Tim penyelamat bergegas untuk menemukan lebih dari 1.300 orang yang hilang di perbatasan Nepal-Tibet akibat banjir bandang dan tanah longsor. Sejauh ini, bencana tersebut menewaskan sedikitnya 165 orang dan telah menyapu seluruh desa.
Banyak dari yang hilang tersebut adalah turis asing, kata para pejabat tentang bencana tersebut. Menurut Survei Geologi AS, bencana ini disebabkan oleh runtuhnya gletser yang mengirimkan aliran puing-puing yang menelan rumah-rumah di sepanjang jalan.
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Kamis (27/8/2026):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- AS Akan Pasok Korsel dengan Rudal Taktis, Korut Marah!
Pemerintah Korea Utara (Korut) marah dan mengutuk rencana Amerika Serikat untuk memasok Korea Selatan dengan rudal taktis dan mendanai proyek pemantauan hak asasi manusia. Korut bersumpah akan memberikan "tanggapan keras" terhadap apa yang digambarkan Pyongyang sebagai permusuhan Washington terhadapnya.
Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa mereka telah menyetujui kemungkinan penjualan rudal AIM-9X Sidewinder Block II dan peralatan terkait ke Korea Selatan, dengan perkiraan total biaya US$125 juta.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah Korut, KCNA, mengatakan bahwa "kita tidak dapat mengabaikan dampak buruk dari penjualan senjata AS ke Korea Selatan terhadap lingkungan keamanan regional".
- Bos CIA ke Rusia, Wanti-wanti Tidak Serang Negara NATO!
Direktur CIA John Ratcliffe melakukan kunjungan yang sangat tidak biasa ke Moskow, Rusia pekan ini. Kunjungan itu dilaporkan bertujuan untuk memperingatkan Rusia agar tidak menyerang negara-negara anggota NATO.
Demikian dilaporkan media-media AS pada hari Rabu (26/8) waktu setempat, setelah Presiden Donald Trump berusaha untuk mengecilkan arti kunjungan bos CIA tersebut.
Wall Street Journal dan CBS News melaporkan bahwa Direktur CIA bermaksud untuk mencegah Rusia menyerang anggota NATO, di tengah penilaian intelijen AS bahwa Moskow dapat berupaya menguji aliansi tersebut.
- 2 Pekerja Bandara Jerman Tewas Akibat Malaria dari Nyamuk di Pesawat
Dua pekerja di Bandara Frankfurt, Jerman meninggal dunia akibat penyakit malaria. Keduanya terinfeksi nyamuk yang diyakini tiba di Jerman melalui pesawat dari daerah endemik malaria, demikian pernyataan operator bandara Fraport dan otoritas kesehatan kota Frankfurt pada hari Rabu (26/8) waktu setempat.
Otoritas kesehatan kota Frankfurt mengatakan bahwa kematian pertama terjadi pada awal Juli. Disebutkan bahwa penyebabnya baru diketahui setelah pasien meninggal. Kematian kedua terjadi pada bulan Agustus.
Dilansir South China Morning Post, Kamis (27/8/2026), otoritas kesehatan kota Frankfurt mengatakan bahwa total enam pekerja bandara telah terinfeksi malaria tropika - bentuk penyakit malaria yang paling berbahaya - di tempat kerja mereka di Bandara Frankfurt. Empat orang lainnya yang terinfeksi kini pulih dengan baik dan semuanya telah dirawat, kata otoritas tersebut.
- Trump Yakin Mojtaba Khamenei Masih Hidup
Presiden Amerika Serikat Donald Trump meyakini bahwa pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei masih hidup. Mojtaba belum terlihat di depan umum sejak mengambil alih kekuasaan setelah kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei pada bulan Februari lalu.
"Saya rasa dia belum meninggal. Dia terluka parah. Sisi kiri tubuhnya, lengan, kaki, semuanya. Dia terluka parah. Tapi saya rasa dia belum meninggal," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan penyiar radio konservatif Glenn Beck, dilansir kantor berita AFP dan Al Arabiya, Kamis (27/8/2026).
Secara resmi, Khamenei terus memimpin negaranya di bawah serangan Amerika Serikat dan Israel. Namun, ketidakhadirannya di depan umum dan naiknya tokoh-tokoh veteran Garda Revolusi Iran ke tampuk kekuasaan, telah memicu spekulasi bahwa ia telah meninggal atau tidak sepenuhnya memegang kendali.
Baca juga: Trump Yakin Mojtaba Khamenei Masih Hidup |
- Total 1.300 Orang Hilang Usai Banjir Bandang di Nepal-Tibet
Tim penyelamat bergegas untuk menemukan lebih dari 1.300 orang yang hilang di perbatasan Nepal-Tibet akibat banjir bandang dan tanah longsor. Sejauh ini, bencana tersebut menewaskan sedikitnya 165 orang dan telah menyapu seluruh desa.
Banyak dari yang hilang tersebut adalah turis asing, kata para pejabat tentang bencana tersebut. Menurut Survei Geologi AS, bencana ini disebabkan oleh runtuhnya gletser yang mengirimkan aliran puing-puing yang menelan rumah-rumah di sepanjang jalan.
Gemuruh air dan lumpur seperti tsunami menghantam desa dan kota di jalur dua sungai -- Bhote Koshi dan Trishuli, dengan polisi Nepal mengatakan mereka telah menemukan 162 jenazah.
Tonton juga video "Trump: Kim Jong Un Tak Suka Biden-Obama, Tapi Dia Suka Saya"










































