Jakarta - Idul Adha bukan sekadar bertutur tentang pengorbanan seorang ayah bernama Ibrahim dan anaknya Ismail dalam mengeksekusi perintah Tuhan. Sebagai Nabi, tentu tak usah diragukan lagi kepatuhan Ibrahim mencintai Tuhannya, sehingga rela mengorbankan buah hati tercinta demi mendapatkan cinta sejati dari Sang Pencipta. Hikmah lain dari Hari Raya Kurban adalah membangun semangat altruistik umat Islam di tengah persaingan ekonomi yang sering melahirkan kesenjangan sosial di antara warga negara.
Pengorbanaan
Penyembelihan hewan kurban merupakan bentuk aktualisasi keimanan melalui ibadah sosial, perpaduan sempurna antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Apalagi mengamati kalender Hijriyah, ternyata posisi Idul Adha sangat dekat dengan Idul Fitri. Keduanya hanya dipisahkan oleh bulan Dzulqa'dah. Hikmahnya, Idul Fitri menjadi momentum pengembalian kesucian spiritual, sedangkan Idul Adha adalah momentum kembalinya kepedulian kepada sesama.
Posisi kedua hari raya yang berdekatan mengisyaratkan bahwa mempertahankan kesucian jiwa memerlukan tadhiyah (pengorbanan), baik material ataupun immaterial. Dalam konteks Hari Raya Kurban, pengorbanan itu ditujukan untuk Tuhan, sekaligus hamba Tuhan (manusia). Bahkan, berkurban di Idul Adha sangat kental kepedulian kepada sesama. Hal itu dibuktikan dengan kerelaan membeli hewan sembelihan, seperti kambing, domba, sapi, dan kerbau yang akan dibagi-bagi pada sesama.
Jika semangat berkurban tersebut menjadi keimanan, maka umat Islam berlomba-lomba berkurban pada Hari Raya Kurban. Meskipun para ulama menghukuminya sunat muakad (mendekati wajib), tapi semangat berkurban seperti dalam Surat Al-Kautsar menuntun dan menuntut umat Islam berusaha maksimal berkurban sebagai bukti kecintaan kepada Tuhan. Allah berkata: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus." (Al-Kautsar: 1-3).
Ritus ini oleh Musthafa Sibai diistilahkan dengan paradigma sosial mengentaskan kaum miskin dan membebaskan kaum tertindas. Maka, spirit kurban menjadi penting di dalam kehidupan umat manusia yang sedang dilanda penderitaan, penindasan, dan ketidakadilan ekonomi. Perasaan senasib sebagai sesama umat manusia menjadi kunci untuk memahami perintah kurban.
Masih Rendah
Mengacu data demografis, semangat berkurban umat Islam Indonesia masih rendah. Penduduk muslim Indonesia menurut data BPS 2022 mencapai 229,62 juta jiwa. Ternyata yang berkurban tak sampai seperseratusnya. Data bertutur bahwa pada penyelenggaraan kurban 2021, total penyembelihan hewan kurban sebanyak 1,7 juta ekor yang terdiri dari 609,5 ribu ekor sapi, 14,2 ribu ekor kerbau, 281,3 ribu ekor kambing, dan 750,6 ribu ekor domba.
Sedangkan, pada 2022 yang berkurban mencapai 1,81 juta ekor, terdiri dari 695.574 sapi, 733.784 kambing, 364.393 domba, dan 19.652 kerbau. Jumlah hewan kurban tersebut masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah orang miskin di Indonesia. Warga miskin berpenghasilan segobang masih banyak ditemui di sudut-sudut kota. Wajah tirus kekurangan gizi yang mengais-ngais botol bekas, plastik bekas, dan barang bekas lainnya masih menjadi pandangan sehari-hari di perumahan penduduk.
Berdasarkan BPS 2024, jumlah penduduk miskin sebesar 26 juta dan miskin ekstrem 6 juta jiwa. Menurut Bank Dunia, kemiskinan mencapai hampir separuh rakyat Indonesia, 49 persen. Ini menunjukkan angka yang cukup fantastis sebagai negara yang kaya raya akan sumber daya alamnya. Bank Dunia mencatat, penghasilan separuh penduduk Indonesia di bawah dua dollar AS.
Orang miskin berharap besar mendapatkan daging kurban pada Hari Raya Idul Adha. Kapan lagi menikmati daging gratis jika tak pada Idul Adha? Apalagi, menu daging masih menjadi makanan mewah di Indonesia. Konsumsi daging di Indonesia masih rendah. Rata-rata konsumsi daging (sapi/kerbau) di Tanah Air, merujuk laporan BPS, hanya sebesar 0,009 kilogram (kg) per kapita per minggu selama periode 2017 - 2021 atau hanya berkisar 9 gram.
Bahkan angkanya lebih rendah lagi untuk wilayah Indonesia Timur). Per pekan, angka konsumsi daging di kawasan Indonesia Timur masih di angka kurang dari 100 gram. Sebagaimana laporan di laman World Cancer Research Fund, aturan makan daging dalam sehari minimal 50-70 gram.
Semangat Altruistik
Tingginya tingkat kemiskinan di Indonesia seharusnya membuat umat Islam berlomba-lomba berkurban pada setiap Idul Adha. Semangat altruistik, yakni lebih mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, seharusnya menjadi penyemangat umat Islam.
Di negeri ini orang miskin yang berharap daging kurban jauh lebih banyak dari jumlah hewan yang disembelih. Makanya tak usah heran, ketika pembagian daging sering terdengar antrean panjang para mustahik menunggu giliran dipanggil. Bahkan, sering kejadian antrean panjang menjadi ricuh dan berujung kepada kekacauan massa.
Pemahaman dan pemaknaan terhadap hikmah Idul Adha bagi umat Islam dapat dilihat dari peningkatan jumlah hewan kurban setiap Idul Adha. Umat Islam berlomba-lomba berkurban, sehingga distribusi daging kurban bisa menjangkau lebih banyak lagi umat yang membutuhkan. Pada dasarnya Islam menyuruh umat Islam memahami kondisi sosial masyarakat, bukan sekadar menjalankan ibadah ritual. Dengan kata lain, semangat altruistik harus menjadi inspirasi dan motivasi umat Islam dalam berkurban.
Pada zaman Nabi Muhammad ada sepotong kisah teladan seorang yang ingin menunaikan ibadah haji, namun di tengah perjalanan ia melihat saudara-saudara muslimnya sedang tertimpa kemiskinan yang mendera. Sehingga ia pun menggagalkan niatnya untuk menunaikan ibadah haji demi menolong saudaranya yang sedang membutuhkan. Tetapi oleh Nabi SAW kemudian dinilai sama dengan ibadah haji meskipun ia sendiri tidak pernah melihat Mekah dan Kabah.
Kiranya pada Hari Raya Kurban tahun ini semakin banyak umat Islam yang berkurban dan berjiwa altrustik sehingga menjadi rahmat seluruh alam.
Dr. Arfanda Siregar, M.Si Mudir Islamic Center Ali Bin Abi Tholib, dosen Politeknik Negeri Medan
(mmu/mmu)
Kolom
Semangat Altruistik dalam Idul Adha
Rabu, 19 Jun 2024 16:10 WIB
BAGIKAN
BAGIKAN