Bicara di Sidang PBB, Menlu Rusia Tuduh Eropa Hambat Perundingan Ukraina

Bicara di Sidang PBB, Menlu Rusia Tuduh Eropa Hambat Perundingan Ukraina

Arief Ikhsanudin - detikNews
Minggu, 27 Sep 2026 02:46 WIB
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berbicara dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di Markas Besar PBB, New York, pada 26 September 2026. (Foto: CHARLY TRIBALLEAU/AFP)
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berbicara dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di Markas Besar PBB, New York, pada 26 September 2026. (Foto: CHARLY TRIBALLEAU/AFP)Foto: AFP/CHARLY TRIBALLEAU
Jakarta -

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh Eropa menghambat upaya untuk menyelesaikan konflik di Ukraina. Dia mengatakan Eropa secara aktif berupaya menghambat perundingan yang didukung pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

"Eropa melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menggagalkan perundingan damai yang diinginkan pemerintahan Trump," kata Lavrov dalam pidatonya yang berapi-api di Majelis Umum PBB, seperti dilansir AFP, Sabtu (26/9/2026).

"Tujuan operasi militer khusus akan tercapai, ancaman terhadap keamanan Rusia akan dihilangkan dan kehidupan damai akan kembali. Ini akan terjadi apa pun keadaannya," tambahnya, menggunakan istilah Moskow untuk menyebut konflik tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan Rusia dan Ukraina menewaskan sedikitnya 16 orang dalam 24 jam terakhir, kata kedua negara pada Sabtu.

ADVERTISEMENT

Kyiv mengatakan serangan Rusia menewaskan sedikitnya enam orang, yakni di Sumy, Ukraina timur laut, Zaporizhzhia, dan wilayah Dnipropetrovsk. Seorang perempuan berusia 17 tahun termasuk di antara para korban.

Rusia mengatakan serangan Ukraina menewaskan empat orang di wilayah Krasnodar dan Belgorod. Sementara itu, pejabat yang dipasang Kremlin di wilayah Ukraina selatan yang diduduki Rusia mengatakan enam orang lainnya tewas dalam 24 jam terakhir.

Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan meningkatnya jumlah korban sipil dalam perang tersebut.

Awal pekan ini dalam Sidang Umum PBB, Trump kembali mengatakan kesepakatan antara Moskow dan Kyiv untuk mengakhiri perang "akan terjadi".

Namun, perundingan yang dipimpin AS untuk mengakhiri pertempuran belum menghasilkan terobosan. Kremlin juga berulang kali mengatakan pihaknya berniat merebut wilayah Ukraina timur yang masih dikuasai Kyiv.

Moskow meningkatkan serangan terhadap Kyiv ketika kota itu bersiap menghadapi musim dingin dalam kondisi perang. Sementara itu, Ukraina tahun ini menyerang lebih jauh ke dalam wilayah Rusia, hingga mencapai wilayah Ural dan Siberia.

Serangan pada siang hari di Kyiv pada Jumat menewaskan tujuh orang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Sabtu mengatakan Rusia "meningkatkan eskalasi setiap hari" dan menyerukan lebih banyak sanksi dari negara-negara sekutu terhadap Moskow.

"Mereka hanya ingin memusnahkan bangsa kami," kata warga Kyiv berusia 43 tahun, Oleksandr Gorlachov.

Menlu Rusia Bertemu Menlu Jerman

Sebelum berpidato, Lavrov bertemu Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul. Ini merupakan pertemuan pertama antara menteri luar negeri Moskow dan Berlin sejak sebelum perang.

Pertemuan tersebut berlangsung ketika ketegangan antara Berlin dan Moskow meningkat. Jerman menuduh Rusia mengatur upaya serangan drone terhadap Bandara Leipzig dan kedua negara masing-masing memerintahkan penutupan konsulat milik negara lain.

Sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, dalam beberapa hari terakhir menyuarakan kekhawatiran atas apa yang mereka sebut sebagai peningkatan aktivitas sabotase Rusia di wilayah mereka.

"Wadephul menyerukan Federasi Rusia untuk meninggalkan jalur eskalasinya yang berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan NATO," kata seorang diplomat Jerman.

"Dia menegaskan bahwa insiden seperti upaya serangan baru-baru ini di Leipzig atau serangan hibrida lainnya tidak akan menggoyahkan tekad Jerman untuk mendukung Ukraina," katanya.

"Upaya untuk meningkatkan tekanan ini tidak mengubah situasi Rusia yang tidak dapat dipertahankan: setiap bulan, puluhan ribu tentara Rusia tewas dalam perang posisi yang tanpa harapan, sementara ekonomi Rusia terus runtuh."

Lavrov terakhir kali bertemu dengan menteri luar negeri Jerman, Annalena Baerbock, pada Januari 2022, kurang dari sebulan sebelum pasukan Rusia menginvasi Ukraina. Jerman merupakan salah satu sekutu utama Kyiv.

Lavrov-menteri luar negeri Rusia yang paling lama menjabat-baru-baru ini menuduh Jerman "kembali menginginkan perang". Dia juga merupakan salah satu pejabat Rusia yang paling vokal menentang negara-negara Barat.

Dalam pidatonya di PBB, Lavrov juga melontarkan kritik keras terhadap Berlin.

"Reformasi Dewan Keamanan PBB tidak boleh mencakup pemberian kursi tambahan kepada negara-negara Barat, terutama Jerman dan Jepang, yang kini berada di jalur menuju militerisme."

(aik/aik)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini