Serangan kelompok pemberontak Houthi ke Riyadh, Arab Saudi menuai kecaman. Kecaman tersebut datang dari sejumlah pihak, salah satunya pemerintah Yaman.
Dirangkum detikcom, Minggu (20/9/2026), ledakan terdengar di Riyadh pada hari Sabtu (19/9/2026), waktu setempat setelah otoritas Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara menyusul ancaman serangan dari kelompok Houthi pro-Iran di Yaman. Pemerintah Yaman menilai serangan Houthi tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Saudi.
Kementerian Luar Negeri Yaman dalam keterangannya seperti dilansir Al Jazeera menganggap kelompok Houthi bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kemlu Yaman menambahkan, pihaknya "juga menganggap rezim Iran bertanggung jawab karena terus memberikan dukungan militer kepada kelompok itu dan memungkinkannya melanjutkan serangan demi kepentingan agenda regional Iran".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka juga menyatakan dukungan terhadap langkah apa pun yang diambil oleh Arab Saudi dan pasukan koalisi pimpinan Saudi untuk "menangkal serangan dan melindungi keamanan kerajaan".
Diketahui, Yaman bergabung dengan Mesir, Yordania, Bahrain, dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dalam mengecam serangan tersebut. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menerima dukungan militer dan koalisi yang berkelanjutan dari Arab Saudi.
Sementara itu, pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan kelompok pejuang Houthi yang didukung Iran menewaskan 48 orang dalam beberapa jam terakhir. Dilansir AFP, Minggu (20/9/2026), sumber militer pemerintah Yaman mengonfirmasi 17 prajuritnya tewas. Sementara itu, sebanyak 31 orang dari pihak Houthi juga dilaporkan tewas.
AS Imbau Warganya Waspada Berpergian ke Timur Tengah
Amerika Serikat (AS) mengimbau warganya yang berada di luar kawasan Timur Tengah mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke dan melalui kawasan tersebut. Peringatan tersebut dikeluarkan di tengah eskalasi Timur Tengah yang meningkat.
Dilansir Anadolu, Minggu (20/9/2026), melalui platform media sosial akun Travel.Gov, milik Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa warga Amerika di Timur Tengah harus meningkatkan kewaspadaan dan bersiap menghadapi kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, serta gangguan perjalanan.
"Akibat ketegangan di Timur Tengah, situasi keamanan tetap kompleks dengan potensi eskalasi yang tak terduga," demikian pernyataan tersebut.
Pihaknya memperingatkan kelompok Houthi yang didukung Iran telah melakukan tindakan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan yang melibatkan bandara sipil, dan menyatakan bahwa konflik tersebut "berpotensi meningkat dengan cepat."
Riyadh Jadi Target Serangan Houthi
Sebelumnya, ledakan terdengar di Riyadh pada hari Sabtu waktu setempat. Ledakan terdengar setelah otoritas Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara menyusul ancaman serangan dari kelompok Houthi pro-Iran di Yaman.
"Wilayah ini berada di bawah ancaman udara musuh," demikian bunyi pesan peringatan yang diterima oleh para penduduk di ibu kota Arab Saudi dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/9/2026).
Ini merupakan pertama kalinya ibu kota terdampak secara langsung sejak konflik di negara tetangga, Yaman, kembali memanas pada bulan Juli.
Kelompok Houthi di Yaman, pada Jumat (18/9) menyatakan bahwa Arab Saudi telah melancarkan 26 serangan ke wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali mereka dalam 24 jam terakhir, seiring sengitnya bentrokan antara kelompok pro-Iran tersebut dan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh dalam perang saudara yang kembali membara.
Kelompok tersebut menyebutkan bahwa jumlah serangan Arab Saudi kepada mereka telah mencapai 300 kali selama sepekan terakhir, dan menargetkan berbagai wilayah di Yaman yang dikuasai Houthi.
Saudi Cegat Serangan Rudal Balistik Houthi
Koalisi pimpinan Arab Saudi sebelumnya mengonfirmasi, sebuah rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke arah ibu kota telah berhasil dicegat dan dihancurkan pada Sabtu malam.
Koalisi menambahkan bahwa para pejuang pro-Iran tersebut telah mencoba menyasar "warga sipil dan infrastruktur sipil" di beberapa kota di wilayah barat kerajaan, termasuk pelabuhan Yanbu di Laut Merah, yang merupakan pusat ekspor penting bagi minyak Saudi.
Disebutkan bahwa serangan-serangan tersebut "digagalkan oleh sistem pertahanan udara kerajaan Teluk".
Arab Saudi telah merespons dengan melancarkan puluhan serangan udara ke wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi, namun gagal menghentikan laju pergerakan mereka.
Kelompok Houthi menyatakan telah merespons serangan Saudi baru-baru ini dengan melancarkan "dua operasi militer yang sukses menggunakan sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak (drone)," ujar juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dalam sebuah pernyataan di Telegram.
"Serangan pertama menyasar lokasi-lokasi vital di ibu kota Saudi, Riyadh, dan serangan kedua menargetkan fasilitas Aramco di Yanbu."










































