Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump buka suara perihal ramainya kabar bahwa negaranya mulai kehabisan amunisi di tengah perang dengan Iran. Donald Trump membantah kabar tersebut.
Dirangkum detikcom, Kamis (6/8/2026), persoalan amunisi ini sudah sempat mencuat pada 26 Juli 2026 lalu. Saat itu, memang AS tiba-tiba menghentikan serangan setelah 13 hari berturut-turut menggempur Iran.
Saat itu, berdasarkan laporan The New York Times dan Axios, Trump disebut telah memutuskan untuk menunda rencana menyerang Iran. The Times, mengutip pejabat pemerintahan Trump, mengatakan keputusan presiden tersebut diambil di tengah kekhawatiran bahwa peningkatan perang dapat "secara berbahaya menguras persediaan pencegat rudal Patriot dan amunisi pertahanan udara lainnya di Timur Tengah yang sudah menipis".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Trump Yakin Bisa Segera Berdamai dengan Iran |
Dikatakan bahwa keputusan tersebut menyusul pertemuan antara Trump, para penasihat utamanya, dan anggota senior kabinetnya pada hari Jumat lalu.
Dikatakan bahwa keputusan Trump "mencerminkan kesediaannya untuk memberikan lebih banyak ruang bagi diplomasi dan pengakuan bahwa tanpa kembali ke operasi tempur besar-besaran, tingkat serangan AS saat ini telah mencapai batas efektivitasnya".
Laporan itu mengutip sumber-sumber yang mengatakan bahwa militer AS sedang mempersiapkan rencana untuk kemungkinan kembali ke operasi tempur besar-besaran.
Pasokan Amunisi AS Disebut Mengkhawatirkan
Selang beberapa hari, kabar tersebut semakin menguat. Pasokan amunisi Amerika Serikat (AS) bahkan dilaporkan semakin menipis hingga ke level yang "mengkhawatirkan" akibat perang melawan Iran.
Para komandan senior militer AS, seperti dilansir Anadolu Agency dan Reuters, Rabu (5/8), mengakui bahwa pasokan amunisi AS semakin menipis. Sedangkan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk menyuarakan kekhawatiran mengenai kekurangan sistem pertahanan udara.
Laporan media terkemuka AS, CNN, menyebutkan bahwa militer AS telah menggunakan hampir 80 persen dari stok rudal pencegat dan sekitar separuh dari rudal Patriot sejak perang dengan Iran dimulai pada akhir Februari lalu.
Mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut dan berdasarkan penilaian inventaris terkini, CNN melaporkan bahwa para komandan senior AS secara pribadi menggambarkan cadangan amunisi keseluruhan Pentagon berada pada tingkat yang "sangat rendah hingga level berbahaya".
Disebutkan juga bahwa kekurangan pasokan sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), yang sebelumnya tidak dilaporkan, semakin menambah kekhawatiran yang sudah ada terkait pasokan rudal Patriot.
Menurut laporan tersebut, Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa sebelum perang meletus, Washington memiliki sekitar 2.200 unit varian rudal Patriot paling modern dan 452 rudal THAAD.
Negara-negara Teluk yang bergantung pada sistem pertahanan udara pasokan AS, sebut laporan CNN itu, telah memperingatkan bahwa kekurangan tersebut dapat melemahkan kemampuan mereka dalam mencegat rudal dan drone Iran, terutama jika mereka menghadapi serangan balasan menyusul serangan AS.
Laporan serupa dari Reuters, yang mengutip tiga sumber yang mengetahui data itu, menyebutkan bahwa militer AS telah menggunakan sebagian besar pasokan rudal jarak jauh akurasi tinggi selama perang lima bulan melawan Iran.
Rudal jarak jauh yang dimaksud mencakup rudal darat-ke-darat jenis Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). Menurut dua sumber yang dikutip Reuters, AS telah menggunakan "hampir semua" persenjataan tersebut.
Menipisnya pasokan rudal presisi jarak jauh secara drastis itu berarti Trump mungkin harus lebih mengandalkan misi pengeboman berawak yang lebih berisiko, jika dia kembali melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran.
Trump Membantah
Saat diminta tanggapan mengenai laporan menipisnya pasokan amunisi AS tersebut, Gedung Putih merilis pernyataan dari Trump yang menyampaikan bantahan.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa AS memiliki "jauh lebih banyak amunisi dibandingkan pihak mana pun di dunia" dan "jauh melebihi kebutuhan kita".
"Saat ini, perusahaan-perusahaan pertahanan kita memproduksi amunisi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus memperluas pabrik dan peralatan mereka hingga mencapai tingkat rekor," kata Presiden AS tersebut.
Tonton juga video "Trump Beri Peringatan Terakhir untuk Iran Sebelum 'Dipenggal'"










































