Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) nasional yang dirilis pemerintah baru-baru ini memantik kegelisahan publik. Nilai rata-rata yang rendah di berbagai mata pelajaran segera dibaca publik sebagai potret buram pendidikan Indonesia.
Tidak berlebihan jika anggota DPR meresponsnya sebagai alarm yang menuntut evaluasi total dunia pendidikan kita. Namun, di balik bunyi alarm itu, pendidikan kita sesungguhnya sedang berada dalam sebuah dilema.
Di satu sisi, TKA diperlukan sebagai instrumen untuk membaca mutu pendidikan secara nasional. Di sisi lain, hasil yang amburadul memunculkan pertanyaan mendasar: apakah yang kita ukur benar-benar selaras dengan kemampuan yang dibutuhkan murid di era algoritma, era ketika proses belajar, berpikir, dan menilai semakin dipengaruhi oleh sistem pengukuran, pemeringkatan, dan rekomendasi berbasis data?
Inilah dilema TKA, antara kebutuhan akan evaluasi dan kegamangan terhadap relevansi alat ukurnya.
Sikap objektif menjadi penting dalam membaca hasil ini. Nilai rendah tidak serta-merta berarti murid tidak mampu, apalagi guru gagal mengajar. Dalam evaluasi pendidikan, hasil tes selalu merupakan pertemuan antara kemampuan peserta didik dan kualitas ukurnya.
Jika alat ukur tidak sepenuhnya sejalan dengan konteks zaman, angka yang dihasilkan tidak memadai dibaca sebagai cermin kemampuan murid semata. Bisa jadi sebagian butir soal TKA masih bertumpu pada logika lama: hafalan, prosedur rutin, dan bentuk soal pilihan ganda.
Padahal, di era algoritma yang ditandai oleh semakin dominannya kecerdasan buatan, butir ala logika lama sangat cetek dikerjakan mesin. Ketika tes masih menguji kemampuan yang dengan mudah dikerjakan mesin, murid, sebagai manusia, akan selalu tampak tertinggal. Di sinilah dilema itu menguat, TKA penting, tetapi soalnya bisa jadi telah kadaluarsa.
Persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia terkait erat dengan perubahan yang lebih mendasar, yakni evolusi peran pendidikan dalam mendidik murid sesuai dengan kemampuan yang dibutuhkan pada zamannya.
Peran pendidikan tidak pernah statis, ia mengikuti cara manusia memperoleh pengetahuan dan tantangan yang menyertainya. Ketika cara memperoleh pengetahuan berubah, cara belajar dan penilaiannya ikut berubah, dan pendidikan dituntut menata ulang perannya secara adaptif, sadar, dan kontekstual.
Dengan demikian, tantangan pendidikan Indonesia bukan semata terletak pada perubahan zaman, melainkan pada ketidakmampuan sistem pendidikan membaca dan mengadaptasi perubahan secara cepat dan akurat.
Pada masa ketika pengetahuan hadir terutama dalam bentuk buku cetak, pendidikan seharusnya berfokus pada kemampuan pemahaman dan pemaknaan yang membentuk ketekunan berpikir jangka panjang murid. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pendidikan kita lama terjebak pada hafalan sebagai simbol kecakapan.
Kurikulum padat materi, guru diposisikan sebagai pusat pengetahuan, dan penilaian menekankan daya ingat. Ketika mesin pencari hadir, pengetahuan tidak lagi harus dimiliki, melainkan cukup dicari. Informasi menjadi on demand. Peran pendidikan pun semestinya bergeser, bukan sekadar memastikan murid mengingat, melainkan membimbing mereka menjadi pencari dan pemilah informasi-mengetahui apa yang perlu dicari dan bagaimana memverifikasinya.
Sayangnya, perubahan ini tidak sepenuhnya diikuti sistem pendidikan kita. Kurikulum tetap padat konten, penilaian berkutat pada benar atau salah, dan murid lebih sering dilatih menjawab soal daripada mengajukan pertanyaan.
Kini, di era algoritma, informasi tidak lagi dicari, melainkan mendatangi manusia melalui sistem rekomendasi yang digerakkan oleh dominasi kecerdasan buatan sebagai produk mutakhir logika algoritma. Akses belajar memang terbuka semakin luas, dan mesin bahkan mampu merangkum buku serta menyelesaikan soal-soal akademik yang kompleks dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan ini menyimpan paradoks. Ketika jawaban tersedia begitu cepat, proses berpikir justru berisiko dipangkas. Pembelajaran menjadi efisien, tetapi kehilangan ruang untuk perenungan, penilaian etis, dan pencarian makna.
Tantangan utama pendidikan hari ini, karena itu, bukanlah kekurangan teknologi, melainkan kebutuhan untuk menata ulang pembelajaran dan penilaian agar berpihak pada kedalaman berpikir, pertimbangan etis dan kemampuan memberi makna, bukan sekadar menguji hafalan atau mengejar produk akhir.
Tanpa perubahan arah ini, pendidikan akan tertinggal bukan oleh kecanggihan mesin, melainkan oleh kegagalannya merawat proses berpikir manusia itu sendiri.
Dalam konteks era algoritma inilah TKA perlu dibaca ulang dengan lebih jernih dan berjarak. TKA tetap penting sebagai alarm nasional untuk melihat denyut pendidikan kita, tetapi ia tidak boleh berhenti pada skor dan peringkat.
Angka-angka itu seharusnya menjadi pintu masuk bagi refleksi yang lebih mendasar: apakah yang kita ukur sungguh relevan dengan kemampuan yang dibutuhkan murid di era algoritma, dan untuk tujuan apa pengukuran itu dilakukan. Ketika evaluasi masih berfokus pada hafalan, prosedur rutin, dan jawaban tunggal, TKA berisiko lebih merekam kemampuan masa lalu daripada menilai kesiapan murid menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.
Dalam kondisi demikian, hasil TKA tidak sepenuhnya mencerminkan kompetensi dan potensi murid, melainkan justru menyingkap dilema sistem pendidikan yang belum beranjak dari paradigma lama.
Karena itu, di tengah era algoritma yang semakin menguat, TKA semestinya difungsikan sebagai instrumen untuk mengembalikan pendidikan pada hakikatnya, bukan sebagai alat penghakiman akademik. Belajar tidak berhenti pada mengetahui apa yang benar, tetapi menuntut pemahaman mengapa pengetahuan itu penting dan untuk apa ia digunakan.
Mesin dapat menyajikan jawaban dengan cepat dan akurat, tetapi tidak memiliki nurani untuk menimbang konsekuensi, nilai, dan dampaknya bagi kehidupan bersama. Di sinilah peran pendidikan menjadi krusial: menyiapkan manusia yang tidak hanya cakap secara kognitif, tetapi juga mampu berpikir mendalam, mempertimbangkan secara etis, dan mengambil keputusan secara bijak.
Pendidikan tidak boleh terjebak dalam perburuan angka TKA, melainkan harus tetap setia pada tugas utamanya memanusiakan manusia di tengah kecanggihan algoritma.
Deni Hadiana. Peneliti Pendidikan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).m
Tonton juga video "JPPI Sebut Hasil TKA-UN di 10 Tahun Terakhir Tak Ada Bedanya"
(rdp/imk)