Serangan drone Rusia menghantam sebuah gudang di dekat pinggiran barat Kyiv, ibu kota Ukraina. Serangan ini memicu kebakaran hebat dan rentetan ledakan, yang menewaskan sedikitnya 27 orang.
Keterangan jaksa Ukraina, seperti dilansir AFP, Sabtu (29/8/2026), menyebutkan bahwa gudang yang dihantam serangan drone Rusia itu diduga menyimpan "bahan peledak". Pihak kejaksaan Kyiv telah memulai penyelidikan atas dugaan kelalaian kriminal terkait situasi tersebut.
Para pejabat Ukraina tidak memberikan rincian mengenai jenis fasilitas yang dihantam serangan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baik Rusia maupun Ukraina telah meningkatkan serangan jarak jauh terhadap satu sama lain dalam beberapa bulan terakhir, yang memicu kebakaran dan memicu banyak korban jiwa sipil yang mencapai rekor.
Wartawan AFP melaporkan adanya kepulan asap hitam pekat menjulang dari area pinggiran barat Kyiv. Para pejabat setempat melaporkan bahwa fasilitas tersebut masih terbakar.
"Sangat disayangkan, berdasarkan situasi saat ini, diketahui ada 27 orang yang tewas. Dan angka ini mungkin belum final," kata Gubernur wilayah Kyiv, Tymur Tkachenko, dalam pernyataannya.
Di antara korban tewas terdapat kepala desa Dmytrivska, Taras Didych.
Otoritas Kejaksaan Ukraina telah mengumumkan dimulainya penyelidikan.
"Pada 28 Agustus, sekitar pukul 20.10 waktu setempat, sebuah kendaraan udara tak berawak... jatuh atau menghantam area sebuah perusahaan di kota Myla," demikian pernyataan kantor Kejaksaan Agung Ukraina, merujuk pada sebuah kota yang terletak di pinggiran barat Kyiv.
"Kebakaran besar terjadi di lokasi perusahaan tersebut, dan ledakan pun terjadi," imbuh pernyataan tersebut.
Kantor Kejaksaan Agung Ukraina menjelaskan bahwa penyelidikan akan berfokus pada "legalitas... penyimpanan objek dan bahan peledak di lokasi perusahaan", dan apakah perusahaan tersebut, yang tidak disebut namanya, memiliki "izin dan persetujuan yang diperlukan".










































