Kolom

Strategi Pertanian Berwawasan Agrobisnis

Yoseph Yoneta Motong Wuwur - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 11:53 WIB
Kompetisi Startup Agribisnis Banyuwangi
Kompetisi start-up agribisnis di Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani)
Jakarta -

Di Indonesia pembangunan pertanian tidak sesederhana yang diduga. Permasalahan yang paling krusial adalah pasar dan politik sama-sama meminggirkan sektor pertanian. Kebijakan ekonomi dan politik sering tidak bersahabat dengan sektor pertanian.

Untuk memajukan sektor pertanian dibutuhkan strategi mengenai kesejahteraan petani dan masyarakat, ketahanan pangan dan efisiensi pertanian, proses dan strategi industrialisasi. Makin berkembang suatu negara,akan makin kecil kontribusi sektor pertanian. Hukum Engle mengatakan, jika pendapatan meningkat, maka proporsi pengeluaran terhadap bahan-bahan makanan yang diproduksi sektor pertanian akan makin menurun.

Dalam istilah ekonomi, elastisitas permintaan terhadap makanan lebih kecil dari satu atau tidak anjal, sehingga peningkatan permintaan terhadap bahan makanan tidak sebesar permintaan terhadap barang-barang hasil sektor industri dan jasa. Untuk itu pertanian dalam hal ini sub sektor agrobisnis dan agroindustri berperan penting dalam upaya mendorong sektor pertanian sebagai basis ekonomi Indonesia.

Agrobisnis adalah sebuah sistem mengelola hasil pertanian, namun esensi utama sistem agrobisnis sebagai keterkaitan seluruh komponen dan subsistem agrobisnis tidak mudah untuk merumuskan suatu strategi pengembangan yang terintegrasi. Karakter utama komoditas agrobisnis memang mengandung risiko dan ketidakpastian, sehingga di sana terdapat sekaligus peluang berharga untuk mengelola risiko dan tingkat ketidakpastian tersebut.

Membangun agrobisnis secara integral dilakukan pada seluruh subsistem, dengan prioritas yang dapat diterima oleh para pelaku. Strategi pengembangan agrobisnis bukan semata-mata persoalan manajemen bisnis di tingkat mikro. Namun, berkaitan erat dengan formasi kebijakan di tingkat makro dan kemampuan menyiasati dan menemukan terobosan strategi di tingkat entrepreneur.

Keterpaduan formasi makro-mikro diperlukan mengingat agrobisnis adalah suatu rangkaian sistem usaha berbasis pertanian, dari hulu sampai hilir. Agrobisnis mencakup subsistem sarana produksi atau bahan baku, proses produksi biologis di tingkat bisnis atau usaha tani, aktivitas transformasi berbagai fungsi pengolahan, penyimpanan atau pengawetan, dan pergudangan, serta pemasaran dan perdagangan, serta subsistem pendukung seperti jasa, permodalan, perbankan.

Memilah-milah suatu sistem agrobisnis dalam satuan yang terpisah hanya akan menimbulkan gangguan dalam seluruh rangkaian yang ada. Sistem agrobisnis memang mengedepankan suatu sistem, organisasi, dan manajemen, dirancang untuk memperoleh nilai komersial yang dapat dinikmati oleh seluruh pelaku ekonomi secara fair dari petani produsen, pedagang, dan konsumen. Membangun agrobisnis di tingkat mikro tentu saja amat berhubungan dengan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha tani sebagai pelaku agrobisnis.

Strategi pembangunan pertanian yang berwawasan agrobisnis merupakan upaya sistemik yang ampuh untuk mencapai tujuan dalam menarik dan mendorong sektor pertanian; menciptakan struktur perekonomian yang tangguh, efisien, dan fleksibel; menciptakan nilai tambah; meningkatkan penerimaan devisa; menciptakan lapangan kerja; memperbaiki pembagian pendapatan. Sedang faktor strategik terkait dengan kehandalan tatanan agrobisnis dan agroindustri, seperti lingkungan strategik, tingkat permintaan, sumberdaya dan ilmu dan teknologi.

Karakteristik dan Tantangan

Komoditas agrobisnis umumnya memiliki karakteristik tertentu yang menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku agrobisnis. Karakteristik yang bersifat alamiah cukup sulit memperoleh solusi tanpa upaya intervensi manusia dan pengembangan teknologi yang amat mahal dan sukar terjangkau.

Namun, karakteristik yang terbentuk karena kegagalan pasar seharusnya memperoleh solusi melalui intervensi kebijakan dan perbaikan aransemen kelembagaan yang menjunjung tinggi mekanisme pasar, norma, dan sistem nilai yang lebih adil dan beradab. Karakteristik penting komoditas pertanian dapat dijabarkan sebagai berikut; pertama, bersifat musiman. Komoditas agribisnis dihasilkan melalui proses biologis yang sangat tergantung pada iklim dan alam.

Karakteristik tersebut menyebabkan volume produksi berfluktuasi antar musim, terutama antara musim panen dan musim tanam. Pada musim panen, suplai produk melimpah, sehingga apabila permintaan konstan, maka harga akan turun. Sedangkan pada musim tanam atau paceklik, suplai produk pertanian amat terbatas, sehingga pada tingkat permintaan yang konstan, harga akan melambung tinggi.

Fluktuasi harga yang disebabkan oleh fluktuasi produksi tersebut merupakan sumber risiko dan ketidakpastian dalam proses transaksi antar partisipan dalam sistem agribisnis. Subsistem penyimpanan dan pergudangan dalam agrobisnis menjadi amat penting agar fluktuasi harga tidak terlalu ekstrim, sehingga risiko dan tingkat ketidakpastian dapat dikurangi.

Kedua, mudah rusak. Komoditas pertanian umumnya dihasilkan dalam bentuk segar yang siap untuk dikonsumsi dan/atau diolah lebih lanjut. Bertambahnya waktu akan mempengaruhi volume dan mutu produk pertanian. Sehingga, nilai ekonomi komoditas pertanian cepat anjlok, dan menjadi sumber kerugian terbesar bagi produsen. Dalam agrobisnis, subsistem pengolahan menjadi penting dalam menjaga kualitas dan kuantitas komoditas, yang sekaligus dapat berfungsi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Ketiga, amat beragam --kuantitas dan kualitas komoditas agrobisnis amat beragam. Faktor genetik dan faktor lingkungan mempengaruhi keberagaman tersebut. Selain itu faktor penguasaan teknologi turut menentukan tingkat keberagaman volume dan mutu produk pertanian di beberapa tempat dan waktu tertentu. Karakteristik sangat menentukan besarnya biaya transaksi yang meliputi biaya informasi, biaya negosiasi.

Semakin besar variabilitas dalam volume dan mutu produk akan semakin rumit proses transaksi ekonomi yang menyertainya. Biaya transaksi yang ditimbulkan juga menjadi semakin mahal dan sukar terjangkau pelaku ekonomi. Harga komoditas agrobisnis di tingkat petani menjadi beragam, sehingga tingkat keuntungan dan kesejahteraan petani produsen menjadi beragam.

Keempat, transmisi harga rendah. Komoditas agrobisnis memiliki elastisitas transmisi harga yang rendah dan kadang searah. Kenaikan harga komoditas agrobisnis di tingkat konsumen tidak serta-merta dapat meningkatkan harga di tingkat petani produsen. Namun, penurunan harga di tingkat konsumen umumnya lebih cepat ditransmisikan kepada harga di tingkat petani produsen.

Margin harga antara tingkat konsumen dan tingkat produsen yang terdiri dari biaya dan keuntungan pemasaran umumnya dinikmati pelaku pemasaran yang bukan petani. Petani lebih banyak ditempatkan pada posisi yang hanya mengandalkan kehidupan ekonomi usaha tani dengan nilai tambah relatif kecil.

Walaupun dianggap sebagai salah satu komponen penting, kebijakan harga dasar tentu bukan instrumen paling penting yang mutlak. Kebijakan harga dasar dimaksudkan untuk melindungi anjloknya harga yang diterima petani. Peningkatan produksi secara kasat mata banyak menghadapi kendala di lapangan, selain karena kecilnya insentif harga tingkat petani. Kebijakan pengembangan agrobisnis tentu menghadapi kendala serius karena masalah struktural proses produksi.

Sistem agrobisnis tidak mampu tegak apabila struktur pasar terjebak dalam berbagai asimetri pasar dan asimetri informasi di tingkat nasional dan global. Dalam bahasa ekonomi, struktur pasar sangat jauh dari kondisi persaingan sempurna, karena formasi harga ditentukan di pusat-pusat perdagangan yang sangat jauh dari pusat produksi.

Pengembangan agrobisnis dapat diukur dengan tingkat diversifikasi usaha ke arah penerimaan ekonomis yang lebih baik. Langkah diversifikasi usaha tidak dapat berjalan mulus apabila pendapatan petani masih rendah. Petani memerlukan tambahan modal kerja dan investasi untuk adopsi teknologi baru, akses informasi, intensitas tenaga kerja proses produksi, manajemen pengolahan, pemasaran, dan pasca panen, baik secara individual maupun secara kelompok.

Yoseph Yoneta Motong Wuwur alumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores, Ende

Tonton juga Video: Menengok Alifmart Store, Bisnis Pertanian Santri Milenial Bandung

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)