Kolom

Bijak Menyikapi Terorisme

Jannus TH Siahaan - detikNews
Jumat, 02 Apr 2021 13:33 WIB
Polisi memasang garis polisi saat pengerebekan di Showroom Mobil Kemilau Motor, Condet, Jakarta, Senin (29/3/2021). Polisi menggerebek showroom mobil ini terkait terorisme.
Ilustrasi terkait terorisme (Foto: Agung Pambudhy/detikcom).
Jakarta - Ajaran agama manapun berpotensi disalahtafsirkan atau berpotensi dengan sengaja disalahtafsirkan oleh oknum tertentu dari agama tersebut untuk kepentingan yang sebenarnya tidak terkait dengan kebaikan yang diajarkan agama. Itulah yang sebenarnya terjadi pada kasus terorisme. Jadi kurang etis kiranya jika memaksakan pendapat yang mengatakan bahwa tidak perlu enggan mengakui adanya ajaran teroristik di dalam suatu agama tertentu.

Pandangan ini bisa menyesatkan dan disalahartikan oleh publik. Mengapa? Karena pandangan ini justru menghilangkan potensi penyalahgunaan ajaran agama oleh pihak tertentu untuk tindakan teroristik, dengan langsung mengonstruksi logika bahwa agama tertentu itulah yang menjadi penyebab aksi terorisme tersebut. Padahal, tidak ada ajaran agama yang mengajarkan tindakan terorisme.

Saya kira, pandangan seperti itu justru melahirkan reaksi yang setimpal pada ujungnya. Kebencian terhadap praktik dari ajaran agama tertentu yang disalahtafsirkan ternyata juga berpotensi melahirkan aksi teroristik balasan yang juga tak kalah brutalnya. Itulah yang terjadi pada kasus penembakan brutal di salah satu Masjid di New Zealand, beberapa tahun lalu, yang sebenarnya setara dengan aksi terorisme. Karena memandang praktik terorisme langsung terkait dengan agama tertentu, maka umat agama tertentu itu, yang sejatinya tak terkait dengan penyalahgunaan atau penyalahtafsiran ajaran agama, justru dirundung balasan teroristik yang tak semestinya ditanggung.

Jadi sikap para petinggi negara dan ormas-ormas Islam dalam menyikapi kejadian Makassar dan Trunojoyo perlu diapresiasi. Publik, terutama tokoh-tokoh tertentu, sebaiknya tidak perlu memaksa pemerintah atau ormas-ormas Islam untuk gamblang mengatakan bahwa memang ada ajaran teroristik di dalam agama Islam. Sudah pasti tak akan ada yang mengakui, karena memang tidak ada. Yang ada adalah penyalahgunaan atau penyalahtafsiran ajaran tertentu dalam Islam, yakni soal jihad, yang memang tidak sesuai dengan Islam.

Aksi terorisme sangat jelas faktanya. Tanpa membawa-membawa agama pun, faktanya bisa dilihat. Bom bunuh diri di Makassar atau kejadian di Trunojoyo, misalnya. Keduanya adalah fakta terorisme, yang jika tak dihubungkan dengan agama tertentu, tetap menjadi fakta terorisme. Dan jika kemudian dikatakan motivatornya adalah ajaran agama, maka sudah barang tentu bukan ajaran agama yang dimaknai secara benar.

Dengan kata lain, ajaran agama tertentu, yang sejatinya mengajarkan kebaikan, sejatinya secara logis tidak bisa dianggap sebagai penyebab, karena nyatanya penyalahgunaan dan penyalahtafsirannya lah yang menjadi penyebab. Batasnya memang terasa agak tipis. Tapi bagaimanapun, batas itu harus kita kedepankan, agar tidak terjadi penghakiman secara persepsional terhadap satu agama tertentu.

Jadi, bagi pemerintah fokus utama adalah pencegahan dan penindakan setiap aksi terorisme yang akan dan telah terjadi sesuai dengan hukum yang berlaku, yang didukung secara penuh oleh ormas-ormas Islam. Perkara ada atau tidak kaitannya dengan ajaran agama tertentu yang disalahgunakan, pemerintah harus mengambil batas secara tegas sehingga tidak mudah mencampurkan antara agama tertentu dan penyalahgunaan ajaran agama tertentu.

Yang perlu dibangun oleh pemerintah adalah komunikasi intens untuk memupuk kesepakatan bersama dengan semua elemen keagamaan bahwa terorisme adalah musuh semua agama di Indonesia. Sehingga, jika pemerintah mengambil sikap tegas terhadap teroris, maka itu tidak terkait dengan sikap pemerintah terhadap ajaran agama tertentu yang sejatinya mengajarkan kebaikan.

Dan bagi ormas, terutama ormas Islam yang memang sering dalam posisi dilema di saat ada aksi terorisme di Indonesia, perlu memastikan bahwa penyalahgunaan dan penyalahtafsiran ajaran agama Islam tidak terjadi terjadi di dalam ormas-ormas Islam yang ada dan di dalam lingkar pemahaman umat Islam Indonesia

Tentu ini bukan pekerjaan mudah, karena Islam di Indonesia juga berbeda-beda, baik dari sisi beberapa ajaran dasar dan pemahaman teknis maupun dari sisi organisasinya. Tapi yang harus dipastikan adalah bahwa tidak ada ormas Islam di Indonesia yang mengajarkan aksi terorisme dan semua masyarakat Islam Indonesia memahami ajaran itu.

Sehingga jika sampai ada yang menggunakan Islam sebagai landasan ideologis terorisme, maka dipastikan itu bukan ajaran Islam yang ada di Indonesia dan ormas-ormas Islam Indonesia wajib meminta pemerintah untuk menumpasnya, atas nama Islam. Komitmen-komitmen inilah yang harus ditegaskan dan dikedepankan hari ini, dari semua pihak, terutama pemerintah dan umat Islam, agar tidak terjebak ke dalam logika-logika yang justru memperkeruh suasana batin publik. Semoga.

Jannus TH Siahaan
Pengamat Pertahanan dan Keamanan (gbr/gbr)