Trump Komentari Demo Pelajar Ricuh di Prancis, Singgung Migrasi dan Islam

Trump Komentari Demo Pelajar Ricuh di Prancis, Singgung Migrasi dan Islam

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 07 Okt 2026 14:55 WIB
Presiden AS Donald Trump (dok. AFP/MANDEL NGAN)
Presiden AS Donald Trump (dok. AFP/MANDEL NGAN)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengomentari demo pelajar yang diwarnai kericuhan di Prancis, dengan nyaris 500 orang ditangkap. Tanpa memberikan bukti, Trump mengaitkan gelombang protes massal itu dengan migrasi dan Islam.

"Apa yang terjadi di Prancis tidak lain adalah migrasi massal yang tak terkendali," sebut Presiden AS itu dalam postingan media sosial Truth Social, seperti dilansir AFP, Rabu (7/10/2026).

"Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih sebuah negara yang dulunya hebat!" klaim Trump, tanpa memberikan bukti untuk mendukung pernyataannya itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para pelajar di Prancis memblokir akses masuk ke ratusan sekolah menengah di berbagai wilayah negara tersebut sejak akhir September lalu, untuk menuntut kondisi yang lebih baik di sekolah. Dalam aksinya, para pelajar itu memprotes fasilitas sekolah yang rusak dan kekurangan guru.

ADVERTISEMENT

Unjuk rasa tersebut sempat diwarnai bentrokan sporadis dengan aparat keamanan. Dalam aksi protes terbaru pada Selasa (6/10) waktu setempat, sekitar seperempat juta demonstran, atau sebanyak 250.000 demonstran, turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis.

Trump tidak merinci klaimnya atau pun memberikan bukti apa pun untuk mendukung pernyataannya itu.

Di Prancis, belum ditemukan adanya keterkaitan antara gerakan pelajar itu dengan tuntutan apa pun yang berbasis agama atau identitas.

Namun Trump dan pemerintahannya telah sejak lama menyalahkan migrasi atas berbagai masalah sosial di Eropa. Mereka menyerukan Eropa untuk menutup perbatasannya dan memperingatkan tentang apa yang mereka sebut sebagai kemunduran peradaban -- sejalan dengan partai-partai sayap kanan.

Demo pelajar di Prancis menuntut kondisi sekolah yang lebih baikDemo pelajar di Prancis menuntut kondisi sekolah yang lebih baik Foto: REUTERS/Abdul Saboor

Sejumlah tokoh terkemuka dalam gerakan Make America Great Again (MAGA) yang mendukung Trump, memanfaatkan unjuk rasa di Prancis untuk mempertegas argumen mereka mengenai isu migrasi menjelang pemilu sela AS bulan depan.

Para komentator pendukung MAGA berulang kali mengunggah video mengenai kerusuhan di Prancis, beberapa hari sebelum Trump memberikan komentarnya. Salah satu sekutu Trump, Glenn Beck, menyatakan bahwa: "Kerusuhan di Prancis merupakan peringatan nyata bagi dunia Barat lainnya."

"Hal ini akan terjadi di Amerika jika Partai Demokrat kembali berkuasa," klaim komentator sayap kanan, Dave Robin, sembari menyertakan rekaman video di sebuah stasiun kereta api di Prancis.

Macron Gelar Rapat Darurat Buntut Demo Pelajar Ricuh

Unjuk rasa memprotes kondisi sekolah menengah yang memprihatinkan di Prancis berujung pada kekerasan sporadis pada Selasa (6/10), yang mendorong Presiden Emmanuel Macron menggelar rapat darurat.

Di Paris dan kota-kota lainnya, para orang tua murid, guru, dan para anggota serikat kerja bergabung dengan gerakan pelajar sekolah menengah. Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan sebanyak 256.000 orang berpartisipasi dalam unjuk rasa secara nasional.

Sedikitnya 488 orang ditangkap dan 43 personel keamanan luka-luka dalam aksi protes yang diwarnai kericuhan pada Selasa (6/10) waktu setempat.

Macron dijadwalkan menggelar rapat dengan jajaran pejabat tinggi Prancis, termasuk Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez dan Menteri Pendidikan Edouard Geffray, pada Selasa (6/10) malam. Rapat darurat itu dimaksudkan untuk menanggapi situasi keresahan tersebut.

Laporan wartawan AFP menyebut unjuk rasa di Paris berlangsung relatif damai, sebelum ketegangan memuncak di dekat titik akhir rute longmarch di wilayah timur ibu kota Prancis itu, ketika polisi menembakkan gas air mata dan beberapa demonstran melemparkan batu ke arah polisi antihuru-hara.

Pihak kepolisian menyatakan bahwa "300 individu yang agresif" berupaya melakukan konfrontasi dengan petugas kepolisian. Namun kelompok-kelompok HAM, serikat pekerja, dan para pelajar menuduh otoritas berwenang menggunakan kekuatan yang berlebihan.

Salah satu pelajar yang ikut demo, Yanis (16), mengatakan para siswa merasa diabaikan sampai unjuk rasa berubah menjadi kekerasan. "Hal itu membuat kami merasa seolah-olah segalanya diselesaikan melalui kekerasan," ujarnya.

"Generasi Z telah bangkit dan ingin didengar," ucap demonstran pelajar lainnya, Lilia (19), saat berbicara kepada AFP di tengah unjuk rasa di pusat kota Paris.

Saksikan Live DetikSore:

Lihat juga Video: Demo Pelajar di Prancis Meluas, 400 Sekolah Ditutup

Halaman 2 dari 2
(nvc/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini