Terancam Sanksi AS Terkait Iran, China Buka Suara

Terancam Sanksi AS Terkait Iran, China Buka Suara

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 24 Agu 2026 17:24 WIB
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian (dok. Reuters)
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian (dok. Reuters)
Beijing -

China memperingatkan bahwa sanksi dan taktik tekanan tidak akan menyelesaikan konflik, saat Amerika Serikat (AS) mengancam sanksi terhadap Iran dan negara-negara lainnya yang menjadi mitra dagang Teheran.

Otoritas Beijing bertekad untuk "melindungi" kepentingannya di tengah ancaman sanksi Washington tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (24/8/2026), mengatakan bahwa sanksi dan taktik tekanan yang dikerahkan AS hanya akan "memicu eskalasi" konflik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Eskalasi tidak menguntungkan siapa pun," ucap Lin mengingatkan, saat berbicara dalam kepada wartawan di Beijing.

"China menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk bertindak secara rasional dan menahan diri, dan menghindari langkah apa pun yang dapat semakin meningkatkan ketegangan atau berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi global dan stabilitas keuangan," cetusnya.

Lin menjawab pertanyaan wartawan mengenai langkah pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi terhadap Iran dan negara-negara yang menjadi mita dagangnya, di tengah konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah.

Lebih lanjut, Lin mendesak pihak-pihak yang berkonflik untuk "kembali ke jalur yang benar dalam penyelesaian politik melalui dialog dan negosiasi sesegera mungkin".

"China akan memantau dengan saksama, perkembangan situasi terkait dan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan sah kami," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri China itu.

Trump, pekan lalu, mengumumkan "operasi ekonomi paling melumpuhkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun". Dia menggambarkan tekanan maksimum terhadap Iran sebagai "perang dan isolasi ekonomi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Presiden AS itu juga memperingatkan bahwa negara mana pun yang "memberikan bantuan penyelamatan dalam bentuk apa pun" kepada Iran, maka akan menghadapi "konsekuensi ekonomi yang SANGAT BERAT".

Menteri Keuangan (Menkeu) AS, Scott Bessent, telah memperingatkan negara-negara pihak ketiga agar tidak melanjutkan hubungan komersial dengan Teheran. Dia bahkan mendesak para pembeli internasional, terutama China yang merupakan importir minyak mentah terbesar Iran, untuk menghentikan pembelian atau berisiko menghadapi sanksi sekunder dan hukuman finansial.

Sementara Iran, dalam tanggapannya, mengecam ancaman sanksi AS tersebut sebagai "terorisme ekonomi" dan mengatakan bahwa sanksi semacam itu "pasti akan gagal".

Lihat juga Video 'Trump Ancam Beri Sanksi Ekonomi ke Negara yang Bantu Iran':

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait