Pagi itu saya menggenggam erat tangan anak saya ketika memasuki gerbang sekolah. Sebagai seorang ayah, saya sengaja mengantarnya langsung pada hari pertama sekolah. Wajahnya memperlihatkan campuran rasa penasaran, semangat, sekaligus sedikit gugup. Bagi anak, hari pertama sekolah adalah awal dari sebuah perjalanan baru. Namun, bagi saya sebagai orang tua, hari itu adalah momen untuk menitipkan harapan kepada sekolah.
Harapan kami sesungguhnya sederhana. Kami tidak menuntut anak langsung menjadi yang terbaik di kelas. Kami hanya ingin ia merasa aman, diterima, dihargai, dan pulang dengan senyum yang sama ketika berangkat dari rumah. Hal ini karena pengalaman pertama di sekolah sering kali menjadi kesan yang akan membentuk cara pandang seorang anak terhadap dunia pendidikan.
Karena itu, kehadiran Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah merupakan langkah penting dalam transformasi pendidikan Indonesia. Kebijakan ini semakin diperkuat dengan peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (Gernas RANA) yang menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan sekolah sebagai ruang yang aman, nyaman, inklusif, sehat, dan membahagiakan bagi setiap anak. Semangat tersebut juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang menjamin hak setiap anak untuk memperoleh perlindungan dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan yang merendahkan martabatnya di lingkungan pendidikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi sebagian orang, MPLS mungkin dipahami hanya sebagai kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Namun, jika dilihat dari perspektif ekonomi dan manajemen, maknanya jauh lebih besar. MPLS Ramah merupakan investasi awal dalam membangun human capital Indonesia.
Ekonom peraih Nobel, Gary S. Becker (1964), menjelaskan bahwa pendidikan adalah bentuk investasi pada manusia yang memberikan manfaat jangka panjang bagi individu maupun negara. Pendidikan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk keterampilan, karakter, produktivitas, dan kemampuan beradaptasi. Dengan demikian, kualitas sumber daya manusia menjadi modal utama bagi pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa.
Gagasan tersebut semakin diperkuat oleh James J. Heckman (2024) yang menunjukkan bahwa investasi pada tahap awal kehidupan anak memberikan tingkat pengembalian ekonomi dan sosial yang paling tinggi. Lingkungan belajar yang aman dan penuh dukungan akan membentuk kemampuan kognitif, karakter, serta keterampilan sosial yang menjadi bekal seseorang sepanjang hidupnya. Artinya, investasi terhadap sumber daya manusia sesungguhnya dimulai sejak hari pertama seorang anak memasuki sekolah.
Berbagai temuan internasional mendukung pandangan tersebut. OECD melalui PISA 2022 menunjukkan bahwa peserta didik yang merasa aman di sekolah serta memiliki hubungan positif dengan guru cenderung memiliki motivasi belajar, kesejahteraan psikologis, dan capaian akademik yang lebih baik. UNESCO Global Education Monitoring Report 2024 juga menegaskan bahwa sekolah yang aman dan inklusif merupakan fondasi utama bagi peningkatan mutu pendidikan. Sementara UNICEF (2024) mengingatkan bahwa rasa aman di sekolah berpengaruh langsung terhadap kesehatan mental, perkembangan sosial-emosional, dan ketahanan belajar peserta didik.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa sekolah ramah bukan sekadar slogan. Sekolah yang menghargai martabat anak akan melahirkan peserta didik yang lebih percaya diri, kreatif, mampu bekerja sama, serta memiliki daya tahan menghadapi berbagai tantangan. Nilai-nilai inilah yang pada akhirnya membentuk kualitas human capital suatu bangsa.
Dalam konteks tersebut, pelaksanaan MPLS Ramah harus dipahami sebagai bagian dari strategi manajemen pendidikan. Keberhasilan kebijakan tidak cukup ditentukan oleh adanya regulasi, melainkan sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan sekolah. Kepala sekolah harus menjadi pemimpin perubahan yang memastikan seluruh proses MPLS berlangsung edukatif, menyenangkan, dan bebas dari praktik perundungan maupun kekerasan. Guru juga perlu menjadi pendamping yang mampu membangun kepercayaan diri peserta didik, bukan sekadar menyampaikan materi pembelajaran.
Ahli pendidikan Eric A. Hanushek (2024) menegaskan bahwa kualitas pembelajaran memiliki hubungan erat dengan produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, menciptakan sekolah yang aman bukan hanya menjadi agenda dunia pendidikan, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan nasional. Bangsa yang mampu membangun lingkungan belajar berkualitas akan memiliki sumber daya manusia yang lebih produktif, inovatif, dan kompetitif.
Pelaksanaan MPLS Ramah juga memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Orang tua tidak cukup hanya mengantar anak pada hari pertama sekolah, melainkan harus menjadi mitra aktif dalam pendidikan karakter. Pemerintah daerah, masyarakat, media massa, dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan perlu berkolaborasi menyosialisasikan nilai-nilai Gernas RANA agar budaya sekolah yang aman dan nyaman benar-benar menjadi gerakan bersama.
Di era digital, sosialisasi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai media yang dekat dengan masyarakat. Kampanye digital, forum orang tua, seminar, komunitas pendidikan, hingga konten media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat pemahaman bahwa tidak ada lagi ruang bagi perundungan, diskriminasi, maupun kekerasan di lingkungan sekolah. Budaya sekolah yang ramah harus menjadi identitas seluruh satuan pendidikan di Indonesia.
Sebagai seorang ayah, saya masih mengingat ketika anak saya melambaikan tangan sebelum memasuki ruang kelasnya. Pada saat itu, saya tidak hanya melepas langkah kecilnya menuju ruang belajar, tetapi juga menitipkan harapan kepada sekolah agar menjadi rumah kedua yang menghadirkan ilmu, kasih sayang, dan rasa aman. Saya yakin, jutaan orang tua di Indonesia memiliki harapan yang sama.
Karena itu, keberhasilan MPLS Ramah tidak dapat diukur hanya dari lancarnya kegiatan orientasi selama beberapa hari. Keberhasilannya terlihat ketika setiap anak merasa dihargai, berani bertanya, percaya diri untuk berkembang, dan menikmati proses belajar sepanjang tahun. Sekolah yang ramah akan melahirkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter dan emosional.
Pada akhirnya, investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya pembangunan infrastruktur, melainkan pembangunan manusianya. Jalan, gedung, dan teknologi memang penting, tetapi semua itu akan memberikan manfaat optimal apabila didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Di sinilah makna sesungguhnya dari MPLS Ramah. Ia bukan sekadar program tahunan, melainkan investasi strategis dalam membangun human capital Indonesia.
Ketika setiap anak Indonesia memulai hari pertamanya di sekolah dengan rasa aman, diterima, dihargai, dan bahagia, sesungguhnya bangsa ini sedang menanam fondasi bagi lahirnya generasi yang produktif, inovatif, berkarakter, dan berdaya saing global. Dari gerbang sekolah yang ramah itulah masa depan Indonesia dibangun; sebuah langkah kecil seorang anak, namun menjadi lompatan besar bagi kemajuan bangsa.
Edi Setiawan. Dosen dan Peneliti FEB Universitas Muhammadiyah Prof. Dr HAMKA.
Tonton juga video "SD di Badung Hanya Dapat 3 Murid Baru, MPLS Diramaikan Kakak Kelas"
(rdp/imk)









































