Karier Sekejap Jubir Gedung Putih Sebab Berulang Kali Blunder

Karier Sekejap Jubir Gedung Putih Sebab Berulang Kali Blunder

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2026 20:40 WIB
Sekretaris Pers Gedung Putih, Katie Zacharia (Foto: AFP/JIM WATSON)
Sekretaris Pers Gedung Putih, Katie Zacharia (Foto: AFP/JIM WATSON)
Jakarta -

Katie Zacharia dicopot dari posisi juru bicara Gedung Putih setelah kurang dari sepekan menjabat. Keputusan itu diambil setelah serangkaian blunder Zacharia dinilai menambah masalah bagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dilansir AFP, Sabtu (17/10/2026), seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi Zacharia, 41, telah keluar dari posisi tersebut. Konfirmasi itu disampaikan setelah Fox News melaporkan bahwa Zacharia sedang "bertransisi keluar" dari jabatannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kabar pencopotan Zacharia sebenarnya telah mencuat setelah Trump memberikan sinyal bahwa dirinya siap kehilangan juru bicaranya yang baru ditunjuk itu.

Zacharia menjadi sorotan setelah muncul kritik terkait klaimnya yang pernah mengaku sebagai pengacara, yang ternyata tidak benar. Dia juga menjadi bahan olok-olok setelah konferensi pers perdananya di Gedung Putih berlangsung singkat dan dianggap buruk.

ADVERTISEMENT

"Saya bilang, 'Katie, apakah ini untuk Anda?'" kata Trump kepada wartawan.

"Saya bilang, 'Katie, Anda tidak harus melakukan ini'... Saya berkata kepadanya, 'Sejujurnya, kalau saya jadi Anda, saya akan mempertimbangkannya kembali,'" lanjut Trump.

New White House Press Secretary Katie Zacharia stands behind US President Donald Trump as he departs the White House in Washington, DC, US, October 13, 2026.    REUTERS/Kevin LamarqueSekretaris Pers baru Gedung Putih, Katie Zacharia, berdiri di belakang Presiden AS Donald Trump (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)

Zacharia mengambil alih posisi tersebut dari Karoline Leavitt, yang dikenal agresif dalam menghadapi media. Leavitt sebelumnya membantu Trump mengubah pola pemberitaan Gedung Putih dengan memberikan ruang lebih besar kepada media yang dianggap bersahabat dengan pemerintah sekaligus menyerang media yang kritis.

Pada Selasa pagi, dia menggelar konferensi pers pertamanya di ruang pengarahan Gedung Putih. Konferensi pers itu berlangsung kurang dari 15 menit.

Zacharia mengawali sesi dengan membacakan secara lambat daftar yang disebutnya sebagai berbagai pencapaian Trump. Setelah itu, dia hanya menjawab tiga pertanyaan dari wartawan.

Zacharia Pernah Sebut China Tidak Punya Toilet Layak

Zacharia pernah menyebut China tidak memiliki "toilet yang layak". Dalam wawancara dengan seorang influencer ternama AS, seperti dilansir AFP, Jumat (16/10/2026), Zacharia yang pernah tinggal di China ini menceritakan kembali persepsi yang berkembang pada tahun 2016 lalu, soal China akan segera melampaui AS.

"Kami semua diberitahu bahwa Hillary (Clinton) akan menang. Masa keemasan atau masa kejayaan Amerika dianggap telah berakhir. Bahwa China digadang-gadang akan berjaya," kata Zacharia dalam wawancara dengan Jack Posobiec, seorang influencer sayap kanan, yang disiarkan pada Kamis (15/10) waktu setempat.

"Saya ingat betul saat itu, karena baru saja kembali dari China, saya berpikir, 'Bagaimana mungkin China menjadi negara berikutnya yang akan berjaya?' Mereka bahkan tidak memiliki toilet yang layak," ucapnya.

Komentar Zacharia ini menjadi sorotan setelah Trump baru-baru ini membanggakan "hubungan yang sangat baik" dengan Presiden China Xi Jinping.

Dalam pertemuan puncak di Washington DC pada September lalu, Trump dan Xi membahas berbagai topik, mulai dari kecerdasan buatan (AI) dan perdagangan hingga konflik Iran yang menemui jalan buntu, serta mengonfirmasi mereka akan bertatap muka kembali pada tahun ini.

Klaim Profesi Pengacara, Tapi Tak Lulus Ujian Advokat

Zacharia menggelar konferensi pers pertamanya di Gedung Putih pada Selasa (13/10) waktu setempat, yang berlangsung sangat singkat di mana dia hanya menjawab pertanyaan dari tiga jurnalis saja.

Sebelum komentar soal toilet China itu mencuat, Zacharia menjadi sorotan terkait kualifikasi legal yang diklaim olehnya. Dia menyebut dirinya sebagai pengacara, namun tidak bisa menjawab dengan jelas ketika ditanya di mana dia lulus ujian profesi advokat -- prasyarat untuk bisa melakukan praktik hukum di AS.

Dia mencantumkan posisinya sebagai penasihat hukum di sebuah organisasi nirlaba konservatif di California, dan mengakui pernah bekerja di sebuah firma hukum di Beijing.

Namun ketika ditanya soal latar belakang hukumnya pada Kamis (15/10), Zacharia menjelaskan bahwa dirinya sempat mendaftar untuk mengikuti ujian profesi advokat (bar exam), namun kemudian "terganggu dan kewalahan" oleh kepindahan dirinya bersama sang suami ke China.

Dia mengakui tidak mengikuti kembali ujian profesi advokat setelah kembali ke AS.

Tetapi, Zacharia bersikeras bahwa dia tetap dapat menyebut dirinya sebagai pengacara (lawyer). Dia diketahui lulus dari Pepperdine University dengan gelar di bidang hukum.

Dikatakan oleh Zacharia bahwa "banyak orang di bidang ini" meyakinkan dirinya jika dia boleh "melabeli dirinya sebagai lawyer, bukan attorney at law... dan memberikan analisis hukum", mengingat dia memiliki gelar Sarjana Hukum dan pengalaman di bidang hukum bisnis selama di China.

"Saya sangat berhati-hati dalam menjalankan ini," ujarnya.

Namun demikian, reaksi keras diberikan oleh Campaign for Accountability, sebuah organisasi etika politik, yang mendesak California Bar Association untuk melakukan penyelidikan terhadap Zacharia. Calfiornia merupakan wilayah asal Zacharia.

"Di California, menyebut diri sendiri sebagai pengacara tanpa memiliki lisensi bukanlah sekadar bualan, itu adalah tindak pidana," tegas Campaign for Accountability.

Simak juga Video 'Jubir Gedung Putih Mengundurkan Diri':

Halaman 2 dari 3
(kny/zap)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini