Dalam konteks global, PISA 2025 menempatkan Indonesia pada kelompok papan bawah. Indonesia berada di posisi ke-73 dari 91 peserta dalam bidang sains, ke-74 dari 90 dalam membaca, serta ke-78-79 dari 90 dalam matematika. Di antara delapan sistem pendidikan ASEAN yang berpartisipasi, Indonesia berada di urutan keenam untuk sains, ketujuh untuk membaca, dan kedelapan untuk matematika. Dalam bidang baru pemecahan masalah komputasional, skor Indonesia tercatat 427, berbanding 500 milik rerata OECD, sekaligus menjadi yang terendah di antara tujuh peserta ASEAN yang memiliki data.
PISA 2025 membawa kabar yang sekilas melegakan: penurunan skor Indonesia telah berhenti. Dibandingkan tahun 2022, skor sains naik 6 poin menjadi 389 dan skor membaca naik 7 poin menjadi 365. Sementara itu, skor matematika turun 2 poin menjadi 364, yang tidak signifikan secara statistik. Pada level terbawah, sebanyak 60,9% siswa Indonesia belum mencapai ambang kompetensi minimum (Level 2) pada ketiga bidang sekaligus.
Sebaliknya, di tingkat puncak, hanya 0,1% siswa Indonesia yang menjadi siswa berprestasi tinggi dalam setidaknya satu bidang utama, berbanding jauh dengan 11,9% di rerata OECD. PISA sendiri menilai kemampuan menerapkan pengetahuan, bukan sekadar mengingat materi pelajaran. Hasil ini memberikan gambaran kesiapan remaja dalam menghadapi pendidikan lanjutan, dunia kerja, dan kehidupan bermasyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Besarnya proporsi siswa di bawah Level 2 membatasi kemampuan memahami bacaan, bernalar dengan angka, dan menilai bukti ilmiah-keterampilan vital yang menopang produktivitas serta pembelajaran sepanjang hayat. Di sisi lain, minimnya kelompok di tingkat puncak membuat Indonesia kekurangan basis talenta unggul, sekaligus mengindikasikan bahwa sebagian besar murid belum mencapai kompetensi dasar.
Namun, terdapat beberapa kondisi positif yang terekam. Sebanyak 80% murid mengaku memiliki rasa ingin tahu, 74% menyatakan tetap berusaha saat menghadapi tugas yang sulit, dan hanya 9% yang menganggap sekolah membuang waktu. Dukungan guru juga relatif kuat: 82% murid merasa guru menunjukkan perhatian kepada setiap siswa, dan 85% menyatakan guru terus mengajar hingga mereka memahami materi. Iklim disiplin dan tingkat kehadiran pun membaik dibandingkan putaran sebelumnya. Walaupun memerlukan kajian lanjutan, kondisi positif ini dapat menjadi faktor penstabil skor ketika motivasi siswa, dukungan guru, dan keteraturan sekolah berhasil menahan penurunan skor PISA lebih jauh.
Sebaliknya, beberapa kondisi faktual menjadi hambatan nyata. Dukungan keluarga melemah; hal ini tergambar dari persentase siswa yang ditanya tentang kegiatan sekolah setiap pekan turun dari 57% pada 2022 menjadi 48% pada 2025. Sementara itu, siswa yang membicarakan kegiatan sekolah dengan keluarga turun dari 48% menjadi 36%. Terkait kekerasan di sekolah, sebanyak 24% siswa mengalami perundungan-lebih tinggi dari rerata OECD sebesar 20%. Selain itu, sekitar 39% siswa berada di sekolah yang kepala sekolahnya mengeluhkan keterbatasan infrastruktur fisik yang mengganggu pembelajaran. Hanya 30% murid yang memiliki growth mindset (pola pikir berkembang), jauh di bawah rerata OECD sebesar 69%. Hasil ini harus dijadikan acuan intervensi ke depan.
Terkait Artificial Intelligence (AI) dan transisi hijau, sebanyak 53% murid Indonesia menggunakan AI generatif setiap minggu untuk belajar dan 73% mengaku mempelajari cara menilai kualitas konten AI. Namun, baru 30% yang mencapai tolok ukur Level 3 dalam pemecahan masalah komputasional, dibandingkan 64% di OECD. Akses terhadap teknologi belum otomatis mencerminkan kapasitas berpikir. Gambaran serupa muncul pada isu lingkungan: hanya 39% siswa yang mencapai kecakapan dasar sains lingkungan, meskipun 92% tertarik berkontribusi pada perlindungan lingkungan melalui pekerjaan mereka kelak.
PISA juga memberikan peringatan terkait mobilitas sosial: hanya 32% siswa yang meyakini bahwa kedudukan sosial seseorang dapat berubah, meskipun 70% di antaranya menghargai materi yang dipelajari di sekolah. Kesenjangan antara penghargaan terhadap pendidikan dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan berpotensi melemahkan semangat belajar mereka.
Oleh karena itu, hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa Indonesia berhasil menahan penurunan skor lebih jauh. Ini harus menjadi momentum untuk mendongkrak capaian di masa mendatang. Potensi peningkatan skor terbuka lebar. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) perlu memanfaatkan momentum ini dengan mengimplementasikan kebijakan yang tepat sasaran.
Peningkatan kemampuan dasar murid yang masih berada pada Level 2 serta pengembangan pola pikir positif dapat dioptimalkan melalui pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) dan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Langkah ini didukung oleh temuan PISA yang memperlihatkan tingginya motivasi murid dan guru.
Tantangan lainnya adalah masih lemahnya peran keluarga dalam mendampingi dan memotivasi anak, yang dipengaruhi pula oleh tingkat pendidikan orang tua di Indonesia yang mayoritas masih di bawah jenjang SMA atau sederajat. Oleh sebab itu, diperlukan program parenting yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat, baik melalui komunitas maupun tokoh lokal.
Pemenuhan infrastruktur juga perlu terus dipacu melalui berbagai strategi. Kebijakan revitalisasi sekolah yang melibatkan pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan rasa kepemilikan dan pengawasan, sehingga pembangunan fasilitas berjalan optimal.
Dalam pemanfaatan AI, pemerintah telah meluncurkan sejumlah program pendukung, antara lain: (1) memasukkan mata pelajaran pilihan Koding dan AI ke dalam kurikulum; (2) mendorong digitalisasi pembelajaran melalui penyediaan Interactive Flat Panel (IFP) di sekolah; serta (3) menggelar program pengenalan AI bagi para guru. Sementara untuk isu lingkungan, pemerintah menjalankan program seperti Gerakan Indonesia ASRI serta Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah.
Menanggapi kekerasan di lingkungan sekolah, pemerintah telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kebijakan ini berfokus pada pencegahan kekerasan melalui edukasi dan penyiapan ekosistem pendukung, tanpa mengesampingkan penanganan kasus secara tegas sesuai aturan dengan melibatkan pihak-pihak berwenang.
Hasil PISA 2025 memberikan gambaran menyeluruh mengenai tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat daya dukung pendidikan nasional. Program dan kebijakan pemerintah saat ini sudah berada di jalur yang benar. Momentum ini perlu dijaga agar seluruh kebijakan berjalan efektif tanpa ragu melahirkan terobosan baru demi mendongkrak skor PISA Indonesia di masa depan.
Kosasih Ali Abu Bakar. Analis Kebijakan Ahli Madya Kemendikdasmen dan Dosen pada Universitas Saintek Muhammadiyah.
Lihat juga Video: Mau Tahu Soal PISA yang Jadi Dasar Pengukuran Membaca Hingga Matematika? Berikut Contohnya!










































