Iran Ancam Konsekuensi Bagi Negara yang Gabung Operasi Ekonomi AS

Iran Ancam Konsekuensi Bagi Negara yang Gabung Operasi Ekonomi AS

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 24 Agu 2026 18:07 WIB
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei (dok. via Reuters)
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei (dok. via Reuters)
Teheran -

Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan berbagai negara mengenai adanya "konsekuensi" jika mereka turut serta dalam operasi ekonomi Amerika Serikat (AS) terhadap negara tersebut. Otoritas Teheran menegaskan tekad untuk melawan sanksi-sanksi tersebut melalui kemampuan multilateral.

Peringatan untuk negara-negara yang bekerja sama dengan AS itu, seperti dilansir AFP dan Reuters, Senin (24/8/2026), disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

"Amerika, negara yang seharusnya datang untuk membantu rakyat Iran, justru menggunakan segala cara yang ada untuk menghukum rakyat Iran hanya karena satu alasan: karena keteguhan mereka dalam menolak tekanan terhadap kemerdekaan, kedaulatan nasional, dan martabat mereka," ucapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Terkait hal ini, peringatan yang diperlukan tentu telah dan sedang disampaikan, karena keterlibatan apa pun bersama Amerika dalam menjalankan tindakan agresifnya terhadap Iran, pasti akan membawa konsekuensi tersendiri," kata Baghaei dalam pernyataan terbarunya pada Senin (24/8).

"Iran akan memanfaatkan seluruh kemampuan multilateralnya untuk melawan sanksi-sanksi ekonomi tersebut," tegasnya.

Presiden AS Donald Trump, pekan lalu, mengumumkan "operasi ekonomi paling melumpuhkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun". Dia menggambarkan tekanan maksimum terhadap Iran sebagai "perang dan isolasi ekonomi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Presiden AS itu juga memperingatkan bahwa negara mana pun yang "memberikan bantuan penyelamatan dalam bentuk apa pun" kepada Iran, maka akan menghadapi "konsekuensi ekonomi yang SANGAT BERAT".

Sementara Menteri Keuangan (Menkeu) AS, Scott Bessent, telah memperingatkan negara-negara pihak ketiga agar tidak melanjutkan hubungan komersial dengan Teheran. Dia bahkan mendesak para pembeli internasional, terutama China yang merupakan importir minyak mentah terbesar Iran, untuk menghentikan pembelian atau berisiko menghadapi sanksi sekunder dan hukuman finansial.

Dalam pernyataannya, Bessent mengisyaratkan bahwa AS akan menargetkan "negara-negara yang diliputi ketakutan", yang disebutnya menerapkan kebijakan "menenangkan" dengan menjalin hubungan ekonomi dan sistem keuangan bersama Iran. Namun dia tidak merinci langkah-langkah spesifiknya.

Sementara Iran, dalam tanggapannya, mengecam ancaman sanksi AS tersebut sebagai "terorisme ekonomi" dan mengatakan bahwa sanksi semacam itu "pasti akan gagal". Teheran juga merilis pernyataan keras yang mengisyaratkan kemungkinan adanya respons militer berskala besar.

Simak juga Video 'Trump Ancam Beri Sanksi Ekonomi ke Negara yang Bantu Iran':

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini