DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 10 April 2019, 11:50 WIB

Mimbar Mahasiswa

Mengelola Urbanisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi

Andi Muhammad Nur Fauzan Hayyu - detikNews
Mengelola Urbanisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Foto: detik
Jakarta - Laporan Perekonomian Indonesia 2018 yang dibuat oleh Bank Indonesia menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 mencapai 5,17%, meningkat dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya yaitu sebesar 5,07%. Hal ini merupakan momentum pemulihan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global. Bahkan dalam asumsi dasar ekonomi makro APBN 2019 pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% walaupun lembaga setingkat World Bank dan International Monetary Fund (IMF) pesimis terhadap angka tersebut. Yang jelas, hal tersebut tidak mengurangi optimisme pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara, di antaranya kualitas dan kuantitas tenaga kerja serta jumlah barang modal yang merupakan faktor produksi utama. Jumlah tenaga kerja mampu menentukan jumlah produksi, sedangkan mutu tenaga kerja yang ditopang dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni mampu meningkatkan produktivitas yang tinggi. Selain itu, banyaknya jumlah penduduk juga akan mempengaruhi cakupan pangsa pasar yang luas yang akan menciptakan dorongan terhadap pertambahan produksi nasional dan tingkat kegiatan ekonomi.

Indonesia yang dikaruniai jumlah penduduk dan sumber daya alam yang melimpah memiliki potensi menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Ditambah lagi bonus demografi yang akan terwujud hingga beberapa tahun ke depan membuat Standard Chartered Plc memprediksikan Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia pada 2030. Tentu saja hal ini bukan hanya ramalan semata, karena potensi Indonesia yang begitu besar bahkan diakui negara lainnya di dunia.

Tertinggi di Asia

Tingginya laju pertumbuhan penduduk Indonesia dapat menyebabkan tingginya tingkat perpindahan penduduk dari desa ke kota. Terbatasnya kesempatan dan lapangan kerja serta maraknya alih fungsi lahan pertanian di desa membuat sebagian penduduk usia produktif memilih untuk mengadu nasib di kota. Iming-iming upah yang tinggi dan fasilitas kehidupan yang memadai di kota semakin menambah jumlah kaum urban di Indonesia.

Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), perkembangan jumlah penduduk perkotaan terus meningkat berdasarkan perbedaan laju pertumbuhan penduduk daerah perkotaan dan daerah perdesaan (Urban Rural Growth Difference/URGD). Dalam kurun waktu 5 tahun antara 2015-2020 diprediksi tingkat urbanisasi meningkat dari 53,3% menjadi 56,7% dan diproyeksikan menjadi 66,6% pada 2035. Laju urbanisasi ini merupakan yang tertinggi di Asia. Potensi perpindahan penduduk ke daerah perkotaan ini dapat membawa dampak positif bagi perekonomian.

Meningkatkan Pendapatan

Urbanisasi dapat mendorong meningkatnya faktor utama pertumbuhan ekonomi yaitu konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah. Urbanisasi mendorong meningkatnya jumlah pendapatan masyarakat desa yang pindah ke kota. Tingginya tingkat upah di kota dibandingkan di desa diikuti juga dengan pola perubahan konsumsi masyarakat. Jika masyarakat di desa misalnya hanya menghabiskan satu hingga dua juta per bulan untuk konsumsi, maka kehidupan di kota menawarkan tingkat konsumsi hingga lebih dari dua kali lipat. Tingginya harga barang dan pola hidup perkotaan yang cenderung konsumtif pada akhirnya ikut meningkatkan tingkat konsumsi rumah tangga. Selain itu, tingginya perkembangan jumlah penduduk di kota akan meningkatkan investasi dan belanja pemerintah di kota.

Pembangunan infrastruktur dan fasilitas dasar seperti kesehatan, pendidikan, jalan raya hingga fasilitas hiburan akan meningkat seiring dengan bertambah luasnya cakupan pangsa pasar akibat dari meningkatnya jumlah penduduk. Dengan berkembangnya infrastruktur ekonomi yang memadai di perkotaan untuk menunjang kegiatan ekonomi seperti komunikasi, transportasi, lembaga keuangan, dan sistem penyediaan energi juga turut membangun lapangan pekerjaan baru. Bertambahnya lapangan pekerjaan ini akan mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan serta mendorong pemerataan ekonomi dengan adanya arus kas yang mengalir dari perkotaan ke perdesaan dari kaum urban yang bekerja dan menyisihkan pendapatannya untuk keluarga di desa.

Dengan demikian, meningkatnya tingkat urbanisasi dapat menjadi upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia ke depannya. Namun, jika tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, urbanisasi justru menjadi bumerang bagi negara. Urbanisasi pada dasarnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kenaikan populasi di daerah perkotaan dapat mendorong pertumbuhan PDB per kapita.

Di negara dengan tingkat pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang tinggi seperti Tiongkok dan India, dalam medio 1970 hingga 2012 misalnya, setiap kenaikan satu persen populasi menaikkan pertumbuhan PDB per kapita masing-masing sebesar sepuluh dan tujuh persen. Sedangkan di Indonesia, kenaikan PDB per kapita hanya berkisar empat persen. Hal ini menunjukkan urbanisasi di Indonesia belum mampu menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Potensi urbanisasi juga harus ditunjang dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas yang memadai sehingga penduduk di daerah perkotaan dapat terhindar dari masalah kemacetan, polusi, dan risiko bencana. Bertambahnya jumlah populasi di kota jika tidak diikuti dengan bertambahnya tingkat taraf hidup masyarakat justru akan menimbulkan masalah baru di perkotaan. Kenaikan jumlah angkatan kerja yang tidak diiringi dengan bertambahnya lapangan pekerja dan peningkatan mutu tenaga kerja akan meningkatkan daya saing yang tinggi serta menambah jumlah pengangguran dan kemiskinan yang pada akhirnya memicu kriminalitas.

Selain itu, masyarakat yang pindah dari perdesaan ke perkotaan jika tidak diiringi dengan pengetahuan dan kesadaran hidup yang tinggi akan mengurangi efektivitas penggunaan fasilitas yang disediakan negara. Infrastruktur yang dibangun pemerintah jika tidak dimanfaatkan dengan baik akan mengurangi fungsi dan manfaatnya. Hal ini dapat dilihat contohnya secara nyata di ibu kota provinsi seperti DKI Jakarta, di mana fasilitas publik bahkan menjadi sasaran vandalisme dan kesewenangan penggunaan tanpa memperhatikan keberlangsungan ke depannya.

Didukung Pemerintah

Urbanisasi merupakan hal yang tak dapat dihindari khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia. Namun, peningkatan populasi penduduk daerah perkotaan juga harus didukung oleh pemerintah dan dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Pembangunan infrastruktur di perkotaan seperti perumahan rakyat yang sesuai dengan tata kelola perkotaan yang optimal, transportasi publik dan fasilitas kesehatan serta pendidikan formal yang terjangkau, sarana pengelolaan air bersih dan sanitasi yang cukup serta layanan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan mutu tenaga kerja. Selain itu, pemerintah juga mengupayakan pemerataan ekonomi di desa melalui optimalisasi penggunaan dan pengawasan dana desa yang akan berdampak pada pembangunan ekonomi di desa serta mendorong reklasifikasi desa perdesaan menjadi desa perkotaan.

Kualitas urbanisasi juga ditentukan dari kualitas kaum urban yang berpindah dari desa ke kota. Peningkatan kualitas pendidikan di perdesaan akan berdampak bagi meningkatnya kesadaran dan kepedulian kaum urban terhadap kehidupan dan fasilitas di perkotaan sehingga masyarakat yang berpindah dari desa ke kota mempunyai visi dan tujuan yang terarah, bukan lagi hanya mengadu nasib namun juga meningkatkan taraf hidup dan perekonomian rumah tangga. Juga pola pikir untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dengan menjadi wirausaha daripada hanya sebagai pencari kerja. Dengan demikian, pemanfaatan laju urbanisasi yang tinggi dan bonus demografi yang optimal dapat mewujudkan peningkatan pertumbuhan ekonomi tahun ini dan meningkatkan optimisme Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia pada tahun 2030 mendatang.

Andi Muhammad Nur Fauzan Hayyu mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed