×
Ad

Kolom

Kemenangan Al-Andalus yang Tertunda

Ahmad - detikNews
Rabu, 15 Jul 2026 14:06 WIB
Foto: Timnas Spanyol memastikan satu tempat di partai puncak Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Prancis dengan skor meyakinkan 2-0 (REUTERS)
Jakarta -

Sehari setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-19, Lamine Yamal berdiri di titik putih sejarah. Di Stadion Dallas, Arlington, Texas, Rabu (15/7) dini hari WIB, pemuda itu dijatuhkan Lucas Digne di kotak penalti.

Mikel Oyarzabal mengeksekusi hukuman, Pedro Porro menggandakan keunggulan, dan Spanyol melenggang ke final Piala Dunia 2026 setelah menekuk Prancis 2-0. Untuk pertama kalinya sejak 2010, La Roja kembali berdiri di ambang takhta sepak bola dunia.

Yang lebih menarik dari sekadar skor adalah wajah anak muda yang memancing penalti itu. Yamal lahir di pinggiran Barcelona dari ayah imigran Maroko dan ibu asal Guinea Ekuatorial.

Ayahnya, seperti jutaan warga Maghribi lain, menyeberangi Selat Gibraltar demi penghidupan yang lebih baik. Selat itu sendiri menyimpan nama yang kerap kita lupakan, yaitu Jabal Thariq (Gunung Thariq), mengabadikan panglima Berber, Thariq bin Ziyad, yang mendarat di sana pada 711 Masehi dan membuka delapan abad peradaban Islam di Semenanjung Iberia.

Sejarah, rupanya, selalu berputar dengan cara yang paling halus. Tiga belas abad setelah Thariq menyeberang, darah Maghribi kembali melintasi selat yang sama. Tentu bukan dengan pedang, melainkan dengan kaki kiri yang menari di sisi kanan lapangan.

Kali ini, Spanyol menyambutnya bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai penyelamat.

Cordoba, Ibu Kota Akal Budi


Pada abad ke-10, ketika Paris dan London masih berupa kota becek dengan penduduk yang sebagian besar buta huruf, Cordoba secara harfiah merupakan metropolis paling terang di Eropa berkat jalan-jalannya yang diterangi lampu. Secara metaforis, kota ini bersinar karena perpustakaan Khalifah Al-Hakam II konon menyimpan ratusan ribu manuskrip.

Di kota itu pula lahir Ibn Rushd, sang komentator Aristoteles yang oleh dunia Latin dipanggil Averroes. Pemikirannya kelak menyalakan skolastisisme Eropa dan membuka jalan bagi Renaisans.

Dari Murcia muncul Ibn Arabi, sufi agung yang gagasan wahdatul wujud-nya sampai hari ini dikaji di pesantren-pesantren Jawa. Dari Madinat az-Zahra tampil Az-Zahrawi, bapak ilmu bedah modern.

Sementara di Toledo, para penerjemah Muslim, Yahudi, dan Kristen duduk semeja mengalihbahasakan khazanah Yunani dan Arab ke dalam bahasa Latin. Sebuah kolaborasi lintas iman yang oleh para sejarawan disebut la convivencia-seni hidup berdampingan.

Bagi saya, itulah rahasia Al-Andalus. Kebesarannya bukan karena kemurnian, melainkan karena bersedia disilangkan. Arsitektur Alhambra memadukan geometri Arab dengan tradisi lokal Iberia. Musik flamenco menyimpan rintihan maqam Arab dan ritme Gitana.

Bahkan bahasa Spanyol modern memungut ribuan kosakata Arab, seperti aceituna, azúcar, alcalde, termasuk satu kata yang paling puitis, ojalá ("semoga"), yang tak lain adalah pelafalan lidah Iberia atas law syaa Allah ("jika Allah menghendaki"). Setiap kali orang Spanyol berharap, tanpa sadar mereka berdoa dalam bahasa Al-Qur'an.

Proyek Kemurnian dan Harga yang Dibayar

Semua itu berakhir pada 1492. Granada jatuh, Sultan Boabdil menoleh terakhir kali ke Alhambra dari celah bukit yang kini dinamai El último suspiro del Moro (desah terakhir sang Moor).

Pada tahun yang sama, Spanyol mengusir kaum Yahudi, dan Columbus berlayar ke barat. Monarki Katolik kemudian memberlakukan doktrin limpieza de sangre (kemurnian darah); jabatan dan kehormatan hanya bagi mereka yang silsilahnya bersih dari leluhur Muslim dan Yahudi.

Sejarah mencatat apa yang terjadi berikutnya. Spanyol yang mengusir para pedagang, ilmuwan, dan perajinnya sendiri perlahan kehilangan denyut. Emas dari benua Amerika memang mengalir deras, tetapi mengalir pula keluar, sebab bangsa yang mengagungkan kemurnian telah kehilangan orang-orang yang tahu cara mengolahnya.

Imperium itu membusuk dari dalam, dan pada abad ke-19, Spanyol tinggal bayang-bayang di pinggiran Eropa. Proyek kemurnian, di mana pun ia dijalankan, selalu berakhir sebagai proyek pemiskinan.

Yang menakjubkan, peradaban ternyata tak bisa diusir sebersih itu. Ia bersembunyi di ubin-ubin azulejo, di lengkung tapal kuda Mezquita Cordoba yang kini menjadi katedral, di irama gitar Andalusia, serta di lidah orang Spanyol yang terus mengucap ojalá.

Alhambra, monumen yang dibangun Dinasti Nasrid itu, hari ini justru menjadi situs yang paling banyak dikunjungi di Spanyol. Negeri itu kini hidup, antara lain, dari warisan orang-orang yang dulu diusirnya.

La Roja sebagai Mosaik


Sepak bola Spanyol modern, disadari atau tidak, adalah bantahan panjang terhadap limpieza de sangre. Skuad yang melumpuhkan Prancis di Arlington adalah sebuah mosaik.

Oyarzabal dan Unai Simon dari tanah Basque yang punya bahasa sendiri, para didikan La Masia dari Catalunya yang sebagian warganya ingin merdeka, Robin Le Normand kelahiran Prancis, dan Yamal si anak imigran yang dua garis darahnya sama-sama berasal dari Afrika.

Bahkan tiki-taka, filosofi yang membesarkan mereka, pada dasarnya adalah seni merajut. Ribuan operan pendek yang masing-masing tampak tak berarti, tetapi bersama-sama membentuk pola yang mematikan. Persis seperti peradaban.

Tentu, fenomena ini bukan milik Spanyol semata. Prancis pernah diselamatkan Zinedine Zidane, putra imigran Aljazair, lalu Kylian Mbappe yang berdarah Kamerun-Aljazair.

Di tengah gelombang politik anti-imigran yang kian keras di Eropa, lapangan hijau justru terus menyodorkan kenyataan yang canggung bagi para pengkhotbah kemurnian. Anak-anak yang orang tuanya dicurigai di pos imigrasi, justru menjadi sosok yang mengharumkan lagu kebangsaan mereka.

Pelajaran untuk Kita


Kisah di atas semestinya terasa akrab bagi kita. Peradaban kita pun lahir dari persilangan. Islam tiba di kepulauan ini bukan dengan pasukan, melainkan dengan kapal dagang, lalu berakulturasi dengan tradisi lokal hingga melahirkan pesantren, wayang yang dipinjam para wali, dan corak keberagamaan yang ramah.

Para ulama kita sejak lama paham bahwa memelihara warisan lama yang baik sambil mengambil hal baru yang lebih baik bukanlah pengkhianatan, melainkan cara sebuah peradaban untuk bertahan hidup.

Karena itu, ketika hari-hari ini muncul godaan politik kemurnian-seperti murni agamanya, murni sukunya, maupun murni penafsirannya-mungkin ada baiknya kita menoleh ke Iberia.

Negeri itu pernah menjadi pusat dunia ketika ia berani menjadi tempat persilangan, lalu terpuruk berabad-abad ketika memilih menjadi benteng kemurnian, dan kini kembali ke puncak justru ketika merangkul kembali anak-anak dari seberang selat.

Akhir pekan ini, di New Jersey, Spanyol akan memperebutkan trofi dunia melawan Inggris atau Argentina. Apa pun hasilnya, satu kemenangan sesungguhnya telah terjadi lebih dulu, yakni kemenangan gagasan bahwa kebesaran lahir dari keterbukaan.

Jika Minggu nanti Yamal mengangkat trofi emas itu di bawah langit Amerika, sejarah seolah menuntaskan kalimat yang tertunda lima abad lamanya: bahwa apa yang dulu diusir lewat gerbang Granada, kini pulang lewat pintu depan, disambut tepuk tangan seisi negeri.

Ojalá. Semoga!

Ahmad Suhaimi. Peneliti di INTIRA (Institute for Transformative Research on Sustainability and Religious Action).

Lihat juga Video: Spanyol ke Final! Mengulas Duel Sengit Lawan Prancis




(rdp/imk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork