Netanyahu Bertekad Cegah Iran Punya Senjata Nuklir

Netanyahu Bertekad Cegah Iran Punya Senjata Nuklir

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Kamis, 06 Agu 2026 08:16 WIB
Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu arrives for a press conference in Jerusalem on March 19, 2026. Netanyahu said on March 19 that Israel and the US were winning the war against Iran, with the Islamic republic decimated and unable to enrich
Foto: Benjamin Netanyahu (AFP/RONEN ZVULUN).
Jakarta -

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan kemungkinan mengambil tindakan militer di tengah proses negosiasi kesepakatan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik. Netanyahu bertekad Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir

"Hari ini kita mendengar komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi, menyatakan bahwa Iran bermaksud untuk terus mengembangkan senjata nuklir," kata Netanyahu dilansir Anadolu Agency, Kamis (6/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Netanyahu menyebut tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Netanyahu lalu menyebut AS sebagai sekutu terbesar Israel.

"Sebagai perdana menteri Israel, saya bertekad untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir," tambahnya.

Diketahui sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan bahwa upaya mediasi antara AS dan Iran telah mencapai tahap lanjut. Kata dia, kedua pihak saling bertukar draf proposal.

Berbicara pada konferensi pers mingguan kementerian, Al-Ansari mengatakan upaya terus dilakukan dengan semua pihak untuk mencapai solusi diplomatik.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran yang, menurut otoritas Iran, menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran merespons dengan serangan terhadap negara-negara di kawasan yang menampung aset-aset AS.

Pada bulan Juni, Qatar bergabung dengan Pakistan sebagai bagian dari tim mediasi antara Washington dan Teheran, yang berujung pada penandatanganan nota kesepahaman pada tanggal 18 Juni dan dimulainya negosiasi menuju kesepakatan akhir.

Pembicaraan kemudian terhenti karena perbedaan pendapat terkait keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Antara tanggal 8 Juli dan 24 Juli, ketegangan kembali meningkat ketika AS melakukan serangan terhadap Iran, yang mendorong Teheran untuk menargetkan apa yang mereka sebut sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara Arab, khususnya Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Tonton juga video "Netanyahu Tolak Draf Kesepakatan Damai AS untuk Gaza!"

(whn/yld)


Berita Terkait