Dewan Gubernur dari 35 negara anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengadopsi resolusi yang secara resmi merujuk Iran ke Dewan Keamanan PBB atas "ketidakpatuhan" nuklirnya. Sebuah langkah diplomatik untuk menambah tekanan terhadap Teheran. Langkah ini merupakan yang pertama kalinya dalam kurun waktu 20 tahun.
IAEA yang merupakan badan pengawas nuklir PBB, tidak memiliki akses ke fasilitas-fasilitas nuklir utama di Iran sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan konflik 12 hari pada Juni 2025, yang mencakup serangan terhadap situs-situs nuklir Iran.
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Kamis (10/9/2026):
- Geger Iran Sita Drone Canggih AS, Akan Rekayasa Balik?
Otoritas Iran dilaporkan telah menyita sebuah drone bawah laut canggih milik militer Amerika Serikat. Penyitaan ini memberi Teheran kesempatan untuk mempelajari dan berpotensi melakukan rekayasa balik terhadap drone tersebut.
Drone tersebut merupakan Dive-LD, kendaraan bawah laut otonom atau AUV yang dirancang untuk misi pengawasan jarak jauh dan operasi bawah laut lainnya.
Iran diprediksi akan berusaha keras membongkar perangkat keras drone tersebut untuk mempelajari rahasia pembuatannya.
- Trump Janjikan Uang Rp 87 Juta per Orang Jika Republik Menang Pemilu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji akan memberikan uang sebesar US$5.000 (sekitar Rp 87 juta) kepada setiap warga Amerika dewasa, jika Partai Republik mempertahankan kendali Kongres dalam pemilu sela yang akan digelar pada November mendatang.
Trump menyampaikan janji tersebut saat menghadiri konvensi Partai Republik untuk pemilu sela di Dallas, Texas, Rabu (9/9) waktu setempat. "Jika Partai Republik menang, Anda menang bersama kami dan Anda mendapatkan US$ 5.000. Ini akan disebut dividen Trump," ujar Trump kepada para peserta konvensi, dilansir kantor berita Reuters dan AFP, Kamis (10/9/2026).
- Malone Lam, Otak Pencurian Bitcoin Rp 4,3 T Mengaku Bersalah di AS
Seorang pria Singapura mengaku bersalah atas dakwaan konspirasi pemerasan di Amerika Serikat karena mengorganisir salah satu pencurian mata uang kripto terbesar di dunia. Pria bernama Malone Lam tersebut mengakui telah bekerja sama dengan teman-temannya untuk mencuri bitcoin senilai US$249 juta (sekitar Rp 4,3 triliun).
(ita/ita)