5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 03 Agu 2026 17:01 WIB
Aung San Suu Kyi (Foto: REUTERS/Ann Wang/File Photo)
Aung San Suu Kyi (Foto: REUTERS/Ann Wang/File Photo)
Jakarta -

Pemimpin demokrasi Myanmar yang ditahan, Aung San Suu Kyi, bertemu dengan perwakilan Palang Merah negara itu pada hari Senin (3/8), setelah bertahun-tahun tak terlihat. Ini merupakan pertemuan publik pertama antara Suu Kyi dan pejabat asing sejak dia digulingkan dalam kudeta militer tahun 2021.

"Arnaud de Baecque, Perwakilan Tetap Komite Internasional Palang Merah (ICRC) untuk Myanmar, bertemu dengan Daw Aung San Suu Kyi pagi ini," demikian pernyataan dari kantor presiden Myanmar, dilansir kantor berita AFP, Senin (3/8/2026).

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Senin (3/8/2026):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

- Usia 80 Tahun, Presiden Brasil Maju Nyapres 4 Periode

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengumumkan kembali pencalonan dirinya sebagai presiden untuk pemilu pada Oktober mendatang. Lula da Silva yang memutuskan maju capres untuk periode keempat di usia 80 tahun ini, menegaskan dirinya dalam "kondisi prima".

Keputusan Lula da Silva kembali maju capres ini, seperti dilansir AFP, Senin (3/8/2026), diumumkan pada Minggu (2/8) waktu setempat, saat tekanan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang membayangi kampanyenya.

Sebagai tokoh besar kelompok sayap kiri Amerika Latin, Lula da Silva mengincar masa jabatan keempat sekaligus yang terakhir, dengan kampanyenya memposisikan dirinya sebagai sosok pemimpin yang bisa diandalkan di masa penuh gejolak dan benteng pertahanan terhadap kebangkitan kelompok sayap kanan jauh di tingkat global.

- Sempat Bungkam, Israel Buka Suara soal Kesepakatan Gaza

Pemerintah Israel akhirnya buka suara mengenai kesepakatan Gaza yang dipuji oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, setelah kelompok Hamas mengatakan telah menyetujui perlucutan senjata. Kantor Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan kekhawatirannya soal kesepakatan tersebut.

"Israel telah menyampaikan komentar dan kekhawatirannya tentang kerangka kerja yang diusulkan kepada rekan-rekan Amerika kami. Versi yang telah dipublikasikan tidak mencerminkan posisi Israel," kata Doron Spielman, juru bicara kantor Netanyahu, seperti dikutip kantor berita AFP, Senin (3/8/2026).

Ia mengatakan bahwa intelijen Israel telah menemukan bahwa Hamas telah mempersenjatai kembali dan merekrut pasukan sejak gencatan senjata yang diumumkan oleh Trump pada bulan Oktober lalu, yang telah mengurangi tingkat kekerasan meskipun Israel terus melakukan serangan.

- Hamas Soal Kesepakatan Gaza: Bukan Penyerahan, Tapi Pengumpulan Senjata

Kelompok Hamas menyatakan bahwa kesepakatan yang baru diumumkan untuk mengakhiri perang Gaza hanya mencakup pengumpulan senjata berat milik kelompoknya. Hamas menegaskan bahwa pengumpulan senjata itu bukan berarti kelompoknya meninggalkan perlawanan.

Perwakilan Hamas di Iran, Khaled Qaddoumi, seperti dilansir Press TV, Senin (3/8/2026), menjelaskan pandangan kelompok yang bermarkas di Jalur Gaza itu terhadap kesepakatan yang baru diumumkan, yang oleh berbagai laporan media internasional digambarkan sebagai kesepakatan "perlucutan senjata Hamas".

Qaddoumi menyebut kesepakatan baru itu merupakan proses bersyarat yang dipimpin oleh pihak Palestina, dengan ketentuan bahwa rezim Israel harus memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan tersebut.

- Netanyahu Kini Diabaikan Trump, Benarkah?

Mantan Perdana Menteri (PM) Israel Ehud Barak menyebut PM Israel Benjamin Netanyahu kini diabaikan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Barak menilai sikap Trump yang "tidak lagi" terlalu memedulikan Netanyahu, mengkhawatirkan bagi Tel Aviv.

Barak menyinggung kerangka kerja baru terkait Jalur Gaza, yang disebutnya meminggirkan Israel, dan keputusan Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran, yang sebelumnya dilaporkan akan dilancarkan bersama-sama dengan Israel.

"Bahasa dalam kesepakatan itu sangat ambigu, namun arah umumnya jelas. Israel dan tuntutannya telah diabaikan," kata Barak, yang menjabat PM Israel periode tahun 1999-2001, dalam wawancara dengan media Israel KAN, seperti dilansir Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Senin (3/8/2026).

- Bertahun-tahun Tak Terlihat, Suu Kyi Akhirnya Muncul

Pemimpin demokrasi Myanmar yang ditahan, Aung San Suu Kyi, bertemu dengan perwakilan Palang Merah negara itu pada hari Senin (3/8), setelah bertahun-tahun tak terlihat. Ini merupakan pertemuan publik pertama antara Suu Kyi dan pejabat asing sejak dia digulingkan dalam kudeta militer tahun 2021.

"Arnaud de Baecque, Perwakilan Tetap Komite Internasional Palang Merah (ICRC) untuk Myanmar, bertemu dengan Daw Aung San Suu Kyi pagi ini," demikian pernyataan dari kantor presiden Myanmar, dilansir kantor berita AFP, Senin (3/8/2026).

Militer Myanmar menggulingkan Suu Kyi pada Februari 2021, memenjarakan peraih Nobel Perdamaian tersebut dan memicu perang saudara yang masih berlangsung.

Lihat juga Video: Terpopuler Sepekan: Tendangan Kungfu di Piala Soeratin-Staf KPK Kena OTT

Halaman 3 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait