Psywar AS Vs Iran Semakin Menjadi-jadi

Psywar AS Vs Iran Semakin Menjadi-jadi

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 22 Sep 2026 07:18 WIB
Iran and US flags [CARLOS BARRIA/POOL/AFP via Getty Images]
Foto: Bendera AS dan Iran dok. CARLOS BARRIA/POOL/AFP via Getty Images
Jakarta -

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menemukan titik ujung. Kedua negara justru saling lempar ancaman terbaru.

Dirangkum detikcom, Selasa (22/9/2026), perseteruan kedua negara ini mulai memanas usai AS dan Israel melakukan serangan gabungan ke wilayah Iran pada 28 Februari silam. Serangan itu turut menewaskan Ali Khamenei yang saat ini menjabat Pemimpin Tertinggi Iran.

Saling adu serangan kemudian terjadi di antara AS dan Iran. Perang keduanya kemudian berimbas pada sejumlah negara di Timur Tengah hingga meluas ke penutupan akses Selat Hormuz.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa kali perundingan telah dilakukan untuk mencapai kesepakatan damai. Namun, upaya berbulan-bulan itu belum membuahkan hasil. Kini, pemimpin kedua negara tersebut saling menebar ancaman untuk kembali melakukan penyerangan.

ADVERTISEMENT

Trump Ancam Hal Besar Terjadi Jika Iran Berulah

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dirinya sedang dalam "mode pengambilan keputusan" yang krusial terkait situasi konflik dengan Iran. Trump memperingatkan bahwa "hal-hal besar" akan terjadi jika Teheran tidak mengubah perilakunya.

"Pertanyaannya adalah apakah dan kapan saya akan menghancurkan seluruh negara itu? Sebaiknya mereka (Iran-red) bersikap baik," kata Trump dalam wawancara terbaru dengan televisi terkemuka AS, Fox News, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (21/9).

Dalam wawancara yang disiarkan pada Minggu (20/9) waktu setempat itu, Trump menguraikan pilihan-pilihan yang dimilikinya saat ini.

Mulai dari melenyapkan Iran, kemudian membiarkan negara itu "membusuk" secara eknomi, hingga merundingkan kesepakatan.

"Hal-hal sangat besar akan terjadi dalam waktu dekat," ucap Trump dengan nada memperingatkan.

Ketika ditanya mengenai pekan tinggi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dimulai pada Senin (21/9) waktu setempat, Trump mengisyaratkan kesediaan untuk melakukan pendekatan secara diplomatik.

Dia bahkan menyebut "kemungkinan terbuka" untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang akan menghadiri langsung Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Sidang Majelis Umum PBB ke-81 akan digelar pada 18-28 September di markas besar PBB yang ada di New York AS, dengan agenda utama Debat Umum berlangsung pada 22-28 September.

Pemerintahan Trump mengizinkan delegasi Iran, termasuk Pezeshkian, untuk menghadiri forum dunia tersebut, namun dengan adanya pembatasan pergerakan dan larangan berbelanja selama berada di New York.

Iran Tak Gentar Ancaman Trump

Iran melontarkan peringatan terbaru terhadap Amerika Serikat (AS) jika melanjutkan operasi militer terhadap Teheran. Iran menegaskan bahwa setiap serangan AS akan memicu pembalasan yang berkelanjutan terhadap pangkalan dan kepentingan Washington di kawasan Timur Tengah.

Peringatan itu, seperti dilansir Al Arabiya dan Anadolu Agency, Senin (21/9), disampaikan setelah Angkatan Bersenjata Iran menerima informasi terbaru soal AS sedang bersiap untuk melanjutkan operasi tempur.

"Setiap serangan AS akan dibalas dengan serangan terus-menerus terhadap pangkalan dan kepentingan AS," demikian bunyi peringatan yang disampaikan Angkatan Bersenjata Iran.

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, yang menjadi pusat komando seluruh angkatan bersenjata Iran, mengatakan bahwa pihaknya telah menerima informasi yang mengindikasikan AS telah memutuskan untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

"Berdasarkan informasi yang diterima, Amerika yang kriminal sekali lagi telah memutuskan untuk melanjutkan langkah-langkah terhadap Iran, dengan lampu hijau dari sejumlah negara kawasan, dalam sebuah pertemuan gabungan di sebuah negara Eropa," sebut Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah IRIB.

Lebih lanjut, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa negara-negara kawasan akan dianggap "terlibat" jika mereka "berpihak pada agresi" AS.

"Kami memperingatkan jika negara-negara di kawasan ini -- dengan terus menerapkan kebijakan bermuka dua terhadap Republik Islam Iran -- berpihak pada agresi 'Setan Besar' terhadap Iran yang kuat dan berdaulat, maka mereka semua akan dianggap terlibat dalam tindak kejahatan ini dan tidak dapat lagi mengharapkan sikap menahan diri atau kesantunan dari Angkatan Bersenjata Iran yang tangguh," tegas Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya.

Ancang-ancang Pakai Senjata Terbaru

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa mereka akan menyerang target-target baru dan mengerahkan senjata baru, jika Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Teheran.

Selama hampir tujuh bulan konflik berlangsung, Teheran dan Washington masih terjebak dalam jalan buntu. Meskipun kedua negara tampaknya tidak ingin kembali ke perang berskala penuh.

"Jika terjadi agresi baru, kami tentu akan mengubah persenjataan dan cakupan wilayah perang," kata juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP dan Reuters, Senin (21/9)

Mohebbi menambahkan bahwa pasukan IRGC siap menghadapi "perang berkepanjangan". Dia juga menyatakan bahwa "pasti akan ada perubahan signifikan dalam pertahanan dan serangan balasan kami" jika terjadi serangan baru dari AS.

"Kami akan menghadirkan senjata-senjata baru dengan kemampuan baru di medan perang, dan dunia akan terkejut," cetusnya.

"Target-target kami juga belum tentu sama seperti sebelumnya. Kami memiliki target-target baru yang belum pernah diserang," ujar Mohebbi dalam pernyataannya.

Simak juga Video 'Selat Hormuz Masih Ditutup, Iran: Pesan-Syarat Kami ke AS Tegas':

Halaman 4 dari 3
(ygs/ygs)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini