×
Ad

Kolom

Merefleksikan Ulang Program Pengembangan Diri Dosen

Yohanes Sudarmo Dua - detikNews
Selasa, 30 Jun 2026 10:02 WIB
Foto: Ilustrasi dosen (Getty Images/PeopleImages)
Jakarta -

Sembari menanti kajian terbaru pemerintah terkait regulasi yang mengatur keikutsertaan dosen dalam program pengembangan diri (PD dosen) sebagai syarat pencairan tunjangan sertifikasi, diskursus mengenai program PD dosen yang berdampak (impactful faculty development programs) penting untuk diketengahkan.

Selain menyangkut akses terhadap berbagai program pengembangan profesional yang tersedia, diskursus mengenai PD dosen sebaiknya lebih diarahkan pada sejauh mana program tersebut mampu mendorong perubahan praktik dosen secara berkelanjutan dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat).

Dalam tulisan ini, saya ingin secara khusus menyoroti program PD Dosen yang berkaitan dengan dharma pendidikan dan pengajaran. Di Indonesia, kita tahu, semua dosen berkewajiban untuk mengajar. Sementara itu, tidak semua dosen pernah memeroleh pendidikan formal mengenai pedagogi dan pembelajaran.

Kalau pun pernah, hal tersebut tidak secara otomatis menjamin bahwa mereka mampu menerapkan praktik-praktik pembelajaran yang efektif di ruang kelas. Karena itu, berbagai program seperti PEKERTI (Program Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional), AA (Applied Approach), lokakarya pembelajaran, hingga pelatihan kurikulum selama ini dihadirkan sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas pedagogis dosen. Tujuannya jelas agar para dosen dapat melangsungkan proses pembelajaran "secara baik".

Dalam dunia pendidikan, konsep "pembelajaran yang baik" tidak selalu dimaknai secara seragam. Meski demikian, salah satu indikator awal yang kerap digunakan untuk menilai kualitas pembelajaran adalah apakah seorang dosen mengimplementasikan strategi-strategi pembelajaran berbasis riset (Research Based Instructional Strategies atau RBIS) dalam pembelajaran di kelas.

Beberapa contoh RBIS antara lain peer instruction yang dipopulerkan oleh Eric Mazur di Universitas Harvard, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran berbasis inkuiri, formative assessment, dan masih sangat banyak contoh lainnya. Implementasi RBIS dalam pembelajaran, sebagaimana disimpulkan berbagai hasil riset, terbukti mampu menghadirkan interaksi pembelajaran yang lebih bermakna, menciptakan lingkungan belajar yang lebih berpusat pada mahasiswa, serta berkontribusi signifikan dalam meningkatkan hasil dan motivasi belajar.

Tidak mengherankan jika para dosen terus didorong untuk mengadopsi dan menerapkan strategi-strategi tersebut dalam praktik pembelajaran mereka.

Secara prinsip, pelaksanaan program PD Dosen yang selama ini berjalan seperti PEKERTI, AA, juga berbagai lokakarya pembelajaran pada dasarnya dimaksudkan untuk mendiseminasikan berbagai inovasi pembelajaran sekaligus mempersuasi para dosen agar mengadopsi dan mengimplementasikan berbagai inovasi pembelajaran tersebut, termasuk berbagai strategi pembelajaran berbasis riset/RBIS yang disebutkan di atas. Dalam hal ini, kita tentu tertarik untuk mengetahui seberapa besar dampak pelaksanaan program-program tersebut terhadap, katakan saja, ketertarikan dosen untuk menerapkan inovasi pembelajaran yang ditawarkan.

Menurut Diffusion of Innovations Theory yang dipopulerkan oleh Everett Rogers, keputusan seseorang untuk mengadopsi suatu inovasi bukanlah proses yang berlangsung seketika. Setidaknya terdapat lima tahapan yang lazim dilalui. Seseorang pertama-tama perlu mengetahui keberadaan suatu inovasi (knowledge), kemudian bereaksi/menunjukan ketertarikan terhadap inovasi tersebut (persuasion), sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima atau menolak inovasi yang ditawarkan (decision). Jika inovasi diterima, tahap berikutnya adalah tahap pengimplementasian inovasi tersebut (implementation). Tahap terakhir adalah konfirmasi (confirmation), yaitu fase dimana seseorang mengafirmasi keputusan untuk terus atau berhenti menggunakan suatu inovasi.

Mengacu pada perspektif Diffusion of Innovations Theory, suatu program PD Dosen dikatakan efektif bila program tersebut bisa memungkinkan para dosen untuk mencapai tahapan konfirmasi; tahapan yang mana perubahan tidak lagi berhenti pada pengetahuan atau kesadaran, tetapi terwujud dalam praktik yang dijalankan secara konsisten. Dengan kata lain, dosen tidak hanya mengetahui atau menyetujui suatu gagasan baru, melainkan juga menerapkannya secara berkelanjutan dalam pembelajaran di kelas.

Dalam konteks ini, sejumlah penelitian di Amerika Serikat mengenai diseminasi inovasi pembelajaran di kalangan dosen, menurut saya, relevan untuk diangkat dan dijadikan pelajaran. Salah satu temuan yang penting dari studi-studi tersebut adalah bahwa diseminasi inovasi pembelajaran (RBIS) yang dilakukan lewat lokakarya (workshop), artikel jurnal, buku, dan situs web, memang cukup efektif untuk memperkenalkan suatu inovasi kepada dosen serta membangun sikap positif para dosen terhadap inovasi yang ditawarkan. Meski demikian, saluran-saluran diseminasi tersebut sering kali gagal membantu dosen melewati tahapan implementasi dan konfirmasi.

Artinya, banyak dosen mengetahui dan bahkan menyetujui kebermanfaatan penerapan suatu inovasi pembelajaran, tetapi tidak sampai menggunakannya secara berkelanjutan dalam praktik pembelajaran (Dancy dkk., 2016; Chasteen & Chattergoon, 2020).

Penelitian lain menunjukkan bahwa pendekatan diseminasi yang bersifat top-down dan kurang memperhatikan konteks lokal tempat dosen bekerja juga menjadi salah satu penghambat adopsi inovasi (Hora & Ferrare, 2012). Yang menarik, beberapa hasil studi justru menemukan bahwa percakapan informal antardosen, terutama dengan rekan sejawat, merupakan salah satu saluran komunikasi yang paling berpengaruh dalam proses adopsi inovasi pembelajaran (Dancy dkk., 2016).

Merancang Program PD Dosen Berbasis Data Empiris

Di Indonesia, program pengembangan diri (PD) dosen yang selama ini berjalan untuk mendukung dharma pendidikan dan pengajaran, seperti PEKERTI dan AA, memang masih banyak mengandalkan format lokakarya (workshop). Di sisi lain, kita masih memiliki data empiris yang terbatas untuk menilai apakah program PD Dosen yang selama ini berjalan benar-benar telah berdampak (tidak saja terhadap perubahan pengetahuan dan kesadaran, tetapi lebih pada perubahan praktik pedagogis yang berkelanjutan).

Karena itu, kajian pemerintah terkait program PD dosen baiknya tidak sekadar berkutat pada persoalan teknis penyelenggaraan, tetapi juga pada hal yang lebih fundamental yaitu program pengembangan diri seperti apa yang benar-benar mampu menghasilkan perubahan praktik pedagogis dosen (memampukan dosen mencapai tahapan konfirmasi). Lebih dari itu, penciptaan ekosistem yang mendorong para dosen untuk proaktif melakukan proses pengembangan diri harus menjadi tujuan utama.

Kalau dipikir-pikir, berkenaan dengan dharma pendidikan dan pengajaran, "tuan"-nya para dosen sesungguhnya adalah mahasiswa. Karena itu, suara mahasiswa semestinya memperoleh tempat yang lebih penting dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Dalam konteks ini, salah satu agenda yang layak dipertimbangkan pemerintah adalah membangun sistem berbasis teknologi informasi yang memungkinkan evaluasi dan umpan balik mahasiswa dihimpun secara sistematis dan berkelanjutan. Data tersebut tidak hanya dapat digunakan sebagai salah satu indikator kinerja dosen, tetapi juga sebagai dasar dalam merancang program pengembangan diri dosen yang lebih tepat sasaran.

Selama ini, program pengembangan diri dosen cenderung dirancang secara seragam, seolah-olah seluruh dosen menghadapi kebutuhan yang sama. Padahal, persoalan yang dihadapi setiap dosen bisa sangat berbeda. Evaluasi dan umpan balik dari mahasiswa, menurut saya, dapat menjadi pintu masuk yang berharga untuk memahami kebutuhan nyata dosen sekaligus memastikan bahwa program pengembangan diri yang ditawarkan benar-benar relevan dengan tantangan yang mereka hadapi. Bahkan, pemerintah bisa menjadikan hasil analisis terhadap evaluasi dan umpan balik dari mahasiswa sebagai syarat pencairan sertifikasi. Bisa saja!

Yohanes Sudarmo Dua. Dosen FIKIP Universitas Nusa Nipa & Graduate Teaching Assistant pada Physics Department, Kansas State University, Amerika Serikat.

Tonton juga video "Mendiktisaintek Tindak Lanjuti Usulan Beasiswa Doktor untuk Dosen"




(rdp/imk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork