Makin Banyak Wanita Rusia Pilih Melahirkan di Brasil, Kenapa?

Makin Banyak Wanita Rusia Pilih Melahirkan di Brasil, Kenapa?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2026 12:09 WIB
Semua perempuan di Brasil memiliki akses ke layanan kesehatan publik, terlepas dari status visa atau tempat tinggal mereka (Felipe Dana/AP Photo/picture alliance)
Semua perempuan di Brasil memiliki akses ke layanan kesehatan publik, terlepas dari status visa atau tempat tinggal mereka (Felipe Dana/AP Photo/picture alliance)
Moskow -

Yulia dan Dmitri, nama samaran untuk alasan keamanan, terbang dari Rusia ke Brasil musim panas ini agar anak mereka lahir di sana. Saat bepergian, Yulia tengah hamil 32 minggu.

"Tentu saja, kami tidak mengatakan bahwa saya hamil saat pemeriksaan di perbatasan," kata Yulia kepada DW.

Putri mereka lahir di sebuah klinik swasta di Santos, kota di bagian selatan Brasil. Siapa pun yang lahir di negara tersebut otomatis berhak memperoleh kewarganegaraan Brasil. Kini, keluarga itu tengah mengurus berbagai dokumen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami sudah mencapai tujuan minimum kami," kata Dmitri. Dengan paspor Brasil, putrinya dapat bepergian tanpa visa ke hampir semua negara di dunia. Ia juga tidak perlu mengajukan visa Schengen yang mahal dan membutuhkan waktu. "Kami ingin dia bisa menentukan sendiri di mana dia belajar, bekerja, atau tinggal."

Dmitri mengatakan seorang koleganya juga pergi ke Brasil pada awal Agustus bersama istrinya yang sedang hamil untuk alasan yang sama.

ADVERTISEMENT

Yulia dan Dmitri mengatakan mereka menghabiskan sekitar 10.000 euro atau sekitar 11.500 dolar AS selama enam minggu pertama di Brasil. Biaya tersebut termasuk perawatan putri mereka selama beberapa hari di ruang perawatan intensif. Dmitri bahkan berhenti dari pekerjaannya di sebuah bank untuk perjalanan tersebut dan berharap bisa kembali bekerja setelah keluarga itu pulang ke Moskow.

Namun, mereka baru akan kembali setelah seluruh dokumen putrinya selesai, yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Sementara itu, sejumlah keluarga Rusia lainnya memutuskan menetap di Brasil.

Menurut organisasi dan pengacara yang membantu warga Rusia di Brasil,jumlah imigran dari Rusia meningkat, terutama sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022. Setelah itu, sejumlah negara memperketat persyaratan visa bagi warga Rusia.

Argentina memperketat aturan visa

Wisata melahirkan ke Brasil juga meningkat setelah Argentina, yang sebelumnya menjadi salah satu tujuan utama bagi mereka yang ingin anaknya lahir di negara yang otomatis memberikan kewarganegaraan kepada bayi baru lahir, memperketat aturannya.

Kini, orang yang ingin anaknya memperoleh kewarganegaraan Argentina harus telah tinggal di negara tersebut setidaknya selama dua tahun. Sejak 2025, akses layanan kesehatan gratis bagi mereka yang tidak memiliki izin tinggal permanen juga dibatasi.

Menurut media Rusia RBC, lebih dari 7.000 warga Rusia mengajukan izin tinggal di Argentina pada 2023. Pada pertengahan 2025, jumlahnya turun menjadi sekitar 1.800.

Sementara itu, hampir 500 paspor Brasil diberikan kepada warga Rusia pada 2024, dan jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 600 pada tahun berikutnya. Lebih dari separuh warga baru tersebut adalah perempuan.

Dalam kondisi tertentu, orang tua dari anak yang lahir di Brasil dapat mengajukan izin tinggal dan memperolehnya dalam waktu satu tahun.

Yana, nama samaran, dan suaminya memilih jalur ini pada 2023.

"Peristiwa pada 2022 tentu berperan, tetapi kami sebenarnya sudah lama mempertimbangkan untuk melahirkan di luar negeri," kata Yana kepada DW. "Banyak hal bisa terjadi di Rusia. Saya selalu menginginkan paspor kedua dan ingin melahirkan anak saya di negara lain. Ketika saya tiba-tiba hamil, kami hanya perlu memutuskan negara mana yang paling masuk akal."

Yana melahirkan seorang putra di rumah sakit umum di Florianopolis, ibu kota negara bagian Santa Catarina di selatan Brasil. Keluarga tersebut kemudian tinggal di Brasil selama sekitar tiga tahun.

"Memperoleh paspor untuk kami dan anak kami sangat penting. Saya juga menikmati tinggal di sana dan belajar bahasa Portugis," kata Yana. Ia menambahkan bahwa selama bertahun-tahun ia dan suaminya hidup sebagai "digital nomad" di berbagai negara.

Meski kini tidak lagi tinggal di Brasil, mereka ingin putranya tetap memiliki hubungan dengan negara tempat ia lahir.

"Kami membaca buku berbahasa Portugis dan sering membicarakan Brasil. Saya ingin dia bisa bepergian tanpa visa dan tetap terbuka terhadap dunia."

Komunitas Rusia yang besar di Florianopolis

Salah satu komunitas Rusia terbesar di Brasil berada di Florianopolis dan terus berkembang. Menurut otoritas kesehatan setempat, 119 perempuan Rusia memanfaatkan layanan konsultasi kehamilan dalam enam bulan pertama tahun ini. Sepanjang 2025, jumlahnya mencapai 136 perempuan.

Seorang pengacara yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan kepada DW bahwa Brasil tidak secara tegas melarang maupun mengizinkan warga asing datang ke negara tersebut untuk melahirkan.

Perempuan hamil kerap tidak mengungkapkan alasan perjalanan mereka kepada petugas perbatasan. Setelah berada di Brasil, mereka dapat mengakses rumah sakit dan fasilitas kesehatan publik secara gratis, terlepas dari status imigrasi mereka.

Seiring meningkatnya wisata melahirkan warga Rusia ke Brasil, muncul pula industri jasa yang melayaninya. Para imigran Rusia yang baru tinggal di Brasil kerap menjadi perantara dan membantu pendatang lain mencari tempat tinggal atau layanan medis. Mereka juga membantu proses administrasi yang rumit serta kendala bahasa.

Tergantung jenis layanan yang diberikan, biayanya dapat mencapai ribuan dolar.

Namun, penyedia jasa, pengacara, dan relawan mengatakan otoritas Brasil kini memperketat pengawasan, terutama di kota-kota dengan komunitas Rusia yang besar seperti Florianopolis. Mereka mengatakan petugas meminta lebih banyak dokumen dibanding sebelumnya.

"Polisi melakukan pemeriksaan lebih menyeluruh untuk memastikan apakah orang tersebut benar-benar tinggal di alamat yang mereka cantumkan," kata seorang pengacara. Menurutnya, sebelumnya ada orang yang mencantumkan alamat palsu agar bisa lebih cepat memperoleh izin tinggal.

Tidak ada bukti Brasil secara sistematis menolak warga Rusia

Namun, DW tidak menemukan bukti bahwa warga Rusia secara massal ditolak masuk ke Brasil.

Pada akhir Juli, kanal Telegram Rusia Baza melaporkan bahwa 10 perempuan hamil "dideportasi" dari Brasil. Informasi tersebut kemudian diberitakan oleh sejumlah media.

Namun, kepolisian Brasil membantah laporan itu kepada DW. Menurut mereka, keputusan untuk menolak seseorang masuk ke negara tersebut selalu dibuat berdasarkan kasus per kasus dan kehamilan tidak menjadi pertimbangan dalam proses tersebut.

DW hanya menemukan satu kasus terdokumentasi mengenai perempuan Rusia yang sedang hamil dan awalnya ditolak masuk ke Brasil. Ia kemudian diizinkan masuk setelah seorang pengacara turun tangan.

Menurut dokumen pengadilan, petugas perbatasan Brasil mempertanyakan bagaimana perempuan tersebut akan membiayai hidupnya selama berada di Brasil.

Perempuan tersebut tidak menanggapi permintaan konfirmasi dari DW.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Cinta Zanidya

Editor: Yuniman Farid

Tonton juga video "Park Shin Hye Melahirkan Anak Kedua, Agensi: Ibu dan Bayinya Sehat"

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini