Belajar Kepada Paul Dirac

Iwan Yahya - detikNews
Selasa, 26 Apr 2022 08:00 WIB
Kolomnis Iwan Yahya
Foto: dok. iARG
Surakarta -

Paul A. M. Dirac adalah fisikawan Inggris yang memenangkan Nobel Fisika tahun 1933 bersama Erwin Schrodinger untuk kontribusi gemilang mereka dalam kajian fisika Kuantum. Nama pria kelahiran Bristol 8 Agustus 1902 itu juga diabadikan menyatu dengan Enrico Fermi dalam Statistik Fermi-Dirac yang merujuk model kajian statistik energi partikel tunggal. Warisannya yang lain berkait dengan entitas fisika yang bersifat singular, memiliki nilai pada titik tertentu namun nol pada titik lain. Sebutannya adalah delta Dirac, dinotasikan dengan 𝛿(𝑡, 𝑡0). Dalam bahasa sederhana bermakna bahwa syarat sebuah peristiwa dapat terjadi hanya jika parameter t dan t0 yang mencirikan prilaku gayut waktu bernilai sama.

Pengetahuan itu menyingkap tabir keteraturan perilaku alam semesta. Gelombang elektromagnetik, mekanik maupun elastik tidak pernah muncul sebagai frekuensi tunggal, secara alami selalu selaras, majemuk berbentuk jumlahan tak berhingga harmonik. Komponen penyusun yang bersifat unik.

Harmonik adalah peristiwa gerak berayun partikel yang teratur dan periodik di sekitar titik setimbangnya, laksana gerak bandul jam dinding, karena itu frekuensi dan panjang gelombangnya bernilai spesifik. Fisikawan mengekspresikan jumlahan tak berhingga itu dengan bahasa matematika bernama transformasi Fourier. Tampilan suatu peristiwa di domain waktu jika diamati di domain frekuensi. Penggambaran yang dalam bahasa sederhana kita sebut sebagai spektrum. Jika dibuat analogi, spektrum itu seperti ke-Indonesia-an kita yang satu dalam kemajemukan.

Menariknya, entitas apa pun yang bersifat periodik di semesta, sebut saja misalnya alunan gelombang, selalu tercirikan oleh sifat yang sama. Dalam perspektif fisikawan, persamaan geraknya selalu memiliki penyelesaian berbentuk sinusoidal. Gambaran prilaku yang menunjukkan keteraturan dalam wujud harmonik seperti disebutkan di
depan. Spektrumnya selalu mengandung sepasang delta Dirac. Sifat alam yang mengisyaratkan makna bahwa apapun yang bersifat periodik hanya memiliki dua kali peluang kejadian. Saya mencoba menautkan isyarat alam itu dengan dinamika demokrasi yang hangat belakangan ini. Apakah semua hiruk pikuk itu merupakan sesuatu yang alami? Lalu apa jika bukan?

Kemustahilan versus ayat semesta

Jagad bernalar publik dalam setahun terakhir seolah terbelah. Sesak oleh tiga wacana politik yang membesar. Laksana gelombang yang dihamburkan ke segala arah lalu beresonansi. Pertentangan berkait gagasan tiga periode dan perpanjangan masa jabatan presiden serta penundaan pemilu 2024 menyedot energi kita. Di tingkat akar rumput bahkan memicu prasangka buruk antarsesama anak bangsa. Tanggal 11 April 2022 massa mahasiswa BEM SI berunjuk rasa. Apa impaknya?

Sebelum itu, 8 April 2022 harian Kompas memuat opini yang memaparkan bahwa ketiga wacana itu merupakan kemustahilan, tidak tersedia ruang untuk itu di dalam konstitusi, tidak pula kurang tegas pernyataan presiden. Nan seolah sudah menjadi tabiat kita, ruang bernalar yang terlanjur bergemuruh susah untuk diteduhkan secara seketika. Atas nama demokrasi dan hak berekspresi kita menuai ricuh. Bising yang mendistorsi hening ruang bernalar. Itulah demokrasi kita. Elok dikawal agar senantiasa dalam keteraturan kaidah. Laksana keteraturan alam yang mematuhi kaidah sempurna. Ayat semesta yang dibentangkan Tuhan YME selaku tunggal kuasa sejati.

Pemilihan umum dan pemilihan presiden adalah dinamika demokrasi yang bersifat periodik. Menyerupai prilaku harmonik dalam penjalaran gelombang. Seorang presiden hanya boleh berkuasa dalam dua masa jabatan, sesuai yang diatur konstitusi kita. Persis seperti kaidah kemunculan entitas bersifat periodik di semesta, dicirikan oleh dua buah delta Dirac pada spektrumnya.

Apakah kecocokan itu sebuah kebetulan belaka? Di dalam demokrasi ada semacam prinsip bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Lantas dapatkah kita mengimani bahwa semesta adalah tebaran ayat kebenaran ilahiah? Dibentangkan untuk disingkap kaum yang berakal. Sejalan dengan ayat pertama dalam firman Allah SWT. Bacalah! Jika memang demikian, maka jabatan presiden dua periode pasti merupakan kaidah penciri kodrati demokrasi kita.

Lalu mengapa ada kalangan termasuk sejumlah cendekia yang justru memilih terus berwacana? Apa pun niatnya, baik untuk memberinya rasa hormat. Biarlah menjadi riak yang kian mendewasakan demokrasi kita. Sisi baiknya semesta memberi kita jalan analogi untuk mengenal kearifan. Mengadopsi teori penjalaran gelombang, masyarakat akar rumput laksana material berpori yang dijalari bebunyian berfrekuensi tinggi. Kala wacana sistematis repetitif dibenturkan ke ruang bernalar, energinya terserap dan terkonversi menjadi panas. Energi itu beranalogi dengan pesan inti sebuah wacana. Gesekan dan benturan penalaran adalah stimulus sistematis berkesengajaan untuk memicu respon bersifat emosional.

Ke mana muaranya? Sasaran paling gurih tak lain luruhnya popularitas presiden dalam persepsi publik. Seperti yang memang kemudian terjadi. Muncul beragam sangkaan dan ketidakpercayaan. Meragukan iktikad baik penyelenggara negara. Menggelitik rasa dan indera untuk bergerak. Nan sungguhkah negara ini sedemikian sakit dan lunglai tak kuasa membendung usikan politik yang ternilai patologis?

Kita memiliki kecukupan akal budi untuk menilai dengan bening nalar. Sebagaimana setiap dari kita memiliki daya untuk menjadi bagian solusi yang bermartabat. Presiden telah menunjukkan sikap elok seorang negarawan. Selaras dengan ayat semesta tentang penciri kodrati demokrasi. Anggota KPU dan Bawaslu telah dilantik. Pemilu akan berlangsung pada tanggal 14 Februari 2024, maka sudahlah, ketiga wacana yang memicu kegaduhan itu jelas merupakan kemustahilan. Tidak mungkin terjadi terkecuali sangat dipaksakan dengan hasrat dan kesengajaan luar biasa.

Ruang Belajar yang Terbuka

Mengapa mahasiswa berdemo untuk sebuah kemustahilan? Apakah itu semacam kutukan ketidaktahuan atas jiwa yang selalu bergelora? Keadaan yang kemudian resonan dengan tekanan elitisme mahasiswa yang identik dengan dinamika dan momentum pergerakan? Saya berdiskusi dengan sejawat senior saya seorang sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNS.

Menurut dia, mahasiswa yang berkhidmat di jalur ilmiah memiliki perbedaan esensial dalam cara merespons realitas jika dibandingkan dengan kawan mereka yang aktivis. Realitas di mata mereka yang berkegiatan ilmiah bersifat intensional. Artinya sengaja dipilih dan dipilah sesuai dengan signifikansi dan disiplin pemikiran. Adapun bagi aktivis pergerakan, realitas itu bersifat monumental. Ketika telah berubah menjadi momen kolektif, maka seketika itu pula menjadi signifikan. Oleh karena itu lazim saja terjadi jika di antara mereka yang ikut berdemonstrasi itu terdapat yang tidak benar-benar memahami makna momentumnya. Namun mereka terlibat justru karena momentum itu. Aktivitas pergerakan tidak membangun relasi seperti di dalam komunitas ilmiah yang lebih egaliter.

Pada titik inilah saya memandang bahwa universitas dapat membangun ruang literasi terbuka. Mereka yang berdemo itu mengenakan jaket almamater. Nama dan marwah kampus mereka menjadi bagian yang lalu tersangkut sebagai pertaruhan. Ironisnya, asupan literasi berkait hak berpengetahuan politik mahasiswa justru lebih banyak terbangun dari jejaring dan interaksi luar kampus. Kualitas sebuah demonstrasi adalah refleksi wujud capaian serapan pemikiran dan kemampuan bertindak yang justru bukan sepenuhnya buah kecendekiaan dalam layanan universitas.

Oleh karena itu, sangat wajar jika kampus dapat menjadikan dirinya sebagai tempat yang hebat laksana kawah candradimuka. Sama baiknya bagi mereka yang berkhidmat di jalur prestasi maupun para aktivis pergerakan. Membangun dan kian memperkuat budaya komunikasi egaliter bermartabat. Forum diskusi ilmiah terbuka serta kegiatan mimbar bebas berkesantunan adalah kancah untuk mengasah bakat. Universitas dapat mengelolanya sebagai ajang literasi berdemokrasi memperkuat keindonesiaan.

Seperti yang diajarkan Dirac di depan. Semesta itu menghormati kemajemukan. Hiruk pikuk itu kini telah usai dan memang harus usai. Malu rasanya jika berketerusan dalam nalar kemustahilan. Saatnya fokus ke depan. Bayangkan betapa indah jika kita dapat membangun proses literasi yang memperkuat budaya egaliter bermartabat. Termasuk untuk tidak mudah hanyut dalam polarisasi akibat jebakan politik identitas. Momentum Ramadhan adalah saat yang baik untuk berselaras mengubah ujian menjadi tarbiyah demokrasi. Menjadi lebih Indonesia dalam kemajemukan. Seindah warna spektrum cahaya. Seperti gubahan musik yang membangkitkan cinta. Ayo!

*) Iwan Yahya - Dosen dan Peneliti The Iwany Acoustics Research Group (iARG), Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(tor/tor)