Jumat, 18 Sep 2026 09:49 WIB
Foto: Ilustrasi pendidikan (Element5 Digital/Unsplash)
Jakarta -

Hasil PISA 2025 menunjukkan hanya sekitar 17 persen murid usia 15 tahun yang mencapai sedikitnya Level 2 dalam matematika, 27 persen dalam membaca, dan 37 persen dalam sains. Artinya, banyak anak Indonesia belum mencapai kemampuan dasar untuk menggunakan apa yang dipelajarinya. Namun, PISA 2025 menyimpan cerita lain.

PISA memotret keterlibatan murid dalam belajar, seperti rasa ingin tahu, ketekunan, kemampuan mengatur belajar, hingga kesediaan mengubah pendekatan ketika cara sebelumnya tidak berhasil. Menariknya, kecakapan dan keterlibatan belajar tidak selalu berjalan beriringan.

Sekitar 80 persen murid Indonesia melaporkan memiliki rasa ingin tahu terhadap banyak hal, lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 73 persen. Sebanyak 74 persen mengatakan akan menambah usaha ketika pekerjaan menjadi sulit, dibandingkan dengan rata-rata OECD sebesar 60 persen.

Meski berasal dari laporan diri murid, angka-angka ini menunjukkan adanya modal penting. Dalam tulisan ini, saya menyebut rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus berusaha itu sebagai energi untuk belajar.

Di sinilah paradoksnya. Sekitar 52 persen murid mengaku sering merencanakan pendekatan belajarnya. Sebanyak 55 persen memeriksa apakah mereka benar-benar memahami materi. Ketika mengalami kesulitan, 90 persen mengatakan meminta bantuan guru dan 92 persen meminta bantuan teman. Namun, sebagian besar murid masih belum mencapai tingkat kecakapan minimum.

Pertanyaannya: Apakah energi yang dimiliki murid sudah dikelola sedemikian rupa sehingga semakin mendekatkan mereka pada kecakapan dan membuat mereka semakin mampu mengelola cara belajarnya sendiri?

Energi untuk belajar tidak cukup hanya dimiliki. Energi itu perlu memiliki arah, dipertahankan ketika kesulitan muncul, dan diperbaiki cara penggunaannya ketika usaha belum menghasilkan kemajuan. Setiap kali hasil PISA mengecewakan, kita kerap tergoda mengubah kurikulum, mengganti sistem penilaian, menambah program, atau meluncurkan kebijakan baru. Padahal, tidak semua persoalan belajar selesai dengan perubahan mewah. Kadang-kadang, yang lebih dekat untuk dibenahi justru kebiasaan pembelajarannya.

Di banyak ruang kelas, pembelajaran masih kerap didominasi oleh penyampaian pengetahuan dari guru kepada murid. Pembelajaran semestinya semakin menjadi proses yang menumbuhkan mental belajar murid. Dari refleksi lebih dari dua dekade berkecimpung dalam dunia pendidikan, saya merumuskan gagasan mental belajar sebagai Sadar Belajar, Ingin Belajar, Rajin Belajar, dan Inovatif Belajar (SIRI-B).

Gagasan ini telah saya sampaikan dalam berbagai kesempatan sebagai cara sederhana untuk melihat apa yang perlu tumbuh pada diri murid. Temuan PISA 2025 memberi konteks dan relevansi baru terhadap refleksi tersebut. Keterkaitan itu bukan berarti PISA mengukur SIRI-B. PISA memberi sejumlah temuan tentang bagaimana murid terlibat dan mengelola proses belajarnya, sedangkan SIRI-B mengorganisasikannya ke dalam bahasa pedagogis yang sederhana.

Sadar Belajar berarti murid mengetahui apa yang sedang dipelajari, mengapa hal itu penting, apa yang sudah dipahami, dan apa yang belum dikuasai. Ini sejalan dengan perhatian PISA terhadap kemampuan murid merencanakan pendekatan belajar dan memantau pemahamannya sendiri. Sadar memberi arah agar usaha murid bergerak menuju pemahaman.

Ingin Belajar memberi tenaga. Temuan PISA tentang tingginya rasa ingin tahu murid Indonesia menunjukkan modal yang perlu dirawat agar berkembang menjadi kebiasaan bertanya, menyelidiki, mencari hubungan, dan menemukan makna. Murid perlu mempunyai dorongan dari dalam dirinya untuk terus mencari tahu, bukan semata-mata karena nilai, ujian, tugas, atau perintah guru.

Rajin Belajar menjaga usaha ketika proses belajar mulai sulit. Kesediaan murid Indonesia menambah usaha ketika menghadapi pekerjaan sulit merupakan modal penting yang juga tampak dalam PISA. Rajin berarti bertahan ketika belum memahami, mencoba kembali setelah gagal, menerima umpan balik, memperbaiki kesalahan, dan tidak segera menyerah. Bukan sekadar belajar lebih lama, melainkan menjaga usaha agar menghasilkan kemajuan.

Inovatif Belajar berarti memperbaiki cara ketika strategi sebelumnya tidak bekerja. PISA juga memberi perhatian pada kesediaan murid mengubah pendekatan belajar dan mencari bantuan ketika diperlukan.

Jika membaca berulang kali belum membuatnya paham, murid dapat merangkum, membuat diagram, atau menjelaskan kepada orang lain. Jika belajar sendiri menemui jalan buntu, meminta bantuan guru atau teman dapat menjadi pilihan yang lebih efektif. Inovatif bukan berarti selalu menciptakan sesuatu yang baru, melainkan menemukan cara belajar yang lebih efektif ketika cara lama belum menghasilkan kemajuan.

SIRI-B bukan empat tahap yang kaku. Keempatnya saling menguatkan. Sadar memberi arah. Ingin memberi energi. Rajin menjaga usaha. Inovatif memperbaiki cara. SIRI-B bukan mata pelajaran baru dan bukan pula program tambahan yang menambah beban administrasi guru. Ia adalah perubahan orientasi pembelajaran. Dengan orientasi itu, pertanyaan guru pun bergeser: Apakah murid sadar apa yang sedang dipelajarinya? Apakah ia masih ingin mencari tahu? Apakah ia bertahan ketika menemui kesulitan? Apakah ia mampu memperbaiki cara ketika strategi sebelumnya tidak berhasil?

Perubahan semacam itu tidak perlu menunggu kurikulum baru. Ia dapat dimulai dari pertanyaan tentang apa yang hendak dipahami murid, kesempatan mengungkapkan bagian yang belum dikuasai, umpan balik yang mendorong perbaikan, kesempatan mencoba kembali setelah gagal, atau refleksi singkat sebelum pelajaran berakhir.

Keliru jika PISA 2025 hanya dibaca sebagai kabar tentang rendahnya skor Indonesia. Ia juga memperlihatkan bahwa kecakapan dan keterlibatan dalam belajar perlu dibaca bersama.

Tantangannya adalah bagaimana energi belajar memperoleh arah, bertahan ketika menghadapi kesulitan, dan menemukan cara yang lebih efektif hingga semakin mendekat pada kecakapan. Pekerjaan rumah setelah PISA 2025 tidak selalu harus dimulai dari meja perumus kebijakan nasional. Ia dapat dimulai jauh lebih dekat: dari perubahan cara guru membelajarkan dan cara murid menjalani proses belajarnya di ruang kelas. Dari transfer pengetahuan menuju SIRI-B.

Deni Hadiana. Peneliti Pendidikan BRIN.




(rdp/imk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork