Kolom

Teroris dari Kaum Muda

Yuli Isnadi - detikNews
Kamis, 01 Apr 2021 13:48 WIB
Suasana gedung Mabes Polri pascapenyerangan terduga teroris di Jakarta, Rabu (31/3/2021). Mabes Polri memperketat penjagaan pascaserangan dari terduga teroris yang tewas di tempat usai baku tembak. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Mabes Polri perketat penjagaan (Foto: Muhammad Adimaja/Antara)
Jakarta - Belum habis kemarahan kita terhadap peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Kota Makassar (28/3), seorang teroris menyerang Mabes Polri (31/3). Perempuan muda itu pun tersungkur diterjang peluru aparat. Kejadian ini mengundang banyak perdebatan. Mulai dari apakah tindakan aparat sudah sesuai dengan prosedur, apakah pistol yang dibawa perempuan tersebut asli, sampai dengan bagaimana detail persiapan aksinya.

Terlepas dari itu semua, satu hal yang pasti, jumlah mereka berlipat. Walau pihak aparat telah melakukan operasi di sejumlah provinsi dalam beberapa bulan terakhir dan berhasil menangkap ratusan terduga teroris, tapi jumlah mereka seolah tak habis-habis.

Menariknya lagi, sebagian mereka adalah kaum muda. Laporan BNPT tahun 2017 lalu menyebutkan, hampir dua per tiga pelaku terorisme berusia antara 21-30 tahun. Artinya, mereka terlahir dari generasi Y dan Z. Ini dikonfirmasi oleh tiga pelaku teror terakhir, bom di Makassar dan penyerangan Mabes Polri, yang semuanya masih berusia muda. Wajar jika terbersit sebuah pertanyaan, mengapa jumlah kaum muda yang terpapar paham radikal berlipat?

Menurut pendapat saya, ini disebabkan kesesuaian antara perubahan sifat kelompok terorisme beberapa tahun terakhir dengan karakteristik kaum muda. Di satu sisi, internet telah berhasil mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi. Website, Facebook, Instagram, WhatsApp, sampai Telegram dan YouTube telah membuat arus informasi menjadi cepat, murah, dan mudah.

Sedangkan di sisi yang lain, kaum muda adalah pengguna aktif media sosial. Sebagian besar kebutuhan hidup mereka dapat diselesaikan oleh semua media sosial sehingga keterikatan mereka terhadap media sosial amat tinggi.

Kelompok terorisme sudah berhasil merevolusi gerakannya dengan menggunakan internet. Jika dulu informasi propaganda dilakukan secara lambat, mahal, dan sulit, kini cukup dengan mengklik tombol akun media sosial, bujuk rayu para teroris pun mendarat di akun-akun media sosial kaum muda. Jauh dari pantauan siapapun, termasuk aparat. Inilah yang membuat rekrutmen calon "pengantin" berjalan mulus.

Teroris juga telah berhasil menyederhanakan proses pendidikan calon "pengantin" berkat kemajuan internet. Jika dulu mereka harus mengumpulkan calon "pengantin" di suatu tempat untuk dididik dan dilatih secara sembunyi-sembunyi, kini hal itu tidak perlu lagi dilakukan. Pendidikan calon "pengantin" cukup dilakukan secara virtual, di kamar mereka masing-masing.

Misalnya, ada banyak buku dan video cara pembuatan bom dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat yang bisa diakses di media sosial. Kaum muda yang terpapar paham radikal cukup mengunci pintu dan menutup jendela kamarnya, proses perakitan pun bisa dicoba. Jika gagal, bisa berkonsultasi langsung dengan para mentor. Bila berhasil, mereka tinggal bersiap menyusun rencana aksi teror.

Dengan menggunakan internet, kelompok teroris juga mampu menciptakan cara memberi dukungan yang fleksibel. Dulu sebelum era internet para simpatisan paham radikal memberi dukungan langsung. Hal itu bisa berupa ikut memanggul senjata, rompi penuh bom, maupun dengan menyediakan dana untuk operasi teror. Saat ini hal tersebut sudah lebih fleksibel. Kaum muda berpaham radikal dapat memberi dukungan sesuai dengan situasinya masing-masing.

Bagi mereka pemilik keahlian desain grafis, membuat meme yang membangkitkan paham-paham radikal menjadi sumbangan terpenting. Meme itu dapat dirilis di sejumlah media sosial dan memperkuat propaganda kelompok teroris. Sedangkan kaum muda yang memiliki keuangan yang cukup kuat, ia bisa ikut mendukung gerakan radikal dengan menjadi donatur.

Celakanya, algoritma media sosial secara tidak langsung mempercepat proses radikalisasi kaum muda. Ketika algoritma media sosial mengenali kata kunci yang sering mereka gunakan, maka semesta informasi yang ditawarkan oleh media sosial kepada gawai kaum muda menjadi sejenis.

Informasi, gambar, video, sampai percakapan radikal yang biasa mereka diakses dan digunakan oleh seorang anak muda akan menjadi input penting bagi bekerjanya akun media sosial miliknya. Akibatnya, ia yang mulai terpapar paham radikal terperangkap di belantara informasi radikal. Ia tumbuh semakin radikal dari hari ke hari.

Terakhir, arus kencang informasi sebuah peristiwa juga turut mempercepat proses radikalisasi. Dulu sebelum era digital, semua informasi direkam oleh media massa dan televisi. Pembaruan berita terkini berjalan cukup lambat, terlebih koran cetak yang butuh waktu 24 jam untuk memperbaharui beritanya.

Tapi sekarang situasinya sudah berubah. Ketika aparat melakukan penangkapan teroris, di mana beberapa di antaranya terbunuh dalam sebuah kontak senjata, peristiwa tersebut dengan sangat cepat dan mudah diakses oleh "teroris muda" melalui gawainya. Hal serupa juga terjadi ketika beberapa di antara mereka memutuskan untuk meledakkan diri sebuah lokasi. Kecepatan informasi ini membuat proses radikalisme kaum muda menjadi berlipat. Pembenaran terhadap paham radikal yang dianut semakin kuat.

Jadi inilah kenyataannya. Kita harus sadar bahwa kelompok teroris belum juga habis. Internet telah telah membuat mereka dapat menjangkau kaum muda lebih cepat. Pelatihan bagi calon "pengantin" dapat dilakukan secara lebih mudah. Kaum muda yang mulai terpapar paham radikal juga bisa berkontribusi secara fleksibel, sesuai dengan kesanggupannya. Dan yang tak kalah mengerikannya, algoritma media sosial dan kecepatan informasi sebuah peristiwa juga membantu kelompok ini dalam membuat kaum muda menjadi lebih radikal. Ironis.

Yuli Isnadi dosen FISIPOL UGM, pengamat politik internet

(mmu/mmu)