Kantor kepresidenan Korea Selatan menuntut penjelasan dan permintaan maaf dari Ukraina karena mengungkap informasi terkait pemindahan dua tawanan perang Korea Utara ke Korea Selatan. Korsel juga meminta Ukraina meminta maaf karena menyangkal adanya kesepakatan untuk merahasiakan pemindahan dua tawanan perang Korea Utara tersebut.
Dilansir AFP dan CNN, Senin (28/9/2026), insiden ini terjadi setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa negaranya telah mengirim dua tentara Korea Utara ke Selatan, seraya menambahkan bahwa mereka "tidak mudah ditangkap dalam keadaan hidup".
Beberapa jam kemudian, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengatakan di platform X, "Saya tidak tahu mengapa pihak Ukraina melanggar kesepakatan dan memublikasikan masalah ini, namun hal itu sangat mengecewakan."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Sekretaris Senior Kepresidenan bidang Hubungan Masyarakat Korsel, Seong Ghi-hong, menyesalkan kejadian tersebut. Ia mengatakan Korsel sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan terkait masalah ini jika diperlukan.
"Kantor kepresidenan menyatakan penyesalan mendalam atas tindakan sepihak Ukraina dalam mengungkap informasi tersebut serta pernyataan keliru mereka yang menyebutkan bahwa tidak ada kesepakatan kerahasiaan," ujar Seong.
Kantor Kepresidenan Korsel menyebut Ukraina telah berulang kali membahas pemindahan tawanan tersebut dengan Seoul melalui berbagai saluran dan meminta agar hal itu dirahasiakan. Sebab pengungkapan kepada publik terkait pemindahan tawaanan perang dapat memicu kritik di dalam negeri yang menuding Kyiv telah melewatkan kesempatan untuk menukarkan para tentara tersebut dengan tawanan perang Ukraina.
Korea Selatan setuju untuk merahasiakan pemindahan tersebut dengan mempertimbangkan aspek keamanan, diplomatik, dan kemanusiaan, termasuk keselamatan para tawanan dan keluarga mereka.
Namun, Ukraina kemudian mengungkap pemindahan itu dalam pidato Presiden Volodymyr Zelensky di hadapan Majelis Umum PBB tanpa konsultasi awal yang memadai. Mereka lalu menyangkal adanya kesepakatan kerahasiaan apa pun.
Seong mengatakan penyangkalan tersebut telah sangat merusak kepercayaan antara kedua pemerintah dan dapat membahayakan hubungan bilateral.
Kedutaan Besar Ukraina di Seoul tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Respons Rusia
Sementara itu, menanggapi hal ini, ajudan Zelensky, Dmytro Lytvyn, mengatakan Ukraina adalah "negara yang terbuka". Ukraina mengatakan akan terasa aneh jika menyerahkan para tentara tersebut secara diam-diam.
Simak juga Video: Seberapa Berbahaya Korea Utara Sebenarnya?










































