Iran Tuding Netanyahu di Balik Isu Rencana Bunuh Putra Bungsu Trump

Iran Tuding Netanyahu di Balik Isu Rencana Bunuh Putra Bungsu Trump

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 29 Agu 2026 21:23 WIB
Barron Trump (Foto: Dok. AFP, Instagram)
Barron Trump (Foto: Dok. AFP, Instagram)
Jakarta -

Iran membantah laporan yang menyebut Teheran berencana untuk menargetkan Barron Trump, putra bungsu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dalam serangan. Otoritas Teheran mengecam laporan semacam itu sebagai propaganda rekaan.

Bantahan dan kecaman itu, seperti dilansir Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Sabtu (29/8/2026), disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, dalam pernyataannya pekan ini.

Rezaei juga menyebut laporan tersebut sebagai tipu muslihat Netanyahu, merujuk pada Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Klaim soal adanya rencana yang menargetkan putra Trump hanyalah kebohongan besar yang dirancang oleh Netanyahu, untuk menipu dan dan menakut-nakuti Presiden AS," sebut Rezaei dalam pernyataannya, seperti dikutip kantor berita ISNA.

WASHINGTON, DC - FEBRUARY 24: Barron Trump attends the State of the Union address during a Joint Session of Congress at the U.S. Capitol on February 24, 2026, in Washington, DC. Trump delivered his address days after the Supreme Court struck down the administration's tariff strategy and amid a U.S. military buildup in the Persian Gulf threatening Iran.   Andrew Harnik/Getty Images/AFP (Photo by Andrew Harnik / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)Barron Trump (Foto: Getty Images via AFP/ANDREW HARNIK)

Dia menegaskan bahwa Iran tidak memiliki niat untuk mengincar anggota keluarga Trump.

Bantahan Rezaei ini disampaikan setelah televisi pemerintah Iran baru-baru ini menayangkan video buatan AI yang memuat informasi mengenai tempat tinggal dan pergerakan Barron Trump di New York, AS.

Video, yang ditayangkan oleh televisi Iran Channel 3 itu, ditafsirkan secara luas sebagai ancaman pembunuhan terhadap putra bungsu Trump tersebut.

Ketegangan Iran dan AS Belum Reda

Ketegangan antara Iran dan AS tetap tinggi sejak konflik bermula dengan serangan skala besar dari Washington dan sekutunya, Israel, pada akhir Februari lalu. Teheran membalas dengan menargetkan posisi dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah.

Kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni lalu, menyusul mediasi oleh Pakistan dan Qatar, yang bertujuan mengakhiri permusuhan dan membuka jalan bagi negosiasi.

Namun, penerapan MoU tersebut menghadapi kendala, dengan Teheran menuduh Washington gagal memenuhi komitmennya. Pertempuran yang sempat terhenti pun kembali berkobar, setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Juli lalu.

Pernyataan Mojtaba Khamenei Usai Iran Dijerat Rentetan Sanksi Baru AS

Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei merilis pernyataan terbaru setelah negaranya dijatuhi rentetan sanksi terbaru Amerika Serikat (AS), yang dimaksudkan untuk meruntuhkan rezim Teheran. AS menjeratkan sanksi baru saat konflik dengan Iran semakin berlarut-larut, setelah upaya diplomasi terhenti.

Mojtaba dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir Anadolu Agency dan Press TV, Sabtu (29/8/2026), mencetuskan bahwa peningkatan ketergantungan pada produksi dalam negeri Iran dapat menjadi kunci untuk mengatasi masalah ekonomi Iran.

Dia juga menyerukan pengurangan secara bertahap atas peran dominan dolar Amerika dalam perekonomian negaranya.

Dalam pesan yang disampaikan untuk memperingati Pekan Pemerintah Iran, Mojtaba mendesak pemerintah memberikan perhatian serius terhadap berbagai tantangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang saling berkaitan, termasuk inflasi, pengangguran, pengendalian harga, dan pengaturan pasar barang dan jasa.

"Kunci utama untuk mengatasi semua persoalan ini terletak pada peningkatan ketergantungan terhadap produksi dalam negeri," cetus Pemimpin Tertinggi Iran tersebut.

Mojtaba menyerukan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan investasi dan mengarahkannya pada sektor-sektor yang bermanfaat dan penting, memacu produksi, secara bertahap mengurangi peran penting dolar, dan pada akhirnya menempatkan seluruh rangkaian kebijakan ekonomi perlawanan sebagai prioritas utama dalam agenda ekonomi pemerintah Iran.

Mojtaba yang belum muncul ke depan publik sejak menjabat pada awal Maret lalu, juga menekankan pentingnya memastikan pasokan barang kebutuhan pokok dan barang khusus yang memadai. Dia menambahkan jika produksi dalam negeri belum mencukupi, maka impor harus dimanfaatkan secara tepat dan bijak.

Menurut Mojtaba, upaya mendorong produksi dan mengelola impor serta harga dapat secara bertahap mengurangi titik-titik kelam dalam perekonomian Iran, hingga masalah tersebut hilang sepenuhnya.

Halaman 2 dari 2
(kny/jbr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini