×
Ad

Singapura Luncurkan Subsidi Medis terkait Kabut Asap

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 12 Okt 2026 15:44 WIB
Situasi kabut asap di Singapura pada Senin (12/10) waktu setempat (AFP/ROSLAN RAHMAN)
Singapura -

Otoritas Singapura mulai memberlakukan subsidi untuk perawatan medis akibat kabut asap, yang menyelimuti negara tersebut, pada Senin (12/10) waktu setempat. Otoritas Malaysia memperpanjang penutupan sekolah-sekolah di wilayahnya juga akibat kabut asap.

Situasi tersebut, seperti dilansir AFP, Senin (12/10/2026), terjadi saat kedua negara berjuang menghadapi kualitas udara yang terus-menerus berada pada level tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Indonesia.

Menurut lembaga pemantau kualitas udara IQAir, yang berbasis di Swiss, Singapura kembali tercatat sebagai kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia, saat karhutla di Kalimantan dan Sumatra -- yang diperparah fenomena cuaca El Nino yang intens -- terus mengirimkan kabut asap ke negara tetangga Indonesia itu.

Karhutla itu menyebabkan kabut asap parah di wilayah Indonesia sendiri dan memicu puluhan ribu kasus gangguan pernapasan.

Di Singapura, pemerintah mulai menjalankan program subsidi pada Senin (12/1) waktu setempat, yang memungkinkan warga mendapatkan layanan kesehatan terjangkau untuk gangguan kesehatan akibat kabut asap.

Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan pada Minggu (11/10) malam bahwa subsidi tersebut mencakup penanganan kondisi medis, seperti "rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, penyakit paru obstruktif kronis, infeksi aluran pernapasan atas, dan komplikasinya".

Biaya perawatan medis dibatasi maksimal SG$ 10 (Rp 139 ribu) bagi sebagian besar warga Singapura yang memenuhi syarat, dan dibatasi maksimal SG$ 5 (Rp 69 ribu) bagi warga lanjut usia (lansia) yang berusia 67 tahun ke atas.

Terakhir kalinya Singapura mengaktifkan skema subsidi kabut asap adalah pada tahun 2015, ketika asap kebakaran hutan di Indonesia membuat Asia Tenggara diselimuti kabut asap beracun selama berminggu-minggu yang memicu lonjakan gangguan kesehatan.




(nvc/dhn)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork