Kolom

Mudahnya Orang Memutuskan Aborsi

Ninda Alfi octafiani - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 10:43 WIB
Mother and child. Wooden figure on brown paper background. Pregnancy, abortion or adoption concept.
Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/maurusone
Jakarta -
Pagi itu, entah mimpi apa saya malam sebelumnya. Tiba-tiba pasien saya, orang Saudi, yang hendak periksa kandungan mengajukan pertanyaan yang mengejutkan.

"Sister, kamu tahu tidak, obat yang bagus untuk menggugurkan kandungan?" tanyanya santai tanpa beban. Orang Arab biasa memanggil semua perawat perempuan dengan sebutan sister.

Duh! Kalau di Indonesia mungkin saya akan menasihati bahkan menceramahinya. Sayangnya, bahasa Arab saya belum sampai level untuk bisa menceramahi pasien ini. Jadi, saya jawab saja bahwa saya tidak tahu. Toh, saya memang tidak tahu secara spesifik tentang obat itu. Kalau saya beri tahu, tentu saja ini melanggar sumpah profesi.

***

Selama hampir dua tahun bekerja menjadi asisten dokter spesialis kandungan di sebuah klinik di kota Mekkah, Saudi Arabia saya telah menjumpai tiga pasien yang tidak ingin melanjutkan kehamilannya. Bahasa bekennya ingin aborsi. Heran boleh saja, kok di Saudi ada sih yang ingin menggugurkan kandungan? Apakah alasannya karena orang Arab enggan memiliki banyak anak seperti yang santer kita dengar di Indonesia? Tidak! Bahkan hampir tidak pernah saya temui hal itu. Di Indonesia pun sama. Bukan banyak anak yang menyebabkan banyak perempuan ingin menggugurkan kandungannya.

Pasien saya tadi beralasan takut melahirkan dengan operasi sesar karena sudah dua kali melakukan operasi. Terakhir operasi sesar baru setahun yang lalu. Ia membayangkan bagaimana sakitnya bila perutnya harus dibedah lagi sedangkan rasa nyerinya saja masih terasa hingga kini. Saya tawarkan mengapa tidak memasang alat kontrasepsi saja. Banyak alasan yang ia lontarkan. Lalu, saya tanyakan juga mengapa tidak memakai kontrasepsi IUD bila takut hamil lagi. Si pasien menjawab bahwa suaminya melarang karena memasang IUD itu mahal. Ih, alibi laki-laki!

Terus kalau sudah hamil begini tinggal digugurin gitu aja? Untuk kalimat ini, saya hanya bergumam di dalam hati. Beberapa saat kemudian, ia menelepon kerabatnya. Dengan percaya diri di depan saya, ia berbicara dengan orang di seberang telepon menanyakan tentang makanan apa yang bagus untuk menggugurkan kandungan. Glek! Saya no comment kalau sudah begini.

Dulu ketika masih bekerja di Indonesia, saya juga pernah mendapatkan pasien yang ingin menggugurkan kandungan. Si pasien ini sudah menikah dan memiliki anak. Awalnya, ia datang ingin memastikan usia kehamilannya. Selanjutnya, tanpa diduga sekalian ingin aborsi. Katanya, ia dan suaminya belum ada niat untuk menambah momongan lagi. Entah karena masalah ekonomi atau masalah lainnya. Maaf! Untuk alasan satu ini saya tidak habis pikir. Waktu bikinnya mungkin pasutri ini lupa kalau konsekuensinya ya pasti hamil.

Sering kali tenaga kesehatan disalahkan tentang kesalahan pasien yang hamil tanpa direncanakan. Padahal konseling terbaik telah dilakukan. Semua orang pasti tahu konsekuensi dari melakukan hubungan suami istri tanpa menggunakan alat kontrasepsi atau pengaman, sudah pasti hamil. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan selanjutnya, pasien ini tidak ada kabarnya lagi. Entah berhasil atau tidak niatnya untuk melakukan tindakan aborsi.

Banyak orang berpikir mumpung masih kecil janinnya, baiknya digugurkan saja, risiko kecil. Sebentar, ini teori dari mana ya?

***

Perempuan acap ditempatkan pada banyak pilihan. Melanjutkan kehamilannya atau digugurkan. Mereka juga selalu taat dan patuh pada keluarga atau suaminya. Perempuan cerdas dan berpendidikan pasti tahu konsekuensi besar di balik praktik aborsi khususnya untuk kesehatan sistem reproduksi dan masa depannya.

Aborsi bukan pilihan akhir dan bukan juga sebuah solusi. Aborsi ibarat merencanakan kegagalan. Kegagalan masa depan. Banyak hal masih bisa dilakukan. Perempuan bisa memilih untuk keberlangsungan hidupnya sendiri terlepas ia harus taat, tunduk, dan patuh pada keluarga atau suaminya.

Solusi terbaiknya bagaimana? Apakah sex education itu penting juga untuk para pembina keluarga? Lalu, bagaimana dengan keberhasilan penggunaan alat kontrasepsi selama ini?

Sex education sekarang ini masih banyak disosialisasikan untuk para muda-mudi yang belum menikah atau yang baru menginjak masa remaja. Penting juga sex education diterapkan untuk pasangan suami-istri. Baik yang baru menikah atau yang telah lama menikah. Konten dari sex education nantinya bisa disesuaikan dengan masalah yang sering dihadapi di dalam rumah tangga. Sex education tentu saja salah satu solusi untuk kesehatan reproduksi. Ingat, hanya salah satu. Masih ada pendidikan agama dan pendidikan karakter yang perlu ditanamkan dalam diri.

Hendaknya keluarga yang memiliki perencanaan terbaik bertanya pada ahlinya. Seperti pepatah mengatakan malu bertanya sesat di jalan. Menyepelekan kehamilan, melakukan aborsi kemudian. Bukan, bukan begitu. Tenaga kesehatan sudah tersebar di mana-mana hingga angka yang menganggur juga di mana-mana. Masih kurang juga untuk bertanya pada ahlinya? Bagaimana kalau ahlinya ini juga melakukan aborsi? Kalau untuk masalah ini, mungkin si ahlinya ini lupa arah jalan.

Lain kesempatan, di Indonesia, saya pernah menemui pasien yang ingin menggugurkan kandungan juga. Alasannya karena hamil di luar nikah dengan pacar. Si pacar lepas tanggung jawab. Seluruh keluarga si gadis bingung harus bagaimana. Kepalang malu dengan sanak keluarga dan tetangga.

Keluarga si gadis menginginkan untuk digugurkan kandungannya. Tentu saja, Bu Bidan mengatakan tidak bisa dan melarang untuk digugurkan. Beberapa hari kemudian, si gadis dan keluarganya datang kembali ke klinik tempat saya bekerja karena mengalami perdarahan.

Usut punya usut, si gadis dengan terbata-bata mengatakan telah meminum obat sejenis pil yang diberikan oleh orangtuanya. Ibu dari si gadis hanya diam, tidak mengakui perbuatannya. Mereka berpikir jika janin digugurkan, maka masalah akan mudah teratasi. Cara satu-satu ya minum obat penggugur kandungan. Apakah cara itu berhasil? Tidak! Kehamilan itu berhasil diselamatkan.

Bila saya cermati dengan teliti, keluarga si gadis ini termasuk golongan ekonomi kelas menengah ke bawah. Tidak mungkin mampu membeli obat penggugur kandungan --jika obat ini mahal harganya. Apotek-apotek pun tidak sembarangan memberikan obat penggugur kandungan. Apalagi tanpa resep dari dokter. Jika kita mengenal media sosial yang bisa dengan mudah diakses, maka masyarakat di desa khususnya mengenal pertukaran informasi dari mulut ke mulut. Ini berlaku sejak dahulu kala hingga kini. Entah dari mana informasinya. Biasanya mereka tahu dengan tepat alternatif untuk menggugurkan kandungan.

Dari sini kita tahu, betapa rendahnya orang menghargai sebuah kehidupan. Padahal ada hak hidup yang tertanam sejak kehidupan calon manusia terbentuk. Janin-janin itu juga tidak bisa memilih orangtua mana yang kelak akan menjadi ayah dan ibunya. Perasaan menghargai kehidupan ini begitu mudah hilang ketika terdesak oleh situasi yang sulit.

Ini bukan hal sepele; begitu banyak orang dengan mudahnya berpikir untuk melakukan aborsi. Diikuti dengan maraknya klinik-klinik aborsi yang berkedok klinik kesehatan. Entah kurang tegasnya atau ketidakpedulian pemerintah. Masalah aborsi ini ibarat gunung es. Terlihat sedikit, tapi bila ditelusuri semakin dalam begitu banyak yang tidak terungkap. Mungkin tidak berdampak jangka pendek. Namun, jangka panjangnya kehilangan satu perempuan seperti kehilangan satu generasi.

Faktor psikologis dan ekonomi menjadi biang dari mudahnya orang menggugurkan kandungan. Ada yang khawatir dengan kesehatannya, karena rasa malu, dan jatuhnya harga diri keluarga, serta ketakutan-ketakutan lain yang tidak ada dasarnya. Kesempatan-kesempatan ini juga dengan mudah dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab termasuk adanya oknum tenaga kesehatan juga. Mudahnya orang menggugurkan kandungan semudah membalikkan telapak tangan.

Di Saudi Arabia, selama saya bekerja menjadi asisten dokter spesialis kandungan, dokter tidak pernah memberikan resep obat penggugur kandungan. Sekalipun pasien bersikukuh tidak ingin melakukan prosedur curretage atau kuret. Dokter spesialis kandungan memberikan opsi menunggu hingga si janin keluar dengan sendirinya atau dilakukan tindakan segera yaitu kuret, bila memang sudah masuk kegawatdaruratan dan mengancam nyawa si ibu.

Tenaga medis yang jujur, amanah, dan memegang teguh sumpah profesinya --entah di Indonesia maupun di Saudi Arabia-- pasti tidak akan melakukan praktik aborsi kepada pasiennya. Dalam kurun waktu jangka panjang, bila praktik aborsi ini berhasil dilakukan, maka kemungkinan organ reproduksinya akan mengalami kelainan dan susah untuk hamil lagi. Selain itu, jika bayi yang dikandung gagal digugurkan, maka bisa-bisa bayi lahir cacat. Sabodo amat sepertinya bagi pasien-pasien itu.

Tingkat pengetahuan masyarakat sekarang ini sudah semakin baik. Apalagi didukung informasi yang mudah di akses di mana pun. Sosialisasi tentang penggunaan alat kontrasepsi juga sudah dilakukan untuk semua golongan. Para tenaga kesehatan yang tersebar di puskesmas-puskesmas wilayah pun mempunyai target-target siapa saja yang butuh diberikan konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi. Orang-orang berpendidikan dan berintelektual harusnya paham tentang cara menunda kehamilan serta konsekuensi apa yang didapat bila harus melakukan aborsi. Mungkin ini salah satu tips untuk mengurangi populasi penduduk juga. Eh!

Ninda Alfi Octafiani bidan; tinggal sementara di kota Mekkah, Saudi Arabia

(mmu/mmu)