AS Akan Pasok Korsel dengan Rudal Taktis, Korut Marah!

AS Akan Pasok Korsel dengan Rudal Taktis, Korut Marah!

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 27 Agu 2026 14:31 WIB
Ilustrasi bendera Korea Utara (Foto: Internet)
Ilustrasi bendera Korea Utara (Foto: Internet)
Jakarta -

Pemerintah Korea Utara (Korut) marah dan mengutuk rencana Amerika Serikat untuk memasok Korea Selatan dengan rudal taktis dan mendanai proyek pemantauan hak asasi manusia. Korut bersumpah akan memberikan "tanggapan keras" terhadap apa yang digambarkan Pyongyang sebagai permusuhan Washington terhadapnya.

Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa mereka telah menyetujui kemungkinan penjualan rudal AIM-9X Sidewinder Block II dan peralatan terkait ke Korea Selatan, dengan perkiraan total biaya US$125 juta.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah Korut, KCNA, mengatakan bahwa "kita tidak dapat mengabaikan dampak buruk dari penjualan senjata AS ke Korea Selatan terhadap lingkungan keamanan regional".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan itu juga mengkritik rencana Washington untuk memberikan jutaan dolar untuk program-program terkait hak asasi manusia dan aliran informasi ke Korea Utara.

Dilansir kantor berita AFP, Kamis (27/8/2026), juru bicara kementerian Korut tersebut mengatakan bahwa Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Tenaga Kerja Departemen Luar Negeri AS pekan lalu mengumumkan sebuah kompetisi terbuka bagi organisasi-organisasi untuk mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia di Korea Utara untuk "menantang monopoli informasi DPRK (singkatan nama resmi Korut)."

Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengecam "kegigihan dan rangkaian tindakan permusuhan AS" tersebut. Kementerian menggambarkan langkah-langkah terbaru itu sebagai ancaman keamanan yang berupaya "menciptakan ketidakstabilan dalam sistem sosial negara kita".

Korea Utara "akan memberikan tanggapan yang serius, segera, dan kuat terhadap tindakan permusuhan tersebut", kata pernyataan kementerian tersebut.

Presiden AS Donald Trump baru-baru ini melakukan serangkaian pendekatan kepada Pyongyang, termasuk memangkas latihan militer gabungan dengan Korea Selatan. Namun, sejauh ini mendapat tanggapan yang dingin.

Secara teknis, kedua Korea tersebut masih dalam keadaan perang karena perang tahun 1950-53 mereka, yang dipicu oleh serangan Korea Utara, berakhir dengan gencatan senjata dan bukan perjanjian perdamaian.

Simak juga Video Trump: Kim Jong Un Tak Suka Biden-Obama, Tapi Dia Suka Saya

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait