Iran Mencak-mencak ke AS Perkara Jual Minyak

Iran Mencak-mencak ke AS Perkara Jual Minyak

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 24 Jul 2026 06:21 WIB
A drone view shows vessels in the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, June 15, 2026. (File photo: Reuters)
Foto: Selat Hormuz (dok. Reuters)
Jakarta -

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus memanas. Kini, ketegangan itu terjadi karena perkara jual minyak.

Sebagaimana diketahui, Garda Revolusi Iran mengatakan pihaknya menghentikan tiga kapal tanker minyak yang mencoba melewati Selat Hormuz. Insiden itu terjadi di kala Amerika Serikat dan Iran saling bersaing untuk mengendalikan jalur vital tersebut.

"Tiga kapal tanker minyak, yang diprovokasi dan digoda oleh tentara Amerika yang membunuh anak-anak, mencoba melewati rute yang dipasangi ranjau di selatan Selat Hormuz," kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh media pemerintah Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir AFP dan Aljazeera, Kamis (23/7), IRGC menyebut sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terbakar usai meledak saat melintas di lepas pantai Oman. Namun dua kapal lain dengan cepat berbalik arah setelah ledakan tersebut.

"Tetapi setelah salah satunya meledak dan terbakar, dua lainnya dengan cepat berbalik dan kembali," kata pernyataan tersebut.

Namun pernyataan IRGC tersebut tidak menyebutkan kapan insiden itu terjadi. Iran menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendalinya, IRGC mengancam kapal yang mencoba melintas tanpa berkoordinasi akan bernasib sama.

"Angkatan Laut IRGC yang kuat menekankan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali kami... dan kapal mana pun yang tertipu oleh AS dan bermaksud untuk melewatinya tanpa koordinasi dengan Republik Islam Iran akan mengalami nasib yang sama," imbuh Garda Revolusi.

Trump Ancam Iran

Presiden AS Donald Trump kembali memberikan ancaman terhadap Iran. Trump menyatakan militernya akan membom infrastruktur sipil Iran setiap kali Teheran menembaki kapal di Selat Hormuz.

"Setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik itu dengan rudal, roket, drone, atau perangkat atau senjata lainnya, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan SATU JEMBATAN ATAU PEMBANGKIT LISTRIK," tulis Trump di media sosial miliknya, Truth Social, seperti dilansir AFP, Rabu (22/7/2026).

Hingga saat ini, ketegangan antara Iran dan AS terus memanas. Terbaru, Iran melaporkan serangan rudal AS menghantam wilayahnya.

Laporan kantor berita Iran, Tasnim, menyebutkan serangan rudal AS menghantam Pulau Larak di Selat Hormuz pada sore hari waktu setempat. Laporan tersebut menyatakan bahwa penduduk mendengar ledakan keras di wilayah tersebut.

"Pada pukul 14.48, Pulau Larak menjadi sasaran rudal Amerika," tulis Tasnim.

"Pihak berwenang saat ini sedang melakukan penyelidikan untuk menentukan skala serangan, titik dampak yang tepat, dan tingkat kerusakan yang mungkin terjadi," lanjut laporan tersebut.

Iran Tegaskan Soal Jual Minyak

Sementara itu, Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga negosiator utama Teheran, kembali menegaskan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang.

Ghalibaf secara terang-terangan memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa tidak akan ada negara di kawasan Timur Tengah yang dapat menjual minyak, jika Iran dihalangi untuk melakukannya.

Dia juga memperingatkan bahwa tidak akan ada yang aman di kawasan, jika keamanan Teheran tidak terjamin.

Dalam pernyataan terbaru via media sosial X, seperti dilansir Anadolu Agency dan Al Arabiya, Kamis (23/7/2026), Ghalibaf mengatakan bahwa konflik ini telah menjadi situasi "all or nothing", yang berarti "semuanya atau tidak sama sekali".

"Persamaan dalam perang ini sudah jelas: semuanya atau tidak sama sekali!" kata Ghalibaf dalam pernyataannya.

"Di kawasan di mana kami tidak dapat menjual minyak, tidak akan ada pihak lain yang akan menjual minyak," ucap Ghalibaf dengan nada memperingatkan.

Iran Peringatkan AS

Ghalibaf, dalam pernyataannya, juga memperingatkan jika keamanan Iran tidak terjamin, maka "tidak ada infrastruktur yang akan tetap aman".

"Jika keamanan kami tidak terjamin, tidak akan ada infrastruktur yang aman, dan selat tersebut hanya akan aman jika tidak ada kehadiran pasukan Amerika," ujarnya, merujuk pada Selat Hormuz.

"Kami telah berulang kali menegaskan bahwa situasi di selat tersebut tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang," tegas Ghalibaf.

Simak juga Video 'Trump Bilang Iran Ingin Buat Kesepakatan: Tapi Mereka Belum Siap':

Halaman 2 dari 4
(rdp/rdp)


Berita Terkait